Karimunjawa… Aku Mabok!

Niatnya nyontek judul film yang beken itu; ‘Eiffel, I’m In Love, tapi jadinya kok malah wagu ya? hehe Whatever deh.. Yang jelas saya mabok waktu di Karimunjawa, itu maksudnya. Mabok di sini dalam arti sebenarnya dan makna kiasan. Ceritanya dimulai dengan mabok beneran yang tak menyenangkan dulu aja kali ya, biar nanti ditutup dengan yang manis-manis:)

Sebagai wisatawan mandiri, saya dan empat orang teman memutuskan menggunakan KM Muria kelas ekonomi sebagai pilihan transportasi yang akan mengantar kami menuju Karimunjawa. Harga tiket yang murah menjadi pertimbangan utama. Enam jam perjalanan yang ditempuh untuk sampai Karimunjawa saya kesampingkan. Pengalaman naik kapal feri dari Pulau Bali ke Pulau Lombok yang terbilang menyenangkan beberapa tahun lalu menjadi modal utama. Tapi ternyata perjalanan menuju Karimunjawa sangat berbeda.

Dimulai ketika kami turun dari mobil yang mengantar kami hingga Pelabuhan Jepara. Angin yang bertiup kencang langsung menyambut kami di pagi itu. Saat itu saya masih optimistis di atas kapal akan baik-baik saja. Nyatanya? tak lama setelah KM Muria meninggalkan pelabuhan, saya mulai merasa tak nyaman. Ketika kami naik ke kelas ekonomi, semua tempat duduk hampir penuh terisi penumpang. Beruntung kami masih mendapat kursi, sayang letaknya kurang oke. Penumpang pria di sekitar saya mulai menyalakan rokok. Asap rokok terus mengepul (padahal seingat saya di dinding bagian depan ruangan tertempel peringatan Dilarang Merokok).

Perjalanan ke Tanjung Gelam

Asap rokok, perut kurang terisi, kapal yang berjalan sangat pelan plus bergerak seperti wahana kora-kora di Dufan akibat gelombang yang relatif besar dan angin kencang merupakan kombinasi ‘mematikan’ untuk saya. Jakpot. Saya muntah. Mabok laut. Rasanya benar-benar luar biasa; mual, eneng, puyeng, mata berkunang-kunang, semuanya jadi satu. Saya melihat jam dinding di depan, masih kurang tiga jam dari jadwal sampai di pelabuhan Karimunjawa. Di situasi itu tak ada yang bisa saya lakukan selain kembali menelan obat antimabuk dan berharap bisa tertidur hingga sampai di tujuan…

Rupanya saya berhasil bertahan. Kami sampai di homestay tempat kami menginap selama di Karimunjawa. Lega rasanya kembali berpijak di darat (haiyah). Plus akhirnya bisa makan nasi juga:) Tapi sayangnya rasa mual dan pusing itu masih terus terasa. Tubuh saya rasanya tak fit (baca: masuk angin berat). Setelah sempat makan bakso ikan di alun-alun malam harinya, saya minum obat masuk angin serta memilih tidur lebih awal demi menyiapkan fisik untuk hoping islands keesokan hari.

Saya bangun di pagi hari dan disambut hujan. Bisa berantakan rencana kami jika hujan tak mau berhenti. Tapi syukurlah Tuhan mendengar doa kami. Hujan berhenti dan kami bersiap menjelajah pulau-pulau di kawasan Karimunjawa.

Kondisi badan tak fit sempat membuat saya kuatir. Tapi keinginan menikmati keindahan alam Karimunjawa mengalahkan kondisi badan. Saya memilih tak merasakan mual pusing. Lokasi pertama, kedua oke. Lokasi ketiga saya masih baik-baik saja. Giliran menuju lokasi ke empat, fisik ini diuji. Perjalanan ke Pulau Cemara Besar sangat di luar dugaan. Angin bertiup kencang dengan gelombang liar. Jangan ditanya bagaimana laju perahunya. Hmm.. kira-kira seperti naik kora-kora (lagi) tapi dengan tambahan angin dan air yang terpercik ke dalam perahu.

Alhasil mual dan puyeng saya kambuh dengan sukses. Begitu perahu berhenti kami diajak turun untuk snorkling lagi. Saya dilanda keraguan akut. Snorkling ndak ya? iya, tidak, iya, tidak, iya… Hehehe siapa yang berani nolak jika di sekeliling kita hamparan laut yang sangat mengoda. Dengan tekad bulat saya menceburkan diri. Olala arusnya cukup deras.

Tanjung Gelam

Tak berapa lama saya memilih kembali ke perahu yang ternyata diikuti beberapa temanku. Di atas perahu saya kembali muntah-muntah. Begitu seluruh isi perut keluar, lumayan lega rasanya. Tapi berdiam diri di atas kapal yang bergerak-gerak berpotensi membuat puyeng saya lebih parah. Saya putuskan untuk menceburkan diri ke lautan lepas lagi..

Begitu seterusnya hingga jelajah pulau-pulau selesai di sore hari. Selain kulit tubuh gosong, badan rasanya sudah tak karuan. Makan pun terasa tak enak. Malam itu saya membayangkan perjalanan pulang ke Jepara yang akan kami tempuh esok hari. Pengalaman perjalanan berangkat ke Karimunjawa yang ‘menyengsarakan’  masih tergambar jelas. Efeknya saja masih belum hilang, eh lha kok mau ditambah dengan perjalanan pulang? Keinginan kami untuk duduk di kelas VIP KM Muria gagal sudah. Gara-garanya kami tak mendapat tiket kelas VIP itu. Soal tiket ini menjadi cerita lain yang menghiasi jalan-jalan kami ke Karimunjawa kali ini.

Sebagai independent traveler kami mengurusi segala sesuatunya sendiri, termasuk urusan tiket transportasi, dalam hal ini kapal ke dan dari Karimunjawa. Dalam itinerary yang kami buat, kami menjadwalkan kepulangan ke Jepara adalah hari Selasa (kami berangkat hari Sabtu) dengan menggunakan Kapal Motor Cepat (KMC) Kartini.

Segera setelah mendarat di pelabuhan Karimunjawa, dengan dibantu ibu pemilik homestay kami mencoba memesan tiket KMC Kartini tersebut. Ternyata tiketnya sudah sold out. Penuh dipesan tour agent untuk rombongannya. Kesalahan kami juga karena tak membooking dari dulu. Oke, dengan sangat berat hati kami memangkas jadwal kami dan terpaksa kembali ke Jepara dengan KM Muria lagi di hari Senin. Itu berarti kami hanya dua malam di Karimunjawa.

Tak mau mengalami penderitaan yang sama dengan duduk di kelas ekonomi, kami memutuskan beralih ke kelas VIP. Senin malam dua orang temanku didampingi pemilik homestay mendatangi kantor ASDP Karimunjawa dengan tujuan membooking lima tiket kelas VIP KM Muria. Sampai disana, menurut cerita temanku, diberi jawaban bahwa kami TAK BISA memesan tiket itu. Kami DIHARUSKAN membeli di loket yang buka mulai jam 06.00 pagi. Oke, kami turuti itu. Jam enam lewat sedikit keesokan harinya, bapak pemilik homestay memberi kabar: “tiket VIP sudah habis. Hanya tersisa kelas ekonomi”. Bapak dan ibu pemilik homestay mengatakan semua tiket VIP SUDAH DIBOOKING tadi malam. Apa-apaan ini? Lha terus yang dibilang sewaktu kami mencoba membooking di malam yang sama itu bagaimana? Rasanya jengkel banget mendapat perlakuan seperti ini.

Tanjung Gelam

Kami sebenarnya tak menginginkan bergaya hidup mewah dengan duduk di kelas VIP. Tapi kondisi badan kami berlima sudah sama-sama tak karuan. Kelas ekonomi tak menjanjikan kenyamanan sama sekali. Salah satu teman seperjalanan yang sudah melanglang ke negara-negara manca sempat membahasnya dengan saya. Katanya prasarana di kelas ekonomi kurang manusiawi. Hehehe no hurt feeling ya Bapak, Ibu ASDP…

Tapi, ada benarnya juga lo. Dari segi bangku misalnya. Saat berangkat kami mendapatkan bangku dengan senderan punggung tak melebihi bahu kami. Nah, kalau begini tentu akan menyulitkan disaat kita hendak meletakan kepala untuk tidur. Okelah ini kelas ekonomi. Tapi ingat, perjalanannya tidak singkat. Enam hingga tujuh jam lamanya. Tak bisakah menyediakan tempat duduk dan toilet yang lebih bagus lagi? Toh jika pada akhirnya jika harga tiket sedikit dinaikan untuk itu, saya rasa tak ada masalah secara harga tiket saat ini untuk kelas ekonomi benar-benar ekonomis. Rp 30.500 untuk enam jam.

Sebelum perjalanan pulang kami melakukan antisipasi dengan mengkonsumsi obat antimabuk. Syukurlah itu cukup membantu saya. Tapi tidak untuk teman saya. Dia sukses muntah-muntah…Hingga saat ini rasa mual puyeng a.k.a masuk angin berat masih terasa. Tap,i tak apalah. Bisa dibilang ini oleh-oleh dari Karimunjawa selain tentu saja kenangan luar biasa akan keindahan alam di sana. Inilah yang saya maksud dengan mabok dalam arti yang tidak sebenarnya. Saya mabok kepayang dengan pesona Karimunjawa.

Lautnya yang jernih dengan gradasi warna yang menggiurkan, aneka jenis dan bentuk terumbu karang serta ikan di dalamnya, pantai pasir putihnya yang aduhai.., benar-benar menggoda. Sengaja saya tak menulis secara detil lokasi-lokasi mana saja yang kami kunjungi. Pokoknya semuanya indah. Silakan gugling, sudah banyak yang menuliskan keindahan Karimunjawa.

Sebagai catatan; kami hanya punya waktu satu hari untuk hoping islands di sebelah barat Karimunjawa. Dengan kondisi sehabis hujan, angin serta arus relatif kencang dari hari-hari biasanya, kami masih mendapatkan view mempesona. Berdasarkan perkataan bapak guide yang menemani jelajah kami, katanya air hari itu cukup keruh. Glodaak, gini masih dibilang keruh? Kebayang kan bagaimana jika cuaca lebih bersahabat?

Yah, sepertinya saya harus kembali ke Karimunjawa lagi. Belum puas rasanya menikmati keindahannya. Lain waktu giliran pulau-pulau di bagian timur Karimunjawa yang dieksplore. Jangan lupa untuk booking tiket kapal cepat pergi-pulang (tak mau enam jam di atas kapal) serta bawa underwater camera (nyesel banget kemarin tak sempat beli) 🙂

snorkling ^_^

Advertisements

4 thoughts on “Karimunjawa… Aku Mabok!

Comments are closed.