Delapan Jam Berwisata Sejarah di Tiga Pulau

Saya memaksakan diri menunjukkan wajah santai dan tenang, walau sebenarnya saya deg-degan setengah mati. Siang itu, kapal yang akan membawa kami mengarungi tiga pulau di Kepulauan Seribu, yakni Kelor, Onrust, dan Cipir, mogok. Padahal mogok terjadi ketika kapal belum memulai perjalanan alias masih berada di dermaga Muara Kamal, Jakarta.

Lantas apa yang membuat saya gelisah? Saya khawatir dengan kondisi kapal yang terkesan overload. Meski belum berlayar, saya membayangkan bagaimana harus menyelamatkan diri jika kapal terbalik saking penuhnya penumpang. Saya bisa berenang, tetapi berenang dalam kondisi air laut yang penuh sampah dan kotoran (bahkan kotoran manusia) tentu jadi hal terakhir yang saya inginkan.

So, harap maklum apabila saya ketar-ketir di atas kapal yang terapung-apung itu… Untung saja mogok bisa diatasi dan kami segera berlayar menuju tujuan pertama; Pulau Kelor. Jarak Muara Kamal-Kelor sebenarnya tidak membutuhkan durasi lama, kurang dari satu jam. Begitu pula dengan jarak antara Kelor-Onrust-Cipir. Tetapi, karena saya duduk di bagian kapal yang tidak beratap dan dekat mesin, perjalanan terasa lama. Panasss, geraahh.. he he he.

One day trip ke tiga pulau itu saya lakukan pada masa libur Lebaran lalu. Karena sudah lama pingin berkunjung ke Kelor-Onrust-Cipir, saya tetap menikmati trip walau deg-degan dan kepanasan sepanjang perjalanan.

Seperti yang sudah banyak ditulis, Kelor-Onrust-Cipir memiliki sisi sejarah yang kuat. Banyak pula yang melabeli ketiga pulau itu sebagai Taman Wisata Arkeologi. Tiga hari tiga malam ngetik soal itu di blog juga tidak akan selesai. Namun, dalam pandangan saya bisa diringkas begini:

Di Pulau Kelor ada objek utama yakni sisa Menara Martello atau benteng bundar yang diperkirakan dibangun setelah Inggris hengkang dari Batavia. Beberapa teman satu trip ada yang naik hingga ke atas menara. Tidak mudah tapi katanya sepadan. Saya memilih tidak naik karena selain (memang) susah, saya tidak akan memperlakukan menara yang sudah berumur ratusan tahun seperti itu. Cukuplah sampai ke beberapa bagian, tapi tidak jika sampai ke atas.

Memang tidak banyak atraksi lain di pulau Kelor selain menara itu. Namun, ada beberapa pengunjung terlihat bermain air di pantai. Aktivitas itu tidak saya rekomendasikan mengingat tumpukan sampah terlihat di beberapa bagian pantai 😦 Opsi lain yang bisa dilakukan adalah mengelilingi pulau dalam waktu relatif singkat karena Kelor tidaklah luas. Pulau Kelor semakin terkenal setelah sepasang selebritas papan atas mengadakan resepsi pernikahan di sini.

Trip kemudian berlanjut di Pulau Onrust, yang lebih luas dari Kelor dan Cipir. Kesan spooky langsung menyergap begitu saya memasuki pulau itu. Maklum sebelum menginjakkan kaki di Onrust, cerita mengenai keangkeran pulau itu sudah sering saya baca. Konon keangkeran Onrust berasal dari sejarah pulau itu sejak ratusan tahun silam. Pada berbagai era, Onrust punya banyak fungsi.

Sesuai namanya, yang berarti ‘tidak pernah beristirahat’, Onrust pada masa VOC (1600-an) merupakan pelabuhan yang tidak pernah berhenti beraktivitas. Kapal-kapal dagang VOC silih-berganti datang dan pergi di pulau ini sebelum masuk ke Batavia. Pada zaman penjajahan Belanda, Onrust berganti menjadi markas tentara Belanda sekaligus lokasi bongkar muat logistik perang.

Nah, pada 1930-an Onrust kembali berubah, kali ini menjadi asrama calon haji sebelum berlayar ke Tanah Suci. Pada masa itu berhaji belum naik pesawat tapi kapal. Peninggalan berupa reruntuhan barak calon haji bisa kita nikmati di sana.

Fungsi Onrust berubah lagi pada medio pertengahan 1930-an hingga 1940-an. Pada masa itu pulau yang dinyatakan sebagai pulau bersejarah pada 1972 ini digunakan sebagai penjara bagi pemberontak maupun tahanan politik. Selanjutnya pada 1960-an Onrust berfungsi sebagai rumah sakit karantina untuk penderita penyakit menular, penampungan pengemis dan gelandangan, juga lokasi latihan militer. Pokoknya komplet dan benar-benar Onrust alias tidak pernah beristirahat!

Satu lagi, Pulau Onrust juga diyakini menjadi makam Kartosoewirjo. Sumber sejarah lain menyebutkan tokoh NII itu dimakamkan di Pulau Ubi di sekitar Onrust yang sekarang sudah tenggelam. Di Onrust, ‘makam’ Kartosoewirjo itu ditulisi penanda: Makam Keramat, yang membuat saya bertanya-tanya mengapa makam itu sampai dikeramatkan. Tapi, saya enggan mengulik lebih jauh mengenai masalah ini.

Yang jelas sejarah serta peninggalan makam di Onrust membuat pulau ini terkenal angker. Bahkan, guide menyarankan untuk tidak membawa kamera tipe DLSR di Onrust. Alasannya karena selama ini sering ditemui kasus penampakan yang muncul di foto yang diambil pengunjung.

Saya tidak langsung percaya begitu saja dengan informasi itu. Saya mencoba mengulik, rupanya ada alasan lain yang lebih masuk akal. Konon pengunjung yang masuk Onrust dan menggunakan kamera DLSR untuk memotret dikenai biaya yang mencapai ratusan ribu. “Jadi, lebih baik disimpan saja dulu,” kata pemandu trip yang saya ikuti. Okelah, mau ada penampakan mau kena biaya mahal, toh saya juga tidak membawa DLSR he he he..

Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Pulau Cipir. Di pulau yang letaknya persis bersebelahan dengan Onrust ini kita bisa melihat sisa-sisa bangunan bekas rumah sakit karantina penyakit menular di masa penjajahan Belanda dan rumah sakit karantina haji. Dulu, Onrust-Cipir pernah dihubungkan melalui sebuah jembatan. Namun, jembatan itu kini sudah hancur akibat terjangan ombak, hanya sisa-sisanya saja yang terlihat.

Selain itu, kabarnya pada masa penjajahan Jepang, Pulau Cipir juga menjadi lokasi mengeksekusi tahanan. Sekarang Cipir menjadi salah satu spot memancing yang disukai. Ada beberapa pemancing dengan keluarganya yang mendirikan tenda di Cipir. Dari barang yang mereka bawa, nampaknya sudah dan masih akan tinggal berhari-hari di sana.

Sekitar pukul 16.00 WIB trip berakhir dan kami kembali ke Muara Kamal. Secara keseluruhan menurut saya trip ke taman arkeologi ini cukup worth it. Dengan biaya terjangkau, kurang dari Rp150 ribu, tidak membutuhkan durasi perjalanan panjang, dan mudah dicapai, kita bisa berwisata sejarah langsung di TKP. Pengalaman yang sepadan dengan rasa penasaran saya selama ini atas Kelor-Onrust-Kelor. Plus, saya juga mendapat ‘bonus spesial’ selepas mengunjungi tiga pulau itu. Hampir dua hari lamanya saya kerap merinding tanpa sebab, galau, dan gelisah. Merinding kenapa? Aaah sebaiknya biarkan saya (dan beberapa orang) saja yang tahu apa yang tepatnya terjadi selama dua hari itu… 😀

Catatan:
-Di Pulau Onrust dan Cipir ada warung makan sederhana yang menjual makanan dan minuman. Jadi, jangan khawatir jika tidak membawa bekal dan kebetulan kelaparan atau haus 😛

Advertisements

6 thoughts on “Delapan Jam Berwisata Sejarah di Tiga Pulau

    • Ayooo Om, murmer kok. lumayan daripada hanya ngemall di Jakarta. Pas kemarin pake trip organizer, lha kalo jalan dewe ndadak nyewa kapal sndiri. Laraaangggg :p

      Like

Comments are closed.