Maling Super (atau Aku yang o’on?)

Untuk bekas penghuni Malibu: Tanjung, Lintang, Tiku, dan Dyan.

Temans, taukah kau, bila eks kosan kita tercinta ‘dibobol’ pencuri? Sebenarnya, kata dibobol tidaklah tepat karena tak ada pembobolan di tempat kejadian perkara (TKP). Pencurian yang sangat rapi mungkin lebih tepat untuk menggambarkan aksi pencuri yang nekad menyatroni eks kosan kita tercinta itu.

Bekas kamar Lintang dan alm. Windy, dimasuki maling Rabu siang itu. Dua notebook di yang berada di dua kamar itu raib dicuri, plus sebuah hape bulukan yang tengah dicas di meja setrikaan juga ikutan lenyap. Padahal, kamar-kamar tersebut dikunci oleh sang pemilik. Memang kuncinya hanya ditaruh di tempat biasa mereka menaruh kunci. Tapi, bukankah itu sudah cukup mengingat bekas kosan kita terjamin keamanannya?

Kalian berapa tahun tinggal disana? Empat, lima, enam tahun? Saya tujuh tahun. Dan selama itu, bukankah kita tak pernah kehilangan apapun? Saya sendiri berani mengatakan, tak sesenpun duit yang pernah hilang sewaktu saya ngekos disana. Duit, barang, semua aman-aman saja. Saya yakin Temans juga begitu. Itu membuktikan betapa bekas kos kita tergolong aman.

Karenanya bak disamber gledek saat saya mengetahui bekas kosan kita disatroni maling. Kaget? Heran? Bagaimana bisa tempat itu dimasuki maling? Saya juga sampai sekarang tak bisa menduga siapa pelaku pastinya kecuali hanya menduga-duga, bahwa pelakunya masih melibatkan orang ‘dalam’.

Faktanya seperti ini:
-Kosan kita berada di lantai dua, dan akses jalan keluar masuk hanya melalui satu jalan saja.
-Saat pencuri itu naik kemungkinan terlihat oleh penghuni rumah di bawah tergolong besar mengingat di dapur Ibu Kos bisa jadi ada pekerja rumah tangga sedang beraktivitas.
-Jika sudah sukses sampai di atas, si pencuri juga masih harus mencari kunci masuk ke kosan.
-Pun jika sudah bisa masuk ke kosan, maling itu juga masih harus mencari letak dimana kunci-kunci penguni kamar itu.
-Jika sudah menemukan kunci-kunci itu, maling sialan itu pun masih harus lagi mencocokan kunci-kunci tersebut dengan kamar yang pas sehingga bisa dibuka.

Dengan semua pertimbangan itu saya menduga pelakunya pastilah terkait dengan keberadaan ‘orang dalam’. Karena:
-Saat pencurian terjadi, saya berada di kamar dengan kondisi pintu kamar terbuka. Siang bolong. Saya sedang membaca dan browsing. Ya Temans, saya berada disana saat pencuri itu masuk. Tapi demi apapun, saya tak mendengar bunyi-bunyian yang mencurigakan atau pun merasakan gerakan-gerakan yang janggal dari kamar sebelah.
-Kemungkinan juga ada penghuni kos lain di kamar mereka tapi dalam kondisi tertidur dengan pintu kamar tertutup.
-Pintu bekas kamar Lintang terbuka, sementara bekas kamar alm. Windy tertutup bahkan dikunci namun kuncinya ‘dibuang’ di rak sepatu dekat pintu.
-Bagaimana pencuri bisa tau letak kebiasaan korban menyimpan kunci-kunci kamar mereka?
-Bagaimana si maling bisa tau kunci-kunci yang ditemukannya itu adalah kunci-kunci kamar di kamar si A dan si B tanpa tertukar?

-from google-

Fiuuuuhh,.. Aparat keamanan yang mendatangi bekas kosan kita aja sampai tak habis pikir bagaimana pencurian itu bisa dilakukan disana. Coba ingat kembali Temans, bagaimana situasi, kondisi, dan suasana bekas kosan kita. Cukup sulit bukan melakukan tindak pencurian disana?

Itulah sebabnya pihak berwajib yang menyelidiki pencurian ini berulang kali mengatakan; “Ini pencurian dengan kesulitan tingkat tinggi..” Well, salut deh untuk maling edan itu karena bisa mencari celah kelemahan kosan, terutama kelemahan kami yang tinggal disana saat itu. Benar-benar tak habis pikir saya…

Temans, coba kau bayangkan bagaimana perasaan bersalah yang saya rasakan khususnya untuk dua korban pemilik notebook yang lenyap itu. Saya ada disana, tapi tak menyadari ada pencurian itu.. Huhuhu apes nian saya. Apalagi kejadian ini terjadi di masa penghujung di saat saya hendak out dari Malibu. Tujuh tahun saya numpang tinggal di sana, tidak terjadi apapun, semua berjalan lancar. Ketika saya tinggal selangkah lagi keluar, ada peristiwa itu.. Miris.

Sampai sekarang saya juga masih seperti setengah tak percaya bekas kosan kita disatroni maling. Heran saya, bagaimana bisa pencuri itu melakukan dengan lihainya?

Oh ya, Temans pasti butuh kronologisnya bukan? Seperti ini gambaran globalnya:
-Jam 09.30 saya ngecas hape jadul di meja setrikaan depan kamar alm. Windy.
-Sesudah itu saya ngetik-browsing dan membaca di dalam kamar dengan kondisi pintu terbuka tanpa mendengarkan musik alias kamarku ‘sepi’.
-Jam 12.30an seorang teman bertanya dimana penghuni kamar Lintang, kok pintunya terbuka. Saya jawab belum pulang (karena saya tak mendengar suara pintu kamar dibuka. Setelah sekian tahun tinggal bersama, saya hapal jika ada penghuni kosan lain membuka kamar akan ada suara-suara yang menyertai gerakan saat ia membuka pintu). Saat itu kami berpikir mungkin si penghuni
lupa menutup atau mengunci pintu, atau si penghuni sedang ada di garasi (bawah).
-Jam 13.45an saya hendak nyabut hape dari charger-an, menemukan hape saya sudah tak ada di tempat. Berhubung saat itu saya belum mandi (pagi) hehehe, akhirnya kuputuskan untuk mandi dulu. Sebelumnya saya sempat menutup pintu kamar Lintang yang terbuka itu.
-Usai mandi saya kembali mengurusi hapeku yang lenyap itu. Saya miskol, terdengar jawaban mbak operator yang mengatakan nomor Anda tak dapat dihubungi. Seketika itu juga saya nyadar, hapeku mesti digondol maling. Dan sekian detik kemudian, saya teringat pintu kamar Lintang yang terbuka itu. Saya sempat mengirimkan sms ke pemilik kamar untuk mengkonfirmasi soal pintu kamarnya yang terbuka. Dia menjawab dengan jelas bahwa dia meninggalkan kamar dengan pintu tertutup. Blaik, mesti ya kecolongan kamar itu. Dengan segera saya mengontak via hape. Singkat cerita, hee iya, ilang notebook Toshiba-nya.
-Tadinya saya tak ngeh, kalau kamar alm. Windy juga disatroni maling karena kondisi pintu kamar yang tertutup. Ternyata setelah penghuni kamar tak bisa menemukan kunci kamarnya di tempat dia biasa meletakan kunci barulah ketauan dia juga menjadi korban. Notebook Compaq yang diletakan di meja di dalam kamar juga amblas digondol.

guglingan

Begitulah ceritanya Temans,.. Kenapa saya menuliskan peristiwa ini kepada kalian? Ya karena saya tak habis pikir kenapa ini terjadi di bekas kosan kita. Sekedar membandingkan saja dengan sikon saat kita tinggal bersama. Bisakah hal seperti ini terjadi? Lantas, ‘orang dalam’ siapakah yang patut kita curigai? Bisakah saya mencurigai salah satu dari kalian terlibat dalam aksi pencurian ini?

Berat ya mencurigai orang yang sudah tinggal satu atap selama beberapa tahun ikut terlibat dalam aksi kayak gitu. Bukan sekedar satu atap. Ini bekas kosan kita, dengan penghuni yang teramat sangat mesra hubungannya dan yang memiliki tabiat baik.. Bahkan setelah kalian keluar pun, meski hubungan di kosan dengan penghuni selanjutnya tetap terjalin akrab kendati tak ‘seintim’ dulu lagi. Tetap saja, susah bagi saya untuk mencurigai salah satu dari penghuni kos terlibat..

Moral lesson: Kunci pintu kamar dan kuncinya jangan ditinggal tapi dibawa!! 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Maling Super (atau Aku yang o’on?)

  1. seriussss mbak???wew…kok bisa ya???wah2,maling’e sangar tenan…nyeluk ki joko bodo wae,wekekekek…semoga segera ditemukan ya…

    Like

    • ho’o no serius tenan ki. ora mung joko bodo sg kudu diceluk. joko pinter, joko-joko lain harus didatangkan untuk mengusut tuntas pelaku kejahatan iki wkwkw Thx Fen atensinya

      Like

  2. edyannnn…teeerrr….laaaaa…luu. Jompa jampi kamar dah abis neh kayanya…berani2 nya tu maling masuk bekas kamar gue,padahal kalo dah masuk ga bisa keluar…wkwkwk. Brani tu maling pake jampi2 nya pake dukun lulusan S2 lha gua cuma S1….aw aw aw tak dongake bisulen malinge

    Like

  3. huahahaha.. ho’o yooo Lin, ws expired kui jampi2mu wkwkw Mugo2 ora gur bisulen malinge. Loro untu, gondhongen, gudhiken, tumanen,.. xixixi Pancen nekad tenan kok pelakune kui:(

    Like

  4. Walah Yu………….

    ya ampun kemana perginya si Miko?Po ra jegok2? La si Mbak yang biasanya di dapur?
    i m sorry to hear that, sorry about Your bulukan hp too…data2, nomer2 sudah disave?

    Kuwi mesti nggo ilmu nyaru, melenakan orang

    Like

Comments are closed.