Puncak Suroloyo-Sendangsono

lumayan bikin berkeringat

lumayan bikin berkeringat

Puncak Suroloyo. Kali pertama saya mendengar tentang objek wisata itu, saya sempat kesulitan membayangkan seperti apa ‘bentuknya’, kecuali dari namanya yang terdengar seperti tempat bernuansa mistis dan angker. Maklum saya belum pernah punya referensi apapun terkait Puncak Suroloyo ini kecuali dari bapak yang dengan semangat 45 mengajak kesana.

Demi menuntaskan rasa penasaran, dan juga menjadi anak yang baik hehe (secara bapak niat banget ngajak kesana), jadilah kami pergi ke Suroloyo, yang akhirnya saya ketahui berlokasi di wilayah kabupaten Kulon Progo, DIY.

Perjalanan ini adalah perjalanan saya yang pertama bersama bapak dengan moda sepeda motor. Kelak, saya dan bapak sering motoran pergi ke lokasi-lokasi baru. Perjalanan ini kami lakukan Agustus tahun lalu, sekitar 70 km dari rumah menuju arah utara.

Saat saya menuliskan perjalanan ini, bapak yang saya ‘interview’ sudah sedikit lupa detil daerah-daerah yang kami lewati. Namun secara garis besarnya rute yang kami ambil yakni ke arah Candi Borobudur, Borobudur ke arah selatan kemudian kami ‘menyusuri’ jalan di samping Sungai Progo. Jadi kami berada di sebelah barat Sungai Progo. Setelah itu kami belok kanan, mulailah perjalanan dengan jalan mendaki ke arah perbukitan Menoreh. Hehehe maaf kalau ndak jelas rutenya..

Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh, terletak di ketinggian 1091 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian itu, perjalanan ke sini sudah pasti ditempuh dengan medan mendaki. Skill berkendara, juga kondisi motor menjadi taruhannya. Apalagi dari rute kami, tak semua jalan kondisinya oke.

Ada cerita lucu saat di perjalanan. Waktu itu kondisi jalan belum diaspal jadi masih berupa tanah. Karena jalannya cukup menanjak, meski persneling sudah berada di gigi terendah, motor saya masih saja berat untuk mendaki. Bapak akhirnya saya minta turun dari boncengan agar motor naiknya lebih ringan gitu hehe.. Saat saya berusaha melaju dengan susah payah, tiba-tiba dari arah belakang ada motor lain lewat dengan kecepatan tinggi mendahului. Wussss… Saya kaget. Dalam hati agak sewot juga. Saya ‘naik’ dengan susah payah, eh dia enak aja ngebut, plus boncengan pula. Hehehe maklumlah, motor saya motor ‘pantai’ sementara motor itu motor ‘gunung’ yang sudah terbiasa melewati medan seperti ini.

Sampai di Suroloyo sekitar pukul 11.00 WIB dan untuk mencapai ‘puncaknya’ kami masih harus berjalan kaki. Syukurlah jalan menuju puncak sudah oke yakni berupa anak tangga. Dengan antusias kami pun ‘melahap’ puluhan anak tangga itu. Sesampainya di atas, suasananya sepi. Tak ada siapapun kecuali kami. Ada gardu pandang disana, lumayanlah bisa untuk meluruskan kaki yang pegal hehe.. Kami melihat juga sedang dibangun seperti wahana fying fox, tapi belum jadi. Berflying fox disitu kayaknya asyik juga 🙂

bapak numpang nampang

Setelah puas melihat pemandangan dari atas, kami pun turun. Kami berjumpa dengan penduduk sekitar dan mengobrol dengannya. Ternyata, lokasi yang baru kami datangi itu bukanlah Puncak Suroloyo, melainkan Puncak Sariloyo! hehe kami keblabasen katanya. So, kami balik lagi, 200 meter dari lokasi Sariloyo barulah kami sampai di Puncak Suroloyo. Namun untuk sampai ke puncaknya, oh my God, kami harus mendaki anak tangga lagi. Lumayan tinggi juga karena ada 286 anak tangga (hehe saya ndak menghitung sendiri, tapi setidaknya itulah info yang saya dapat). Kalau tak semakin penasaran dengan ‘ada apa’ sih di Puncak Suroloyo itu, saya kayaknya memilih nunggu di bawah saja. Fisik pas-pasan begitu alasan saya. Dengan sebotol air mineral di tangan, akhirnya sampai juga saya di tempat yang dinamakan Puncak Suroloyo itu.

Lokasinya tidaklah luas. Hanya ada satu bangunan kecil di situ, semacam gardu pandang,dan sebuah patung. Ternyata, Puncak Suroloyo ini lebih terkenal sebagai tempat petilasan. Pantas saja, saat saya di sana, masih terdapat bekas-bekas sesaji gitu. Hmm berarti dugaan awal saya bahwa Puncak Suroloyo ini merupakan tempat ‘mistis’ terbilang benar.

Dari info yang saya dapat, Puncak Suroloyo dulunya merupakan lokasi pertapaan Sultan Agung Hanyokrokusumo saat mendapat wangsit memerintah tanah Jawa. Puncak Suroloyo juga dianggap sebagai puncak tertinggi pada kerajaan Mataram. Sebenarnya masih ada beberapa mitos lain yang ‘menyelimuti’ Puncak Suroloyo. Kata bapak tukang parkir, saat malam Satu Suro, kawasan ini ramai dipenuhi pengunjung. Saat saya di situ, suasananya terbilang sepi. Hanya ada dua pasang muda mudi yang sedang pacaran (yaelah niat banget pacarannya sampai naik-naik ke bukit mas mbak:)

Meski cuaca tak mendung dan relatif cerah, namun kami hanya bisa melihat Candi Borobudur. Gunung Sumbing-Sindoro, Merapi-Merbabu yang kabarnya bisa dilihat jelas dari sini gagal kami saksikan. Ya sudah tak apalah. Candi Borobudur yang terlihat begitu kecil sudah cukup menghibur. Ditemani sepasang Elang yang terbang bebas di atas kami, suasananya terasa tenang bagiku. Huhuhu seketika saya teringat ibuk.. ;(

Masih dari info yang saya dapat, lokasi ini katanya bagus untuk menyaksikan sunrise. Jadi bagi yang suka hunting foto, bisa memasukan Puncak Suroloyo ini dalam list Anda untuk mendapatkan foto yang aduhai.

Kami pun turun setelah tak begitu capek dan mengambil beberapa foto (tetep euy). Dalam perjalanan turun untuk pulang, bapak tiba-tiba mengajak ke Sendangsono. Jaraknya yang tidak begitu jauh dari Puncak Suroloyo menarik bapak untuk sekalian mengunjungi tempat ziarah umat Katolik tersebut. “Ayok saja!” sahut saya. Suasana Sendangsono saat kami berada di sana terasa lengang. Hanya ada beberapa umat saja yang sedang berdoa. Setelah mengambil foto, kami pun pulang.

Rute pulang kami sama seperti waktu kami berangkat. Kami sempat menikmati makan siang berupa sate kambing dan gule di daerah Mendut. Entah karena teramat lapar, atau dari sononya satenya memang enak, namun makan siang saat itu terasa begitu nikmat. Sayangnya aku lupa nama warung sate tersebut. Jika ndak lupa mesti sudah saya tulis disini soalnya recommended banget 🙂

Advertisements

One thought on “Puncak Suroloyo-Sendangsono

  1. Pingback: 2010 in review « aning jati's blog

Comments are closed.