Dress Rehearsal

Setelah sempat tertunda akhirnya selesai juga membaca Dress Rehearsal. Menurut saya dari segi ceritanya tak terlalu menarik, datar, dan kurang nuansa humornya. Chicklit-chicklit lain yang sudah saya baca kendati ceritanya ‘serius’, masih menyelipkan sejumput humor di dalamnya sehingga pembaca tak jenuh. Alur Dress Rehearsal juga lambat bikin bosan setengah mati. Perlu perjuangan menyelesaikan 465 halamannya.

Ada sih yang menarik terutama saat membaca bagian di mana Lauren menerima konsultasi perihal pesanan kue pengantin, pikiran saya membayangkan seperti apa bentuk kue itu, dan yang jelas, rasanya. Kelihatannya enak banget secara Lauren menjelaskan bahan-bahan atau isi kue pengantin itu dengan detil. Jadi pingin maem kue tart 🙂 Sayang, bagian tersebut tetap tak mampu menyelamatkan keseluruhan cerita.

Lauren Gallagher adalah pemilik butik kue pengantin Lauren’s Luscious Licks di Boston. Tak hanya piawai dalam membuat kue pengantin, Lauren cakap dalam membantu pasangan yang akan menikah untuk memilih kue pengantin mereka serta merasa mempunyai kemampuan menebak masa depan pasangan itu dari kue pilihannya. Keyakinan itulah yang membuat hidupnya justru terkesan susah.

Saat Paige, sahabat karibnya, hendak melangsungkan pernikahan dengan Steve, Lauren memprediksi mereka tak akan bertahan. Alasannya? Ya karena pilihan kue pengantin mereka tak sama alias pasangan itu berdebat soal kue pengantin yang akan dipilih. Hmm.. Begitu pula saat mantan kekasihnya, Neil, datang ke butiknya bersama tunangannya untuk memilih dan memesan kue pengantin. Gara-gara kue yang dipilih Neil sama dengan yang disukai Lauren, Lauren merasa Neil ditakdirkan untuknya.

Dulu Lauren yang memutuskan meninggalkan Neil karena Neil pindah ke lain kota. Lauren tak bersedia mengikuti Neil dan memutuskan mengakhiri hubungan. Saat mengetahui pesanan kue Neil sama dengan kesukaannya, Lauren tiba-tiba merasa Neil-lah jodohnya. CLBK gitu si Miss Gallagher ini.. Padahal Neil sudah bertunangan dan segera menikah. Nah lho..Dress Rehearsal

Di tengah situasi itu Lauren berkencan dengan Charlie Banks, pengacara perceraian. Mereka berkencan beberapa kali. Lauren sebenarnya tertarik pada Charlie begitu pula dengan Charlie. Hanya, kata pernikahan bukan kata favorit Charlie. Charlie tak bisa menjanjikan apapun terkait pernikahan pada Lauren. Padahal Lauren mendambakan sebuah pernikahan.  Plus, Charlie tak menyukai kue kesukaan Lauren. Jadilah Lauren ragu untuk melanjutkan hubungan dengan Charlie.

Hehehe ada gitu ya yang bisa meramal dengan media kue pengantin? Ide ceritanya sebenarnya lumayan oke. Namun, cerita secara keseluruhan tak terlalu menarik perhatian saya. Untungnya pada akhir cerita Lauren sadar bahwa kemampuan meramalnya melalui kue pengantin itu tak selalu terbukti benar.

Jadi siapa yang dipilih Lauren? Neil atau Charlie? Jika merujuk kalimat saya tadi Charlie-lah yang dipilih Lauren. Bisa saja. Tapi sang pengarang, Jennifer O’Connell, membiarkan pembaca menduga-duga sendiri akhir ceritanya bagaimana, alias endingnya menggantung. Satu hal lagi yang tak begitu saya sukai; akhir cerita yang tak sempurna. Maunya ditutup dengan indah :p

 

Pengarang: Jennifer O’Connell
Judul Indonesia: Ramalan Kue Pengantin
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Dewi Sunarni
Halaman: 465 lembar
Cetakan pertama, Februari 2007

Advertisements