Cerita dari Checkpoint

Tulisan kali ini masih menyambung cerita perjalanan tiga menara (pinjem ‘bahasa’nya teman) lalu. Saya pernah menulis bahwa beberapa hari sebelum berangkat, saya diserang kekuatiran menjurus pada ketakutan. Ada beberapa hal yang membuat saya gelisah. Dari sekian hal, proses di keimigrasian-lah yang paling membuat saya kuatir. Takut ditolak masuk karena hanya membawa duit pas-pasan! ha ha ha…

Kenapa bisa begitu? Saat membuat itinerary saya rajin browsing mencari berbagai info. Di saat itulah saya menemukan beberapa postingan di blog-blog atau pun situs yang menceritakan pengalaman susahnya masuk ke negara tetangga, khususnya negara yang diawali dengan huruf M itu. Apalagi jika jalan masuknya melalui Johor Bahru, yang berbatasan langsung dengan Singapura. Banyak yang ditolak tanpa alasan yang jelas plus mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari para petugasnya.

Dari yang saya baca di blog-blog itu kadang tampang yang menurut mereka kurang menyakinkan (meski bawa uang banyak) ditolak. Kalau tampang sudah kurang meyakinkan begitu, perlakuan yang diterima jadi tidak menyenangkan. Dompet, tas bawaan digeledah, ditanya macam-macam seperti bawa uang berapa, berapa lama di negara itu, mau apa disana, tapi ujung-ujungnya juga ditanya kita ini TKI atau bukan. So what kalau TKI?! Bikin panik aja nih imigrasi Johor Bahru.. Jangan-jangan mereka bakal menolak saya masuk hanya karena tampang saya yang lugu plus ketauan kalau bawa duit ngepas.. 😦

Uang saku cekak juga membuat saya kuatir apakah bisa lolos dari pintu masuk Singapura di Bandara Changi. Hampir sama dengan yang di atas, saya juga sempat mendengar selentingan-selentingan yang mengatakan jika masuk ke Singapura ntar ditanya bawa duit berapa. Alamaaak, lha tambah panas dinginlah diri ini he he he.. Tapi dalam hati saya yakin Singapura tak akan bakalan lebih kejam dibanding negara M itu. Apalagi masuk ke Thailand. Seingat saya, saya belum pernah mendapat kabar ada WNI yang kesulitan masuk negara Gajah Putih itu. So, masuk via Johor Bahru-lah yang menjadi fokus saya.

Saya sempat curhat ke teman seperjalanan soal kekuatiran ini. Saya ingat saat itu bilang padanya kita perlu rencana cadangan kalau sampai ditolak masuk di Johor Bahru. Tapi jawaban teman saya cukup simpel. “That’s challenge!” Gubraak.. Berasa keder, saya menyiapkan plan B berupa ke KL via pesawat dari Singapura, atau langsung ke Thailand tanpa ke KL (agak ndak niat juga sebenarnya ke KL). Setelah saya browsing sebenarnya tiket pesawat ke KL relatif tak begitu mahal (Tiger Airways atau JetStar), tapi tetap saja, it’s beyond our low budget wkakakwkak.. Setelah aku pikir-pikir akhirnya saya menyerah. Let’s do it. Come what may! Hayah… 🙂

Akhirnya datanglah hari H. Masuk Singapura di imigrasi Bandara Changi oke. Antri sebentar, dan cuma ditanya: baru sekali kesini? berapa lama disini? That’s it. Wah legaa. Saking leganya saya sempat minta permen ma mbak petugasnya (gak nyambung). Keluar Singapura dari Woodlands juga lancar, cuma diminta menyebut nama lengkap saja.

Usai urusan keluar Singapura, naaah ini dia yang saya ‘tunggu-tunggu’..: Momen masuk negara M di checkpoint Johor Bahru. Asli badan ini mendadak panas dingin.. Gedung imigrasi ‘Bangunan Sultan Iskandar’ yang guede dan luas semakin sukses membuat deg-degan. Dalam hati, apakah para petugas bakal mengenali wajah panik saya ini? Saya berpikir daripada nanti ditolak hanya karena berwajah ‘takut’ mending saya pasang tampang ‘sok’ saja. Sok pede maksudnya. Saya lantas memilih antrian yang petugasnya punya wajah ramah. Aha, pilihan saya tidak salah. Petugas cowok yang masih muda ini memang terbilang ramah. Sempat kesulitan membaca nama lengkap saya, dia tidak ‘aneh-aneh’. Pertanyaannya waktu itu terbilang standar; baru pertama kesini?, dalam rangka apa?, dengan siapa?, berapa lama?, dan mau nginep dimana waktu di KL? Lega selega-leganya.

Hanya saja, kelegaan saya tak berlangsung lama. Setelah paspor saya yang masih bersih itu diketok cap masuk, saya dan teman berniat keluar dari ruangan itu. Entah karena masih gemetar kuatir, atau saking leganya, kami salah keluar. Tulisan ‘Exit’ di sebelah kanan yang saya tunjukan pada temanku ternyata bukanlah pintu keluar bagi orang yang sudah selesai berurusan dengan imigrasi masuk. Sebaliknya, kami justru masuk dalam ruangan yang diperuntukan untuk proses imigrasi keluar dari negara M. Aduuuh… Mana semua mata tertuju pada kami. Saya lihat ada pintu di sebelah kiri kami. Kami pun menuju kesana. Ternyata pintu tersebut tak bisa dibuka alias dikunci.

Usaha saya membuka pintu menarik perhatian para petugas. Lantas datanglah seorang ibu petugas ke arah kami. Matilah kami. Bayangan bakal menghadapi proses berat itupun langsung datang hiks.. Dengan grogi saya menjelaskan kesalahan saya hingga bisa terjebak di ruangan itu. Nampaknya nasib baik sedang berpihak pada kami. Ibu petugas itu tak banyak menanyai kami dan akhirnya dengan kartu dan pin-nya, dia membukakan pintu bagi kami. Bahkan ia sempat memberi petunjuk jalan ke arah mana kami harus berjalan untuk menuju bus yang akan membawa kami ke Terminal Larkin. Matur nuwun Bu! hehehe amaaann! Seketika semua kekuatiran yang saya rasakan hilang. Lega. Keluar dari negara M ini pasti tak akan menakutkan, sama dengan masuk Thailand.

Ternyata itu benar. Saat kami keluar dari negara M, paspor kami dicap di Bkt. K.H. Changloon. Tak ada kesulitan apapun. Yang menjemukan hanya menunggu giliran di dalam bus selama hampir satu jam. Antrian panjang bus-bus juga masih terjadi ketika memasuki wilayah Thailand di Sadao. Di pagi hari, bus-bus dari negara M menuju Hatyai dan berbagai kota lain di Thailand memang padat karena datang dengan waktu yang hampir bersamaan. Turun dari bus kami kembali menemui antrian panjang.

Kantor imigrasi di Sadao tidaklah sementereng kantor imigrasi di Johor Bahru atau Woodlands. Bahkan bangunannya terkesan mirip terminal. Disini saya bahkan tak ditanyai satu pertanyaan pun. Hanya diminta melihat ke arah kamera yang ada di loket imigrasi. Sepertinya bapak petugasnya pusing melihat antrian yang panjang dan tak kunjung selesai. Dia sempat  (seperti) ngomel pada rekan kerjanya, yang saya artikan kira-kira begini; “Wah antriannya panjang banget. Mana aku belum sarapan dan ngupi-ngupi. Kapan selesainya ya bro?”  Hahaha jelas ngayal secara saya ndak mudeng sama sekali bahasa Thai xixixi…

Well, akhirnya semua berjalan lancar sampai kami keluar dari Phuket menuju kembali ke Tanah Air tersayang. Saya bisa melewati enam imigrasi tanpa ditanyai pertanyaan yang pastinya bakal membuat panik saat menjawabnya; “Kamu bawa uang berapa?”  Hee he he..I was so lucky.. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Cerita dari Checkpoint

  1. …finaly gak enek sing aneh2 to bu,,,the key is think positive dan pasang senyum lebar plus ngomongnya pake bahasa engris gen ketok terpelajar…xixixi

    Like

Comments are closed.