Pulau Harapan, Permata Kepulauan Seribu

Sesuai namanya, Kepulauan Seribu punya banyak pulau-pulau. Sedikit pulau di antaranya seperti diketahui jadi tujuan wisata. Yang populer di kalangan pelancong semacam Pulau Tidung, Pramuka, Pari, Harapan, Onrust, Bidadari, dan sebagainya.

Saya beruntung (baru) bisa mengunjungi beberapa pulau di Kepulauan Seribu itu. Terakhir, saya datang ke Pulau Harapan pada Desember 2013. Tahun sebelumnya saya pernah ke Pulau Tidung dan Pulau Pari.

Sudah cukup sering saya mendengar atau membaca soal Pulau Harapan sebelum akhirnya saya memutuskan ke sana dengan persiapan seadanya. Ketika itu saya baru mencari-cari informasi terkini H-2. Saya gugling nomor telepon Pak Ilham, pemilik penginapan yang banyak direkomendasi rekan-rekan pejalan.

Tenang, asyik buat main air

Singkat cerita, saya dan Pak Ilham menemui kesepakatan dan jadilah Sabtu itu saya berangkat ke Pulau Harapan dari Muara Angke. Durasi perjalanan sedikit lebih lama daripada ke Pulau Pari dan Tidung. Cuaca saat itu cukup baik.

Sesampainya di Pulau Harapan, Pak Ilham sendiri yang menjemput dan langsung mengantar saya ke penginapan miliknya. Sedikit cerita tentang pria yang berusia 40 tahunan itu. Pak Ilham punya banyak pengalaman terkait diving, dia pediving pro, juga wisata sebelum akhirnya memutuskan bersolo karier mendirikan usaha sendiri.

Pantainya bersih, cocok untuk bersantai

Dari obrolan yang bisa dibilang tidak panjang selama saya menginap di penginapan miliknya, saya menyimpulkan Pak Ilham jadi salah satu sosok penggiat pariwisata di Pulau Harapan dan Pulau Kelapa. Dua pulau itu berdekatan dan bisa ditempuh dengan jalan darat yang menghubungkan keduanya.

Pak Ilham punya visi dan harapan membuat Pulau Harapan semakin menarik agar lebih banyak wisatawan yang berkunjung. Pola pikirnya cukup maju dan modern. Tentu, dengan tetap menjaga kearifan lokal dan kelestarian alam bukan sekadar bisnis dan mengeruk keuntungan semata.

Salah satu yang membuat saya salut, walau sibuknya minta ampun (teleponnya nyaris berbunyi terus), Pak Ilham sempat menemani saya mencari tiket kapal cepat untuk kembali ke Jakarta pada Minggu pagi. Seperti biasa karena Minggu sore sudah harus bekerja, saya memutuskan pulang menggunakan kapal cepat. Masalahnya, kapal cepat berkapasitas lebih sedikit dan menerapkan sistem kuota untuk tiap pulau yang dilayani dalam rutenya.

Crystal clear water Kayu Angin Island version…

“Peraturannya sudah jelas; tiap penumpang harus datang sendiri tidak boleh diwakilkan untuk membeli tiket karena itu mbak harus datang sendiri. Saya temani,” kata Pak Ilham pada saya. “Biarlah yang lain melayani tamu dengan cara lain; tamu tidak perlu ikut antri, tetapi saya tidak mau melanggar aturan itu,” imbuhnya.

“Ya baiklah, Pak,” batin saya dalam hati. Lagipula saya sudah tidak punya agenda ke mana-mana lagi dan memang bersiap untuk pulang. Seharian sebelumnya saya sudah berkeliling ke beberapa pulau.

Lagi-lagi, jika dibandingkan dengan Pulau Pari dan Pulau Tidung, Pulau Harapan lebih cocok dengan selera saya. Artinya, Pulau Harapan saya anggap lebih bagus dari dua pulau itu. Tentu penilaian saya sangat subjektif. Ada beberapa hal yang membuat saya lebih senang berada di Pulau Harapan dan pulau-pulau sekitarnya.

Pertama, ada lebih banyak pulau yang dikunjungi dan spot snorkeling. Kedua, lautan dan pantai di pulau-pulau lebih indah, lebih jernih, lebih banyak menawarkan gradasi warna menawan. Ketiga, ada pulau gusung di sana. Buat saya keberadaan pulau gusung itu sangat menarik dan jadi kunci pembeda. Dengan pasir putih, langit biru, air tenang nan bergradasi, jadi perpaduan yang sempurna untuk bersantai!

Jewel of Harapan Island: Gusung Island!

Kemudian, baru kali itu saya menikmati snorkeling dengan sempurna. Arus air di sekitar Pulau Bira Besar dan Pulau Macan Gundul (spot snorkeling ketika itu) memang tenang. Air jernih, jarak pandang pun cukup baik sehingga saya bisa leluasa ke sana ke mari tanpa direpotkan arus kencang. Di salah satu titik yang saya nikmati, terumbu karang masih dalam keadaan baik dan ikan dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna juga terlihat di sekeliling saya.

Cukup dengan snorkeling saya dan teman satu rombongan melanjutkan perjalanan ke Pulau Kayu Angin Bira, Pulau Kayu Angin Genteng, dan Pulau Bulat. Pantai di pulau-pulau itu saya nilai cukup memesona. Pulaunya juga bersih dan lanskapnya fotogenik. Buat bersantai, leha-leha, merenung, atau melamun sih oke banget.

Nah, tur setengah hari itu ditutup dengan suguhan senja nan memikat di Pulau Bulat. Saya termasuk penikmat senja. Buat saya, pantai, snorkeling, dan sunset jadi perpaduan sempurna untuk berileksasi. Saya memperoleh tiga hal itu di trip kali ini. Puas? Sudah pasti!

Akhirnya, jika ada yang bertanya kepada saya atau sekadar memberi masukkan soal wisata ke Kepulauan Seribu, saya akan merekomendasikan kunjungan ke Pulau Harapan. Tidak terlalu jauh dari Jakarta tetapi kita bisa mendapatkan lanskap seolah berada di pantai di luar Jawa yang termasyur dengan kemolekannya. Biaya ke Pulau Harapan juga tidak butuh kocek tebal. So, silakan menjajal pesona Pulau Harapan!

Tidak hanya sunset, sunrise di Pulau Harapan juga dahsyat!

 

NOTE
Kontak Pak Ilham di Pulau Harapan: 0818-078-33-620, 0813-8125-9501
Kapal cepat dari Pulau Harapan ke dermaga Kali Adem via Pulau Pramuka, Pulau Pari: KM Kerapu Lintasan 2 Rp52 ribu per Desember 2013

Advertisements