Keramik Unik buat Mata Melirik

Meski hanya bertajuk one day traveling, perjalanan saya ke Kota dan Kabupaten Cirebon pada Agustus lalu memberi banyak cerita. Bisa jadi karena dalam waktu seharian itu saya mengunjungi beberapa objek wisata yang memang jadi ikon Cirebon.

Mulai Stasiun Cirebon, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Kacirebonan, Taman Air Sunyaragi, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid Panjunan, makam Sunan Gunung Jati, hingga ke sentra penjualan batik Trusmi.

Banyaknya bangunan bersejarah di Cirebon tidak lepas dari sejarah panjang kota ini. Sejak abad ke-16 Cirebon sudah ternama menjadi kota pelabuhan strategis di dunia perdagangan internasional. Sebagai kota pelabuhan internasional, Cirebon menjelma menjadi sebuah melting pot alias wadah yang berisi berbagai ras, budaya, dan etnis. Salah satu bentuk asimiliasi dan akulturasi budaya itu bisa kita lihat dari peninggalan fisik berupa arsitektur bangunan.

Ada hal kecil (dalam arti sebenarnya) yang menarik perhatian saya, yang membuktikan status Cirebon sebagai kota pluralisme, tempat peleburan budaya. Benda ini saya lihat di beberapa keraton dan Makan Sunan Gunung Jati.

Jika Anda jeli, bagi yang pernah ke destinasi yang saya maksud tadi pasti melihat adanya keramik atau porselen yang bertebaran tertempel di dinding. Yap, benda yang saya maksud itu adalah keramik.

Pada awalnya saya menganggap keramik yang tertempel itu tidak pada tempatnya alias nyeleneh. Tidak pas, mengganggu ‘desain interior’ yang diusung di keraton maupun makam. Keramik itu disusun dengan pola-pola simetris beraturan, baik vertikal, horizontal, diamond (wajik), dan sebagainya, yang menurut saya terkesan kaku. Namun, justru itulah yang membuat keberadaan keramik di lokasi itu cukup unik dan begitu menarik perhatian.

Saya langsung tergelitik untuk bertanya pada pemandu yang mendampingi kunjungan di keraton serta makam mengenai asal-usul keramik itu. Rupanya, keramik itu punya cerita sendiri.

Jadi, keramik yang tertempel di seluruh situs bersejarah di Cirebon, berasal dari Cina dan Belanda. Pemandu bercerita, untuk porselen dari Cina konon dibawa rombongan Putri Ong Tien (Tan Hong Tien Nio) yang hendak dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati.

“Suatu ketika Sunan Gunung Jati diundang dan diuji raja Cina untuk menebak apakah putrinya yang bernama Ong Tien benar-benar hamil, padahal perut sang putri hanya diisi sesuatu agar mirip perempuan hamil. Sunan Gunung Jati menebak putri hamil dan ditertawakan. Tapi ternyata Putri Ong Tien benar-benar hamil. Untuk menghindari malu sang putri kemudian dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati,” begitu cerita pemandu di kompleks Makam Sunan Gunung Jati kepada saya.

Kebenarannya ceritanya? Belum bisa dipertanggungjawabkan tetapi itulah yang dipercaya hingga sekarang.

Nah, untuk keramik dari Belanda yang didominasi keramik kotak berukuran sekitar 5×5 cm itu dibawa tamu kerajaan yang sudah menjalin hubungan diplomasi dengan Cirebon.

Seluruh keramik, baik dari Cina maupun Belanda, punya bentuk dan ukuran bervariasi. Saya sungguh tertarik melihat satu per satu gambar-lukisan yang ada di keramik itu meski kondisinya kebanyakan sudah tidak mulus lagi. Keramik-keramik itu berjuang melawan waktu sehingga beberapa ada yang sudah mulai berubah warna menjadi kecoklatan dan terkelupas di sana-sini.

Soal lukisan di keramik, keramik asal Belanda menurut saya lebih bervariasi daripada asal Cina yang mayoritas dihiasi gambar bermotif bunga. Keramik asal Belanda itu bahkan membuat saya tertegun karena pada beberapa lukisannya ada yang menggambarkan kisah Yesus seperti yang tertulis di Alkitab. Sungguh absurd melihat lukisan yang menggambarkan ajaran agama lain tertempel di dinding Makam Sunan Gunung Jati maupun Keraton Kasepuhan yang kental dengan atmosfer islami!

Tetapi, itulah bukti kecil dari toleransi yang sudah dimiliki negeri ini sejak ratusan tahun silam. Semoga saja benda kecil nan penuh cerita itu tetap abadi menghiasi tembok-tembok bangunan bersejarah di Cirebon sebagai pengingat generasi penerus bangsa betapa negeri ini begitu menjunjung tinggi nilai toleransi.

Advertisements

4 thoughts on “Keramik Unik buat Mata Melirik

  1. Pas lihat keramik-keramik itu malah langsung teringat Menara Kudus dan makam Sunan Kudus. Miripp…mungkin ada hubungane yo *langsung golek2 buku sejarah 🙂

    Like

  2. Gimana ya… kaya asal disemen trus ditempelin ke tembok gitu. Bukannya piring keramik punya dua sisi? Kok ga ditaruh kotak kaca trus ditempatkan di area makam aja. Ditaruh omahku juga boleh ^.^

    Like

Comments are closed.