How to Meet Cute Guys

He he he ternyata masih tersisa chicklit bersegel yang belum saya baca. Lupa karena tertumpuk buku-buku yang lain. Lumayanlah untuk mengisi waktu selama perjalanan naik Prameks.. Ceritanya oke, lebih bagus dari chicklit terakhir yang saya baca.

Bercerita mengenai kisah Benjamina Fraklin, wanita single berusia 27 tahun berprofesi sebagai jurnalis di majalah wanita Filly. Meski Ben seringkali menulis artikel tentang bagaimana memperoleh cowok impian dan seluk beluk kaum lelaki, dalam kehidupan nyata Ben dibuat pusing tujuh keliling saat bertemu dengan cowok yang dianggapnya sebagai cowok impian versinya. Ben melakoni perkenalan dengan Max dengan sukses seperti trik yang ditulisnya di Filly.

Tapi setelah berkencan dengan Max yang ternyata jauh lebih muda darinya, Ben mulai dibuat bingung dengan sikap ‘menggantung’ yang ditujukan Max padanya. Max tak mau menganggap Ben sebagai pacar, tak mau meluangkan waktu khusus untuk Ben, dan mengalihkan pembicaraan takkala Ben mulai pembicaraan serius perihal masa depan hubungan mereka.

Ben mencoba semua trik yang diketahuinya untuk mengubah sikap Max terhadapnya. Max bergeming. Ben yang terlanjur jatuh cinta dengan Max menerima perlakuan Max itu lantaran merasa tak sanggup berpisah dari Max. Well, lambat laun Ben meledak juga. Perpisahan pun terjadi dan hidup Ben berantakan. Meski kemudian Ben berkencan dengan pria lain, Ben masih terus mengingat Max.

Saat Max menyadari bahwa kebersamaan dengan Ben membuatnya bahagia, Ben sudah mengubah sikapnya terhadap Max. Ben tak mau terus-terusan menjadi pihak yang tersakiti. Tapi benarkan Ben benar-benar sudah melupakan Max? Yang jelas akhir ceritanya menurutku cukup masuk akal. Tak lebai dan tak ditutup dengan begitu sempurna. Ben harus menunjukan bahwa Max patut diberi ‘pelajaran’.. 🙂

Cukup seru sewaktu tahu ternyata Max tujuh tahun lebih muda dari Ben. Seperti yang lagi in sekarang ini, menjalin hubungan dengan pria jauh lebih muda:) Bertolak belakang seperti yang banyak dibilang orang-orang, usia tak menjamin kedewasaan dan kematangan berpikir serta kematangan seseorang, di chicklit ini sebaliknya. Usia mempengaruhi cara berpikir dan bersikap seseorang yang rentan menjadi masalah dalam suatu hubungan. Yah intinya, daripada muter-muter, tak gampang bagi seorang wanita menjalin hubungan dengan pria yang usianya jauh lebih muda.

Di chicklit ini Ben menyadari Max pria yang diimpikannya. Hanya saja, hubungan itu terhalang sikap Max yang takut akan komitmen dan Ben yang tak mau jujur mengungkapkan perasaan serta apa yang diinginkannya dari Max. Ben takut Max kabur karena merasa ditekan Ben. Kayaknya memang harus ada strategi jitu jika ingin hubungan beda usia seperti ini berjalan dengan lancar.

Oya chicklit ini agak berbeda dengan chicklit lainnya. Di sini juga diselipkan artikel-artikel yang ditulis Ben di Filly dengan format seperti yang tercetak di majalah. Tak hanya artikel, ada juga kuis-kuis dan rubrik tanya jawab, yang membuat How To Meet Cute Boys ini nuansanya lain dari chicklit lainnya. Sampul depannya juga menarik, dibuat menyerupai cover sebuah majalah.

 

Pengarang: Deanna Kiziz
Judul Indonesia: Mencari Pasangan Impian
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Utti Setiawati
Halaman: 346 lembar
Cetakan pertama, Februari 2005

Advertisements