Enaknya jadi Wisatawan Mandiri Amatiran

Amatiran disini bisa diartikan karena saya baru sekali merasakan menjadi wisatawan mandiri atau yang dalam bahasa gaul sering dikatakan sebagai independent traveler. Jadi, bisa dibilang saya masih belum banyak memiliki pengalaman terkait kunjungan ke luar negeri. Bahkan saya masih dalam taraf pemula yang amat pemula xixixi.. Tapi, ini tidak menyurutkan saya untuk menuangkan pengalaman melalui tulisan ini. Semoga saja bermanfaat bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan mandiri pertamanya terutama ke Singapura, KL, dan Phuket, agar tak lagi ragu-ragu. 🙂

dengan AA, kini siapapun bisa terbang (ke luar negeri:-)

Banyak orang bilang pengalaman pertama selalu berkesan. Entah berkesan baik atau sebaliknya buruk. Untung saja pengalaman jalan keluar negeri pertama saya cukup menyenangkan. Ini semua tak lepas dari persiapan matang yang kami lakukan sejak tiga bulan sebelum kami berangkat pertengahan April lalu.

Saya dan seorang teman cewek memutuskan untuk menjadi wisatawan mandiri ketimbang mengikuti program tur yang ditawarkan agen perjalanan. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami. Namun yang terutama, jalan sendiri’ lebih murah costnya daripada ikut tur wakakwkaqw..

Disinilah enaknya menjadi wisatawan mandiri. Namanya juga mandiri, kami merencanakan semuanya sendiri disesuaikan dengan bujet yang kami miliki. Mulailah kami menyusun itinerary sedetil mungkin. Bagi saya, menyusun itinerary menjadi hal yang mengasyikan. Memilih dan membooking hostel sendiri, mengatur waktu ke lokasi-lokasi wisatanya, termasuk transportasi apa yang ingin kami gunakan.

bisa ngambil air mineral dan duduk di kursi pijat for free.. 🙂

Setelah mengalami perubahan hingga beberapa kali, final itinerary akhirnya jadi juga. Meski semua sudah siap, tetap saja saya merasakan kekuatiran. Yah namanya juga baru kali pertama ke luar negeri.

Bayangan-bayangan buruk yang mungkin bisa terjadi selama kami disana timbul tenggelam di benak saya (halah lebai). Dengan modal nekad, kami pun berangkat.

Ternyata selama disana kami hampir tidak menjumpai kesulitan. Kekuatiran yang sempat saya rasakan tidak terbukti. Semuanya lancar hingga kami bisa menjalankan itinerary kami. Terima kasih untuk kota-kota yang kami singgahi yang memperlakukan wisatawan (asing) dengan baik.

Sarana dan prasarana yang kami temui disana sangatlah membantu kami yang berstatus independent traveler with low budget ini:-) Transportasi aman, nyaman, modern, serta tak terlalu membingungkan rute-rutenya. Peta sebagai petunjuk jalan dan arah mudah kami dapatkan. Tourist information juga gampang ditemukan dan para petugasnya selalu siap memberi informasi dengan ramah. Keramahan juga kami peroleh dari penduduk lokal yang mau menjawab dengan tuntas setiap pertanyaan kami (dengan bahasa inggris ala kadarnya) tatkala kami salah jalan he he he…

Selama disana uang yang dikeluarkan terutama untuk transportasi juga tak berbeda jauh dengan itinerary. Itu berarti, tak ada penggelembungan maupun penipuan yang dilakukan agen bus, agen minivan, sopir taksi, dan tukang ojek terhadap kami. Harga tiket semua sesuai dengan informasi yang kami peroleh melalui internet. *Jadi pingin sedikit membandingkan dengan disini. Kalo disini, kemungkinan besar mereka melihat dua cewek dari negara lain dengan wajah polos nan lugu cenderung kebingungan, mesti sudah dilebih-lebihkan tuh harga-harganya:'(

peta KL di Changkat Bukit Bintang

Transportasi menjadi hal penting karena kami memilih menggunakan transportasi massal seperti bus, MRT, monorail, dan  ‘angkot’ daripada taksi sebagai moda selama perjalanan kami kali ini. Perjalanan singkat (di dalam kota) maupun perjalanan  menggunakan bus dengan jarak tempuh lama  (sekitar 5-7 jam) kami lalui dengan aman dengan pelayanan tak mengecewakan.

Well mungkin saja kemudahan ini kami dapatkan karena kota-kota yang kami kunjungi ini merupakan kota tujuan wisata dari wisatawan seluruh penjuru dunia. Sebagai kota tujuan wisata, sudah pastinya mereka membekali diri dengan fasilitas terbaik bagi para wisatawan. Masyarakatnya, terutama yang berkaitan langsung dengan dunia pariwisata, seperti pengelola hostel tempat kami menginap, penjual cinderamata (tempat kami membeli sedikit oleh2), dan pemilik warung makan  terlihat menyadari bahwa kota mereka hidup salah satunya dari kunjungan wisatawan. Mereka juga ingin memberi pelayanan yang terbaik sehingga lebih banyak lagi wisatawan datang yang pada akhirnya akan menguntungkan mereka sendiri.

peta.. map.. peta..

Meski tak sama persis, perlakuan ini secara keseluruhan kami dapatkan di enam kota di tiga negara yang kami kunjungi selama tujuh hari. Jadi bagi  yang berencana melakukan perjalanan mandiri ke Sin-JB-KL-Hatyai-Patong-Phuket untuk kali pertama, tak perlu ragu lagi.  Over all, aman, tak ribet, dan tentunya menyenangkan.

Setibanya di kampung halaman, saya membayangkan, bagaimana rasanya menjadi wisatawan asing mandiri di Tanah Air. Dengan bujet pas-pasan, pengalaman traveling ke negara orang yang minim, akankan kota-kota di Indonesia mampu memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan seperti ketika saya melakukan perjalanan pertamaku yang lalu?
*huhuhu merindu kondisi pariwisata Indonesia yang lebih baik dari sekarang..*

Note

(tak ada gading yang tak retak) -Di terminal Larkin, Johor Bahru, suasananya mirip terminal-terminal disini. Banyak calo setengah memaksa menawarkan tiket-tiket.. wakakakkkwk-

Advertisements

2 thoughts on “Enaknya jadi Wisatawan Mandiri Amatiran

Comments are closed.