When In Rome

Chicklit yang saya beli dengan harga mahal, yakni separuh dari harga normal alias diskon 50 persen. Hehehe dibilang mahal. Iya aja, lha biasanya dapat cuma dengan harga sepuluh ribu sampai 15 ribu saja.

Biasa, tertarik setelah membaca resensi di cover belakang. Agak penasaran juga apa cerita When In Rome ini sama dengan film dengan judul persis sama yang dibintangi Josh Duhamel dan Kristen Bell itu. Saya pikir filmnya itu diangkat dari chickLit ternyata hanya judulnya saja yang sama tanpa ada kemiripan sama sekali dari segi cerita.

When In Rome versi chickLit masih menawarkan cerita yang itu-itu saja, khas chickLit dengan story pencarian cinta sejati serta pria idaman. Georgie Beauchamp, dihadapkan pada dilema; memilih David Bradley, kekasihnya yang sekarang, atau Mike Marshall mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul kembali setelah dua tahun tak saling berhubungan.

Sejak diputus secara sepihak oleh Mike, Georgie punya ‘ambisi’ membalas kelakuan Mike. Georgie berharap bertemu Mike dengan harapan bisa membuat Mike menyesal telah meninggalkannya. Kenyataannya saat kembali berhubungan dengan Mike, Georgie tak bisa mewujudkan ambisinya itu. Sebaliknya dia justru kembali terhanyut dengan pesona Mike yang liar, tampan, dan sekarang ini, kaya. Apalagi Mike tiba-tiba mengajaknya untuk berlibur di Roma. Mendengar kata Roma, Georgie seperti hilang kendali. Impian terbesarnya selama ini adalah mengunjungi Roma, menikmati kota itu seperti film kesukaannya, Roman Holiday.

Demi mewujudkan impian terbesarnya, Georgie sampai tega berbohong pada David. Olala, Georgie justru bertemu dengan David di Roma yang seharusnya berada di Jenewa untuk bussiness trip. Wah apa yang akan terjadi ya? Hehehe.. Ya seperti itulah, baca saja lanjutan ceritanya sendiri.

Yang jelas sih, karakter Georgie sangat membumi. Digambarkan dia bukan wanita sempurna dan cenderung diperlihatkan sisi kelemahannya. Agak gemes juga menyimak karakter Georgie yang plin plan dan dibutakan oleh impian tanpa menyadari bahwa apa yang dihadapannya justru yang terbaik untuknya. Georgie suka nonton televisi dan film serta punya hobi berkhayal suatu hal. Ia membiarkan hidupnya dikendalikan oleh khayalan-khayalannya itu.

Kira-kira begitu mungkin ya yang ingin disampaikan sang pengarang, Gemma Townley. Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Melihat karakter David dan Mike misalnya. David pria baik hati dan santun. Profesinya sebagai akuntan yang menyelidiki rekening-rekening bermasalah membuat sebagian besar waktunya tersita untuk pekerjaan. Georgie merasa David membosankan. Padahal David diam-diam banyak melakukan perbuatan menyenangkan untuk Georgie.

Sebaliknya, Mike pria liar yang urakan. Hidupnya terkesan ‘ramai’ dengan gaya hidupnya yang hobi clubbing. Mike tampan tapi hanya memikirkan dirinya sendiri. Meski begitu Georgie tertarik dengan rayuan-rayuan Mike, bahkan sampai rela diperdaya Mike untuk menjatuhkan David lantaran akal sehatnya sudah dibutakan rasa sukanya itu. Dari luar Mike terlihat sebagai sosok yang diidamkan Georgie sebagai pasangan. Tetapi siapa yang tau, Mike justru berperangai buruk bahkan memanfaatkan Georgie.

Yah untunglah Georgie kembali ke jalan yang benar, kembali pada David maksudnya… Georgie juga berhasil membereskan kekacauan yang dibuat akibat ulahnya. Gemma Townley pada akhirnya memberi pencerahaan bahwa sebaiknya kita lebih banyak beraktivitas di luar, mengalami berbagai hal secara langsung bukan hanya membayangkan dan memimpikannya saja. Hobi berkhayal lebih baik dikurangi dengan melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat.

Seperti biasa di luar cerita utama selalu ada bumbu-bumbu cerita lain. Ada kisah hubungan Georgie dengan sahabatnya, Candy, juga cerita Georgie dengan rekan-rekan di kantornya, Leary Publishing, yang bahu membahu mencegah aksi merger dengan perusahaan dari AS, Horowitz Gold. Bagi saya, bagian cerita penolakan merger ini bukan menjadi penambah yang menarik, tapi justru membosankan…

Pengarang: Gemma Townley
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Monica D.C.
Jumlah Halaman: 404
Cetakan pertama, Oktober 2005

Advertisements

2 thoughts on “When In Rome

Comments are closed.