Posted in Petualangan Kuliner

Cerita dari Dua Akau di Tanjung Pinang: Sup Ikan dan Kena Usir

Banyak kota di Tanah Air yang berstatus sebagai melting pot alias kuali peleburan yang berisi berbagai ras, budaya, dan etnis. Salah satu bentuk asimiliasi dan akulturasi budaya itu bisa dilihat dari peninggalan fisik berupa arsitektur bangunan.

Namun, jangan kesampingkan pula perihal makanan atau kuliner yang muncul bersamaan dengan meleburnya berbagai ras, budaya, dan etnis itu. Masing-masing hadir dengan kekhasan masing-masing. Tanjung Pinang bisa jadi salah satu lokasi tepat untuk menikmati beragam kekhasan kuliner sebagai dampak keragaman ras, budaya, serta etnis yang hidup berdampingan dengan harmonis. Ada makanan dengan sentuhan cita rasa Melayu, Tiongkok, India, bahkan perpaduan dari rasa itu . Semuanya menggelitik lidah untuk dicicipi.

Kuliner yang sayang dilewatkan bila berada di Tanjung Pinang di antaranya, otak-otak, sup ikan, dan mie lendir. Semakin menarik karena kekhasan itu tidak hanya bersumber dari rasa masakan saja, tetapi juga konsep jualan yang sudah turun-temurun sesuai tradisi.

Sop ikan di akau Potong Lembu yang mantap

Seperti halnya di Banda Aceh, di beberapa titik Kota Tanjung Pinang, seperti misalnya di Jalan Merdeka, banyak dijumpai kedai kopi vintage lengkap dengan menu makanan khas Melayu. Tanjung Pinang juga sangat terkenal dengan akau. Continue reading “Cerita dari Dua Akau di Tanjung Pinang: Sup Ikan dan Kena Usir”

Posted in Jalan-jalan

Sepenggal Siang bersama Penguasa Trikora Menawan

“Tetapi, Indonesia bukan hanya Jakarta,” kata Iwan Fals. Selain Jawa, negara ini masih memiliki tujuh belas ribu pulau lainnya. Hati bisa ciut jika melihat fakta betapa luasnya republik ini. Luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari timur ke barat. Jarak dari utara ke selatan sekitar 1.300 mil. Jika dibandingkan, luas kepulauan ini sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah. Jumlah itu menandakan kekayaan bangsa ini. Begitu kaya, bukan? Ah, bukankah pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, saya tak bisa menghindarinya. Dengan menghindarinya, justru seperti menutupi kenyataan. Setidaknya, dengan mengungkap terus-menerus fakta bahwa kita memang kaya, walaupun terlihat sangat cerewet, akan membangkitkan semangat kita untuk menengok kembali Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta pada Indonesia. Berkali-kali.

Saya yakin, saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang memiliki perasaan yang sama. Maka, tentu tak aneh bila ada banyak orang yang berhasrat  mengelilingi Indonesia. Mengembara. “Berkelana,” kata Rhoma Irama. Mereka bermimpi dan ingin tahu bagaimana wajah Indonesia yang sebenarnya. Menyusuri perjalanan dari Sabang hingga Merauke. Keindahan, juga kegetiran, Nusantara akan melekat dalam benak orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. Begitu pun saya.”

Nukilan itu saya ambil dari buku Meraba Indonesia karya Ahmad Yunus dan Farid Gaban, yang nyaris selalu saya bawa ke mana-mana. Secara spesifik, apa yang dituliskan Ahmad Yunus dalam dua paragraf itu sangat mengena. Pas dan cocok dengan apa yang saya rasakan; mengapa saya suka mencari waktu berkelana. Untuk ukuran saya yang baru melihat segelintir dari Indonesia, kata “berkelana atau menjelajah” mungkin tak pas. Tapi, Anda pasti tahu yang saya maksud.

Maka, ketika saya berada di suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dengan lautan membentang luas tak berkesudahan, saat saya memacu motor menyusuri jalanan asing dan sepi, hati ini rasanya sudah luar biasa gembira. Simply peaceful.

Kondisi itulah yang sepenuhnya saya rasakan kala menyambangi Trikora. Pantai ternama yang berada 45 kilometer sebelah timur kota Tanjungpinang. Continue reading “Sepenggal Siang bersama Penguasa Trikora Menawan”

Posted in obrolan ringan

A Night of Reunion with Boyzone: demi Masa yang Menyenangkan

Pada suatu masa yang bila di bumi bernama Selasa, seorang pria sedang mengamati kehidupan di bumi. Karena pria itu berada di surga, ia bisa melihat semua yang diinginkannya di segala penjuru bumi dari tempat indah itu.

Perhatian pria itu lantas tertuju pada seorang wanita yang terlihat aneh. Wanita itu duduk di kantin yang tak begitu ramai sambil memegangi sebuah telepon seluler. Mata wanita itu berkaca-kaca, tetapi tak kuasa menangis. Di saat bersamaan, wanita itu tersenyum kegirangan.

Karena pria itu berada di surga yang indah, dia tahu alasan wanita itu seperti itu. Pria itu tersenyum sambil berkata, “Boyzone, boyband saya di bumi, akan menggelar konser lagi di Jakarta. Wanita itu, yang duduk gelisah tapi antusias di sana, fan berat kami saat dia remaja. Berita ini cukup mengejutkannya.”

Pria itu, Stephen Gately. Jadi, tentu saja ia tahu wanita itu penggemar berat boyband-nya, Boyzone.

Saat sedang mengamati wanita itu, seorang lain, wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan nimbrung. “Ya, di masa remajanya dia memang tergila-gila dengan kalian. Orangtua wanita itu sampai kewalahan menghadapinya,” kata ibu itu, tiba-tiba, sambil menunjuk si wanita di bumi itu.

Belum sempat pria itu bereaksi atas perkataan si ibu, wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan itu, melanjutkan ucapannya.

“Setiap kali kaset baru Boyzone beredar, wanita itu pasti mendesak orangtuanya ke Yogyakarta demi membeli kaset itu. Suatu ketika, wanita itu mengajak kedua orangtuanya menonton film yang katanya ada lagu soundtrack-nya dari Boyzone. Orangtuanya melihat anak gadisnya yang makin gelisah karena lagu yang ditunggunya itu tak muncul-muncul. Ketika film usai, barulah lagu itu muncul sebagai pengiring credit title. Orangtua itu hanya bisa “mengejek” sang anak. Demi inikah kamu mengajak kami nonton film sampai berkilo-kilometer jauhnya?” ujar sang bapak.

Wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan itu meneruskan perbincangannya dengan pria itu di surga yang indah.

“Entah berapa uang yang orangtua itu keluarkan untuk mewujudkan keinginan sang anak berlangganan majalah dan surat kabar. Belum lagi wanita itu juga kerap membeli majalah secara eceran, meminta tambahan uang saku untuk main internet demi mendapatkan berita terbaru soal Boyzone.”

“Bahkan wanita itu di masa remajanya mendesak orangtuanya memasang parabola demi bisa menyaksikan siaran MTV. Apalagi bila bukan demi menonton video klip Boyzone,” imbuh wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan itu.

“Orangtua wanita itu harus bersabar dengan tingkah-polah anaknya yang suka histeris sendiri bila menyangkut Boyzone. Orangtua wanita itu bersabar menghadapi anaknya yang suka nyetel kaset, televisi, dan radio dengan suara keras tiap kali lagu Boyzone diputar. Anak itu menuntut orangtuanya memahami kegilaannya mulai hal kecil.”

Pria itu, yang bersebelahan dengan ibu itu di surga yang indah, hanya tersenyum sambil memandangi wanita yang ada di bumi itu. Wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan itu kembali melanjutkan ucapannya.

“Puncaknya, wanita itu di masa remajanya, nekat meminta orangtuanya mengizinkan dan membiayainya nonton konser Boyzone di Surabaya. Orangtua anak itu sempat terkejut karena permintaan itu bukan permintaan yang bisa dituruti begitu saja. Ada banyak hal yang terlibat di dalamnya dan jadi pertimbangan. Sang bapak pada awalnya tak setuju dengan kegilaan anaknya yang makin menggila, tapi akhirnya luluh karena si anak bergeming. Sang ibu hanya bisa berharap anaknya yang menginjak remaja itu mendapatkan kebahagiaan dengan nonton konser boyband favorit sang anak di tempat yang belum pernah di datangi sebelumnya. Akhirnya, keinginan remaja itu terwujud. Orangtua wanita itu melepas sang anak di stasiun kereta api dengan pandangan cemas. Sang anak melambaikan tangan penuh kegembiraan karena hendak menjemput impian; menonton konser boyband idola.”

“Entah apa si anak itu tahu pengorbanan yang dilakukan orangtuanya selama itu. Tapi, saat ini saya yakin dia paham,” kata ibu itu kepada pria itu, sambil memandangi wanita di bumi itu.

Keduanya tersenyum saling berpandangan penuh arti, dan kembali memandangi wanita di bumi yang duduk di kantin dengan gelisah itu. Wanita menjelang usia senja yang anggun dan begitu keibuan itu, ibu wanita yang sedang duduk di kantin di bumi itu.

Seorang wanita lain bergabung dengan pria dan ibu itu di surga yang indah.

“Aaah, dia pasti senang sekali Boyzone konser lagi,” ujar wanita muda itu sambil mengarahkan pandangannya ke wanita yang mulai beranjak ke kantor dari kantin itu.

“Saya tahu karena sayalah yang bersamanya nonton konser Boyzone di Surabaya,” kata wanita itu kepada ibu dan pria itu di surga yang indah.

Tentu, tanpa diberitahu pun, ibu dan pria di surga yang indah itu sudah tahu. Tanpa menunggu reaksi lagi, wanita muda di surga yang indah itu melanjutkan ucapannya.

“Saya dan wanita di bumi itu berteman dari SMP. Kami bersekolah di sekolah sama hingga SMA. Kami berbagi kegemaran sama, menggilai boyband sama; Boyzone. Ya, meski kami menyukai personel yang berbeda,” katanya sambil melirik pria bernama Stephen Gately yang ada di sebelahnya itu.

“Kami mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama dalam kegilaan masa remaja,” ungkap wanita di surga indah itu.

Di dalam kantor, wanita itu melanjutkan tugasnya. Tetapi, fokus wanita itu sudah ke mana-mana. Dalam sebuah pesan singkat, wanita itu menuliskan perasaannya pada seorang sahabatnya.

“Konser ini bukan konser biasa. Konser Boyzone ini membawa saya ke masa yang menyenangkan. Tak sekadar nostalgia mendengarkan lagu era 90-an, tak hanya mengingat masa kegilaan sewaktu tumbuh di pertengahan 90-an, tapi lebih dari itu. Konser ini menghadirkan kembali masa-masa indah dengan band idola, dengan ibu, dan sahabat, yang kini sudah berada di surga indah.”

 

Epilog
Back Again, No Matter What. Dengan semua yang terjadi di Boyzone, mereka kembali lagi ke Jakarta. Mereka kembali lagi untuk wanita di kantin itu, demi masa yang menyenangkan.
*Rest in Peace Ibuk tersayang, Widya terkasih, dan Stephen Gately. I miss you. This story is for you.

Posted in Jalan-jalan

Pulau Penyengat yang Benar-benar Menyengat

Masjid berwarna kuning tampak berpendar keemasan diterpa cahaya mentari yang bersinar terik. Saya dan rombongan lain, ada yang merupakan penduduk lokal, ada pula wisatawan seperti saya, sedang berada di atas perahu bermotor atau yang dalam bahasa lokal disebut pompong. Kami hendak menuju ke Pulau Penyengat.

Panas mentari di sepanjang perjalanan membuat masjid yang terlihat itu bak fatamorgana. Muncul-menghilang dalam pandangan saya. Namun, hal itulah yang membuat kesabaran saya menipis. Saya ingin segera menjejakkan kaki di pulau yang tergolong kecil, berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter ini, yang termasyhur dengan kekayaan sejarah, politik, dan budayanya itu.

Pulau Penyengat pantang dilewatkan bila sedang berada di Tanjung Pinang. Dari pusat kota, hanya butuh sekitar 20 menit untuk menyeberangi lautan menggunakan pompong. Biaya sekali jalan hanya Rp6000 (akhir Maret 2014). Continue reading “Pulau Penyengat yang Benar-benar Menyengat”