Snorkeling Sekarang, Diving Belakangan

Snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal (skin diving) adalah kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel. Selain itu, penyelam sering mengenakan alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) untuk menambah daya dorong pada kaki. (wikipedia)

Sebagai beach hunter, snorkeling merupakan salah satu aktivitas yang saya nanti dan selalu saya lakukan ketika berada di pantai-laut. Bagi saya, snorkeling merupakan cara termudah untuk sekadar mengintip keindahan bawah air di pantai atau laut yang saya kunjungi. Menikmati magi bawah air sama luar biasanya dengan pesona lanskap di daratan.

Meski sudah tergila-gila dengan pantai dan laut sejak lama, saya baru menjajal snorkeling sekitar enam tahun silam. Saya mengkategorikan diri sendiri sebagai orang yang beruntung karena lokasi snorkeling pertama saya adalah di Gili Trawangan, Lombok.

Saya ingat ketika itu bingung tidak tahu harus bagaimana dengan snorkel dan kaki katak yang disewa oleh kakak sulung saya. Kakak cowok saya itu hanya memberi petunjuk singkat cara snorkeling sebelum akhirnya dengan modal nekad saya menjeburkan diri di Gili Trawangan yang aduhai itu. Walau deg-degan, pengalaman pertama terbilang sukses karena saya tidak kesulitan mengambil napas menggunakan snorkel. Berstatus sebagai pengalaman pertama, snorkeling di Gili Trawangan itu tentu tidak terlupakan.

Kalau yang ini pengalaman snorkeling pertama di Gili Trawangan

Sejak itu saya semakin akrab dengan snorkeling seiring kegetolan saya memburu pantai-lautan indah. Jika pantai-lautan itu memberi kesempatan snorkeling, tidak semua bisa dipakai snorkeling, sudah pasti tidak saya lewatkan. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir saya sudah mencicipi snorkeling di pantai-lautan baik di dalam dan luar negeri.

Semuanya berkesan, meski tidak seluruh kejadiannya menyenangkan. Anda bisa membaca kisah saya saat megap-megap tidak karuan karena merasa habis napas saat snorkeling di Derawan di sini, atau saat saya muntah-muntah hebat usai snorkeling di Karimunjawa di sini. Atau pernah saking antusiasnya, ketika di Khai Nok (Phi-Phi Island) saya snorkeling sambil mengantongi handphone…

Itu tadi saya sebagian kecil dari cerita seru snorkeling saya. Oya, saya juga punya cerita soal snorkeling di mana dan kapan yang terasa paling nikmat. Silakan klik di sini.

HP ikut nyebur ya di sini, di Khai Nok Island

Snorkeling yang saya lakoni selalu saya anggap sebagai cerita seru dan menyenangkan meski sebenarnya di dalamnya ada kisah tidak mengenakan, menjengkelkan, dan kadang tidak sesuai harapan.

Jika ada yang bertanya mengapa saya suka snorkeling, saya tidak tahu jawaban pastinya. Tapi, kira-kira seperti ini: Saya sudah dari sananya suka pantai-lautan berair jernih, dengan gradasi warna yang luar biasa plus ombak tenang dan pasir putih (siapa yang tidak?). Kebetulan pula saya punya senang berenang. Biasanya, perpaduan itu langsung membuat hati saya berdebar keras penuh kegirangan. Saya tidak bisa ditahan untuk tidak menceburkan diri.

Alasan lain, saya merasakan ketenangan dan kedamaian luar biasa ketika wajah menghadap ke bawah. Mendengar suara napas sendiri, memandangi ikan yang mondar-mandir ke sana ke mari, melihat makluk laut beraneka jenis dan warna, melihat kehidupan bawah laut dari atas. Jika beruntung, saya bisa berinteraksi dengan ikan-ikan di sekeliling saya. Semua itu membuat saya rileks dan momennya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Tanpa pelampung kadang lebih enak. Momen seru di Pulau Harapan.

Luka gores semacam ini jadi bagian tak terpisahkan tiap kali snorkeling

Bagi saya, snorkeling dan diving adalah pengalaman personal yang sulit diungkapkan karena itu hanya bisa dirasakan oleh pelaku. Lantas, mengapa saya tidak diving untuk lebih bisa merasakan kehidupan bawah air yang sesungguhnya? Untuk yang satu itu saya malah punya jawaban pasti.

Saya belum berani diving (mengambil kursus dive) karena takut kecanduan. Akibatnya fatal karena saya akan kesusahan sendiri memenuhi permintaan untuk diving dan diving lagi he he he. Doku ikutan masih belum memenuhi syarat untuk mengobati kecanduan itu. Diving saya anggap hobi mahal. Membutuhkan peralatan yang tidak murah, kursus untuk mendapatkan sertifikat juga tidak murah. Kalau pun itu semua terakomodir, saya tetap kesulitan mendapatkan waktu luang untuk melampiaskan hasrat diving.

Jadi, ya untuk sekarang ditahan dulu. Lebih tepatnya, cukup snorkeling dulu. Paling banter juga sekadar freedive. Tapi, semoga saja alam ikut berkonspirasi mendukung saya untuk memuluskan keinginan berhobi diving sebenarnya, pada saat yang tepat.

Advertisements

5 thoughts on “Snorkeling Sekarang, Diving Belakangan

Comments are closed.