The Guy Next Door

Buku 'The Guy Next Door'Terima kasih untuk Toko Buku Gramedia di Jalan Slamet Riyadi, Solo, yang sudah beberapa minggu ini menggelar program buku murah. Saya jadi bisa membeli buku-buku chicklit hanya dengan sepuluh ribu rupiah tiap bukunya:) Yah, meski judul-judul chicklit yang masuk buku murah ini sudah terbilang lawas, tapi tak mengapa. Toh bagi saya yang penting bisa membaca dan memilikinya, tanpa perlu terpancang buku itu termasuk buku keluaran terbaru atau tidak.

Salah satu buku yang baru saja kelar saya baca berjudul The Guy Next Door karangan Meggin Cabot. Mag Cabot ini merupakan pengarang seri remaja tenar, Princess Diaries. The Guy Next Door yang dialihbahasakan menjadi ‘Pria Impian di Sebelah Rumah’ ini, cukup menghibur untuk dibaca kala waktu luang.

Seperti halnya seri chicklit lain yang tidak perlu sampai mengernyitkan dahi untuk memahami ceritanya, buku ini juga terbilang ringan. Meski dibumbui cerita kriminal, namun fokus utama cerita ini tetaplah pada kisah asmara dua tokoh utamanya, Melissa Fuller dan John Trent.

Melissa Fuller adalah gadis dari kota kecil Lansing, Illionis yang hijrah ke Manhattan, NY dan berprofesi sebagai Page Ten columnist di surat kabar New York Journal. Kehidupannya mendadak berubah setelah tetangga kamar di apartemennya yang sudah tua, janda, namun kaya, Mrs. Friedlander, ditemukannya tergeletak tak sadarkan diri. Karena tetangganya itu hidup seorang diri dan koma di rumah sakit, maka Mel terpaksa merawat hewan-hewan piaraan Mrs. Friedlander. Akibatnya, Mel sering kena tegur bosnya gara-gara sering terlambat masuk kantor dan kurang fokus dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

John Trent adalah konglomerat wartawan kriminal surat kabar New York Chronicle, pesaing utama NY Journal. Meski bekerja sebagai wartawan, namun John sebenarnya adalah cucu dari salah satu konglomerat ternama di New York.

Ada tokoh-tokoh lain di cerita ini seperti sahabat Mel, Nadine Wilcock dan tunangannya Tony Salerno, juga rekan-rekan kerja Mel lainnya di NY Journal. Sementara di sisi John, ada keluarganya serta sahabat lama, Max Friedlander, yang juga merupakan keponakan satu-satunya Mrs. Friedlander.

John yang memiliki ‘utang’ pada Max diminta Max untuk berpura-pura menjadi dirinya dan tinggal di apartemen milik sang bibi. Karena tak bisa menolak, John terpaksa memenuhi permintaan Max. Sejak saat itu Max alias John dan Mel menjadi dekat. Keduanya saling jatuh cinta karena memiliki banyak kesamaan.

Namun disaat hubungan keduanya tengah ‘on fire’ he he he rahasia John terkuak. Mel jelas marah pada John yang dianggap membohonginya selama ini. Akankah Mel memaafkan John, dan siapa sebenarnya pelaku kejahatan terhadap Mrs. Friedlander?

Buku setebal 558 halaman dengan warna kover oranye ngejreng ini ditulis dengan ‘gaya bahasa’ email. Di awal-awal membaca saya sempat merasa bosan dengan gaya ’email’ di buku ini. Tapi secara keseluruhan, okelah dibaca untuk mengisi waktu luang.

Pengarang: Meggin Cabot
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 558
Cetakan pertama, Juni 2003

Advertisements