Dari MRT hingga Ojek

Perjalanan saya bersama seorang teman ke enam kota di tiga negara pada pertengahan April lalu ternyata masih menyisakan banyak cerita. Maklum, bagi saya perjalanan ini memberikan banyak pengalaman baru yang menyenangkan. Jadi tak ada salahnya jika saya kembali berbagi pengalaman meski sudah ada beberapa tulisan sebelumnya, juga mengenai perjalanan ini.

Kali ini saya ingin menulis mengenai transportasi yang kami gunakan selama berada di negara orang. Sebagai wisatawan mandiri, pilihan transportasi mutlak menjadi hak kami. Maksudnya, kami sendiri yang menentukan moda apa yang kami pilih untuk kami pakai. Selama tujuh hari kami menggunakan enam jenis moda. Alasan pengiritan (tapi tetap aman dan nyaman) serta kepraktisan cukup mempengaruhi pilihan kami di setiap kondisi yang kami jumpai:)

Berikut moda-moda yang kami gunakan dan cerita-cerita yang menyertai saat kami mempergunakan moda tersebut;

1. MRT (Mass Rapid Transportation)

*) Singapura

Moda ini menjadi pilihan utama saat kami berada di Singapura. Berbekal informasi yang kami dapatkan melalui tourist information di Bandara Changi mengenai jalur dan harga tiket, akhirnya kami menaiki MRT untuk kali pertama dengan sukses. Tujuan saat itu, Changi menuju Little India. Sukses disini bisa diartikan bahwa kami bisa sampai di stasiun tujuan dengan selamat tanpa tersesat hehe..

Perasaan deg-degan dan exciting sempat saya rasakan saat menaiki MRT ini kali pertama. Ndeso jelas hahaha Secara saya belum pernah merasakan naik MRT sebelumnya.

Saya semakin menyukai MRT di Singapura itu setelah beberapa kali menaikinya. Bagaimana tidak? Semua yang saya harapkan dari suatu jenis transportasi umum terpenuhi.

-Cepat sampai ke tujuan (sesuai namanya, angkutan masal cepat),

-Lancar karena tidak berhenti selain di stasiun tujuan (emang Prameks, kadang pakai berhenti-benti di tengah perjalanan? hehe *piss)

-Aman ( selama naik MRT ini tak ada rasa kuatir mendapat ancaman kriminalitas)

-Super nyaman dengan AC nya yang cukup menyejukkan (kalau begini gak bakalan takut berkeringat karena berdesak-desakan dan kepanasan. Nyampe kantor, kampus, sekolah, mall, juga tetap terlihat segar nggak kumal wkakakw)

-Murah (waktu itu kami beli tiket terusan untuk turis (Ez-Link card) seharga 8SGD yang bisa digunakan selama satu hari penuh. Ez-link card ini juga bisa digunakan untuk moda bus)

Jadi bahkan bisa dibilang saya jatuh cinta dengan si MRT ini (lebai). Tapi, siapa yang tidak? Buktikan dengan menaikinya sendiri, dan pastilah pendapat Anda tak akan jauh berbeda dengan pendapat saya.  Oooh kapan di sini ada moda seperti MRT ini ya? 🙂

*) Malaysia

Ketika berada di Kuala Lumpur, kami juga sempat menaiki KRL dan monorail. KRL mengantar kami dari Stasiun Bukit Jalil ke Stasiun Hang Tuah, sementara monorail kami naiki dari Stasiun Hang Tuah hingga Stasiun Bukit Bintang.

Meski sama-sama kereta api namun keduanya berbeda. Yang KRL ya seperti KRL-KRL di Jakarta itu, sementara monorail sesuai namanya, melaju di atas satu ‘bantalan’ rel. Monorail ini gerbongnya hanya satu dan bentuk gerbongnya seperti kapsul. Karena gerbongnya hanya satu, kami terpaksa berdesak-desakan lantaran padatnya penumpang sore itu.

2. Bus

Kami mempergunakan jenis moda ini saat menempuh perjalanan Singapura-Johor Bahru, Johor Bahru-Kuala Lumpur, dan Kuala Lumpur-Hatyai.

*) Singapura-Johor Baru.

Kami naik bus berwarna kuning ini dari terminal Queen Street. Perjalanan menuju checkpoint Woodlands ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Dari luar kondisi bus terlihat sudah tua. Tapi begitu berada di dalamnya, aku merasa bus ini jauh lebih baik dari bus-bus umum jurusan Yogya-Solo hehehe..

Selain berAC dan bersih, pintu bus juga otomatis bisa membuka dan menutup sendiri (mana ada bus umum tarif ekonomi disini yang seperti ini?), deret kursinya juga 2-2 jadi tak terlalu padat penumpang.

Sayang sekali  di bus ini tertempel peringatan berupa larangan bagi penumpang untuk makan dan minum selama perjalanan. Waah.. (tapi tetap saja saya minum dari botol air mineral yang saya bawa. Lha haus gitu..)

Tiket kami beli di agen bus di terminal seharga 2,4SGD. Saat menjalani proses keimigrasian, bus yang dinaiki ini tidak akan menunggu. Tapi jangan kuatir karena setelah proses imigrasi selesai, kita tetap bisa melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru naik bus dari PO yang sama. Saat menunggu bus datang, penumpang sudah dikelompokan sesuai nama busnya. Tinggal cari papan nama bus yang kita naiki sebelumnya. Jadi tiket bus harap disimpan baik-baik, dan ingat warna bus yang kita naiki.

*) Johor Bahru-Kuala Lumpur

Kami naik bus menuju Kuala Lumpur dari Terminal Larkin di Johor Bahru. Kami gagal naik bus Transnasional sesuai rencana awal karena terus ‘dikejar’ calo-calo. Demi menghindari tawaran bertubi-tubi para calo itu, kami memilih berjalan-jalan di dalam area terminal, dan akhirnya kami mendapatkan bus ke Kuala Lumpur langsung dari agen bus Causeway Link dengan harga tiket 31RM.

Kami juga sempat menikmati makan siang di suatu warung makan di dalam terminal. Ternyata salah seorang pelayannya berasal dari Indonesia. Dari obrolan singkat kami si ibu itu mengaku sudah lama berada di Johor Bahru, dan belum tertarik untuk kembali ke Tanah Air. Makan siang kami terasa semakin ‘Indonesia’ karena sayup-sayup terdengar lagu-lagu band-band Indonesia diputar.

Bus berangkat pukul 13.30. Kondisi bus berwarna kuning itu terbilang bagus, dengan deret kursi 2-2. Perjalanan ke Kuala Lumpur ditempuh hampir 4,5 jam, dan selama perjalanan bus berhenti sekali menyediakan kesempatan bagi para penumpang untuk ke toilet atau membeli makanan kecil. Awak bus hanya terdiri dari dua orang sopir yang bergantian dalam menjalankan tugas mereka.

Perjalanan lancar karena akses jalan dari Johor Bahru menuju Kuala Lumpur sangat baik. Jalannya lebar dan rata sangat:) Kami turun di terminal sementara di Bukit Jalil karena terminal Puduraya yang berada di tengah kota, terminal yang menjadi tujuan kami, masih direnovasi hingga beberapa bulan ke depan.

*) Kuala Lumpur-Hatyai

Perasaan kuatir sempat aku rasakan ketika hendak memulai perjalanan menuju Hatyai. Selain ditempuh malam hari, aku tahu bus yang berisi penuh dengan orang-orang yang tidak saya kenal ini akan membawa saya ke tempat yang sama sekali asing dan baru bagi saya. Pasrah menjadi pilihan. ‘Nikmati sajalah perjalanan ini’, bisik kata hati saya.

Sebelum naik dan melaju bersama bus ini, saya dan teman melalui sejumlah ‘perjuangan’. Jika diingat kembali, saat itu kami sangatlah beruntung. Perjuangan kami dimulai saat sampai di terminal Puduraya namun ternyata disana ‘tak ada apa-apa’. Kata-kata pengelola hostel tempat kami menginap ternyata tidak akurat. Dia mengatakan sejumlah bus masih berangkat dari terminal Puduraya meski terminal itu sudah ditutup untuk sementara. Nyatanya, begitu kami sampai disana, kami tidak menjumpai satu bus pun.

Akhirnya kami terpaksa ke terminal sementara di Bukit Jalil. Sampai disana, kami langsung mencari agen bus Konsortium yang menjadi pilihan sesuai itinerary. Sayangnya, malam itu semua tiket dari PO tersebut sudah sold out. Tak ada satupun kursi tersisa. Karena kami harus berangkat malam itu juga, kami ‘setengah menghamba’ meminta dicarikan dua tiket. Setelah dicari sana sini, akhirnya tiket ke Hatyai kami dapatkan juga. Harganya 48RM. Lega, tapi sekaligus kuatir karena bus yang akan kami naiki bukanlah bus yang kami rencanakan sebelumnya.

Sementara itu ada hal yang  mengesankan bagi saya saat berada di dalam terminal sementara di Bukit Jalil ini. Terminal sementara itu bangunannya tidak seperti bangunan pada umumnya, melainkan dari tenda raksasa berAC yang di dalamnya berisi agen-agen bus yang tertata rapi. Kursi-kursi bagi pengunjung juga disediakan dan diatur sedemikian rupa. Bagiku ini terlihat seperti ajang Sekatenan di alun-alun utara Solo, bukan seperti terminal bus hehe.. Cara kerja karyawan agen bus di sana terkait pemesanan maupun pembelian tiket sudah terkomputerisasi dengan sistem ‘on line’ layaknya tiket pesawat di negara kita.

Kembali ke perjalanan, bus yang kami naiki berangkat on time pada pukul 22.30. Kami mendapat dua kursi paling belakang di deret kanan. Meski perjalanan kali ini terbilang lama, namun bus hanya berhenti sekali di sebuah rumah makan. Saat berhenti ini, kru bus meminta seluruh penumpang menyerahkan paspor. Dalam hati saya sempat bingung untuk apa paspor itu. Tapi karena seluruh penumpang menyerahkan paspor mereka, saya lagi-lagi pasrah dan ikut memberi paspor seperti yang diminta.

Ternyata, paspor itu digunakan untuk membuat data yang akan ditulis di ‘kartu’ masuk untuk urusan keimigrasian. Sebelumnya saat memasuki Singapura dan negara M, kartu itu dibagikan untuk selanjutnya diisi sendiri. Tapi di sini, justru kru buslah yang mengambil alih. Dari yang awalnya kuatir, berubah menjadi salut atas pelayanan mereka. Saat paspor dikembalikan, di dalam paspor terselip kartu yang sudah terisi identitas kami untuk memasuki wilayah Thailand yang sebentar lagi kami lewati.

Pelayanan kru bus tak berhenti di sini. Saat proses keimigrasian di Sadao, penumpang yang membutuhkan visa juga terus dikawal oleh kru bus dalam prosesnya. Waktu itu ada penumpang yang berpaspor India dan Myanmar yang membutuhkan visa untuk masuk Thailand.

Kami sampai di Hatyai sekitar pukul 09.30. Bus tidak berhenti di terminal sebagai tujuan akhir, tapi di sebuah agen perjalanan. Saya dan teman sempat bingung karena dalam perkiraan kami bus akan berhenti di terminal, dan kami akan melanjutkan perjalanan ke Phuket langsung dari terminal Hatyai sesuai itinerary. Tapi yah, semua tak ada yang sempurna seperti rencana kami. Yang jelas kami tetap bersyukur sudah bisa sampai Hatyai dengan selamat:)

3. Minivan

Hatyai-Phuket

Karena kami kesulitan mencari terminal bus Hatyai, akhirnya kami terpaksa melanjutkan perjalanan ke Phuket dengan moda minivan. Minivan yang aku maksudkan disini bentuknya seperti Mitsubishi L300, hanya saja sedikit lebih besar. Harga tiketnya tentu jauh lebih mahal dibanding naik bus. Dua agen perjalanan sebelumnya membandrol tiket ke Phuket dengan harga 500THB, tak bisa ditawar.

Kami beruntung mendapat harga tiket 400THB pada agen perjalanan ketiga yang kami temui. Pada agen yang ketiga ini, kami meminta ‘naik bus’ bukannya minivan. Mereka menyanggupinya, dan disepakati kami membayar 400THB untuk tiketnya. Nyatanya, kami tak mendapatkan bus itu. Sebagai gantinya kami malah ‘dioper’ dengan minivan. Setelah mengetahui bahwa kami tak akan dikenai tambahan biaya lagi, kami menyetujuinya.

Minivan berangkat pukul 10.30. Sepanjang perjalanan terasa begitu lama. Minivan yang membawa kami bersama tujuh penumpang lainnya berhenti tiga kali selama perjalanan. Yang pertama, minivan berhenti di sebuah warung makan yang lumayan besar. Kami memanfaatkan fasilitas toilet dan makan siang disini. Minivan berhenti kedua kalinya untuk memisahkan para penumpang sesuai tujuan. Kami yang menuju Phuket diminta pindah ke minivan yang sudah menunggu, sementara minivan kami akan membawa penumpang ke Krabi. Kami berhenti ketiga kalinya di sebuah toko jajanan yang juga cukup luas. Entah kenapa kami berhenti disini karena sang driver tidak memberi penjelasan yang jelas terhadap penumpangnya. Huuuu… Akhirnya, minivan yang membawa kami sampai di terminal Phuket sekitar pukul 18.00.

4. Taksi

Kami sangat terpaksa menggunakan moda yang satu ini. Jika tidak benar-benar sangat terdesak, mungkin tak akan memilih taksi. Alasannya jelas, ongkos taksi bisa langsung membuat bujet kami membengkak hahaha.. Kami menggunakan moda taksi dua kali, yakni sekali saat berada di Kuala Lumpur dan sekali ketika di Phuket Town.

*) Kuala Lumpur

Saat badan sudah terasa berat akibat seharian terus ‘berjalan’ kami memutuskan pulang ke hostel di daerah Berangan dengan naik taksi. Padahal jarak ke hostel dari lokasi kami mencari taksi di depan menara Petronas tidaklah jauh. Sebenarnya saat berangkat di pagi harinya kami berjalan kaki, tapi karena kami benar-benar merasa letih dan mengingat kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Hatyai (menghemat energi), terpaksalah kami pulang naksi wkakawka. Setelah mengambil tas yang kami titipkan di hostel, kami langsung menuju ke terminal Puduraya dengan menggunakan taksi yang sama. Total costnya 11RM.

*) Phuket Town

Kami bergaya ‘hidup mewah’ di Phuket Town. Bagaimana tidak, kami berkeliling kota Phuket dengan naik Toyota Vios keluaran terbaru hehe.. Di Phuket dan Patong, taksi yang beredar sama seperti mobil pribadi. Tak ada tulisan ‘taksi’ dan nomor telepon panggilan atau semacamnya seperti taksi-taksi disini. Jadi agak sulit membedakan mana yang taksi, mana yang mobil pribadi.

Kami juga baru tahu tentang hal ini dari bapak sopir taksi yang mengantar kami. Pria paruh baya yang pekerjaan aslinya sebagai penjaga pantai itu terbilang ramah. Dia menawari untuk mengantar kami ke lokasi-lokasi belanja khas Phuket. Total kami ‘dibawa’ ke lima tempat, dan untuk itu kami hanya membayar ongkos taksi 200THB saja.. Kami juga naik taksi yang sama ketika akan ke bandara Phuket keesokan harinya. Ongkosnya kali ini cukup lumayan, yakni 500THB.

5. Angkutan umum (baca angkot) dan bus

Kami sempat dua kali merasakan naik angkot yang berasa sangat lokal ini. Pertama di Hatyai. Saat itu kami sebenarnya hendak ke terminal bus. Eh taunya sama mas pengemudi tuk-tuknya kami diturunkan di salah satu agen perjalanan gitu. Huuuhuu. Kami hanya membayar 20THB untuk ongkos naik tuk-tuk yang salah jurusan ini.. wkakakw

20THB juga menjadi ongkos yang harus kami bayar pada pengemudi angkot jurusan Patong-Phuket. Naah kalo yang ini angkotnya ‘jelas’. Bentuknya mirip truk, tapi bagian belakang sudah dimodifikasi menjadi area untuk mengangkut penumpang. Ada tiga baris kursi panjang disitu. Karena tanpa kernet, maka tiap kali penumpang hendak turun harus memencet seperti tombol yang digantung di dekat ‘pintu keluar’. Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana caranya kami membayar ongkos angkot? Ternyata, saat dalam perjalanan angkot itu tiba-tiba berhenti. Sang sopir lantas naik ke area penumpang dan menagih ongkos. setelah semua membayar, angkot pun kembali melanjutkan perjalanan..oalah..

Sementara ketika di Singapura, selain mengandalkan MRT sebagai sarana transportasi, kami juga memilih naik bus untuk mengantar kami berjalan-jalan. Sama seperti naik MRT, naik bus umum di Singapura juga sangat menyenangkan. Rute atau jalur bus bisa dilihat langsung di halte. Sangat lengkap dan informatif. Untuk urusan transportasi umum, Singapura memang pantas diacungi dua jempol.

6. Tukang Ojek

Kami juga melibatkan tukang ojek dalam cerita perjalanan kami. Kami sendiri bahkan tak menyangka bisa ngojek di negara orang. Cerita bermula saat kami sampai di terminal Phuket. Karena sudah kesorean, tak ada lagi angkot yang beroperasi ke jurusan Patong, tujuan kami. Alternatif lain adalah dengan naik taksi atau menyewa tuk-tuk. Sudah pasti ongkos keduanya jauh lebih mahal.

Sesuai itinerary, kami mematok 30THB untuk ongkos angkot ke Patong. Sementara saat itu taksi meminta 500THB, dan tuk-tuk yang kami ajak negosiasi tak mau turun dari 300THB. Waaah mahal.. Akhirnya, lewatlah seorang tukang ojek. Sama seperti halnya tuk-tuk, dia juga mematok ongkos 300THB.

Singkat cerita, kami akhirnya mendapatkan tukang ojek lain yang bersedia mengantar kami dengan ongkos 150THB saja. Uniknya, karena ‘harganya’ yang murah, kami terpaksa cenglu alias berboncengan tiga hehe.. Bisa dibayangkan, di negara orang, kami berdua dibonceng sepeda motor sejauh 15 KM ke arah Patong yang medan jalannya naik turun berliku, tanpa helm pula wkakawk.

Anehnya lagi, sepertinya sistem cenglu ini biasa dilakukan di Phuket. Ketika melintas kota, tak ada polisi yang menghentikan kami (memang tak terlihat sosok polisi saat itu:). Orang-orang juga cuek saja melihat kami. Padahal di kampung halaman, bisa jadi aksi cenglu ini mengundang perhatian semua pihak hehehe.. Kami beruntung bisa merasakan ngojek Phuket-Patong, merasakan hembusan angin petang selama perjalanan ke Patong, menikmati view Patong dari puncak bukit di waktu malam di atas sepeda motor.. lebai lagi 🙂

Advertisements