Sepenggal Siang bersama Penguasa Trikora Menawan

“Tetapi, Indonesia bukan hanya Jakarta,” kata Iwan Fals. Selain Jawa, negara ini masih memiliki tujuh belas ribu pulau lainnya. Hati bisa ciut jika melihat fakta betapa luasnya republik ini. Luas kepulauan Nusantara ini membentang sejauh 4.000 mil dari timur ke barat. Jarak dari utara ke selatan sekitar 1.300 mil. Jika dibandingkan, luas kepulauan ini sama dengan luas Eropa dari ujung barat sampai Asia Tengah. Jumlah itu menandakan kekayaan bangsa ini. Begitu kaya, bukan? Ah, bukankah pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, saya tak bisa menghindarinya. Dengan menghindarinya, justru seperti menutupi kenyataan. Setidaknya, dengan mengungkap terus-menerus fakta bahwa kita memang kaya, walaupun terlihat sangat cerewet, akan membangkitkan semangat kita untuk menengok kembali Indonesia dan terus mencintai negeri ini. Dan, saya, sialnya, jatuh cinta pada Indonesia. Berkali-kali.

Saya yakin, saya tidak sendirian. Masih banyak orang yang memiliki perasaan yang sama. Maka, tentu tak aneh bila ada banyak orang yang berhasrat  mengelilingi Indonesia. Mengembara. “Berkelana,” kata Rhoma Irama. Mereka bermimpi dan ingin tahu bagaimana wajah Indonesia yang sebenarnya. Menyusuri perjalanan dari Sabang hingga Merauke. Keindahan, juga kegetiran, Nusantara akan melekat dalam benak orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. Begitu pun saya.”

Nukilan itu saya ambil dari buku Meraba Indonesia karya Ahmad Yunus dan Farid Gaban, yang nyaris selalu saya bawa ke mana-mana. Secara spesifik, apa yang dituliskan Ahmad Yunus dalam dua paragraf itu sangat mengena. Pas dan cocok dengan apa yang saya rasakan; mengapa saya suka mencari waktu berkelana. Untuk ukuran saya yang baru melihat segelintir dari Indonesia, kata “berkelana atau menjelajah” mungkin tak pas. Tapi, Anda pasti tahu yang saya maksud.

Maka, ketika saya berada di suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dengan lautan membentang luas tak berkesudahan, saat saya memacu motor menyusuri jalanan asing dan sepi, hati ini rasanya sudah luar biasa gembira. Simply peaceful.

Kondisi itulah yang sepenuhnya saya rasakan kala menyambangi Trikora. Pantai ternama yang berada 45 kilometer sebelah timur kota Tanjungpinang.

Lumayan jauh, tapi perjalanan tak terasa membosankan karena jadi pengalaman baru. Jalanan menuju Pantai Trikora terbilang sepi, lebar, dan mulus. Hanya perlu diperhatikan, tidak ada angkutan umum menuju sana sehingga akses hanya bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan.

Semilir angin dengan cuaca yang relatif tak panas menemani saya dan teman membelah jalanan menuju Trikora. Bila tak menjumpai pemukiman warga, deretan pohon kelapa bergantian menjadi pemandangan yang menemani saya. Sesekali kendaraan mendahului saya, sesekali pula saya berpapasan dengan pengendara lain.

Kurang dari 60 menit saya akhirnya mulai melihat lautan. Sampai juga batin saya karena pantat ini rasanya sudah mulai panas. Saya sempat berhenti sebentar di salah satu halaman rumah warga, yang menjorok ke bibir pantai.

trikora1

Mangrove

Saya lantas kembali meneruskan perjalanan makin ke sana. Penginapan, hotel, dan resort semakin rapat. Saya, yang mendapat informasi pantai-pantai di sini seluruhnya bernama Trikora, hanya dibedakan jadi Trikora 1 hingga Trikora 4, agak kesulitan menemukan masing-masing dari pantai itu karena jarang dijumpai petunjuk yang menyebutkan pantai ini Trikora 1 atau 2 dan seterusnya.

Semuanya bak garis lurus yang menghampar di tepian jalan. Repotnya, pantai yang dari jalan terlihat menawan, sudah jadi “milik” hotel atau resort tertentu. Artinya, untuk menikmati pantai itu kita harus masuk resort dan mempergunakan fasilitas di sana. Tentu saja, dengan biaya tertentu. Paling ringan ya sekadar menikmati sajian makanan dan minuman yang ditawarkan, bila Anda memutuskan tidak menginap di situ.

Saya masih terus memacu motor. Namun, pada suatu titik saya harus memutuskan untuk kembali lantaran waktu yang tak memungkinkan. Kalau dituruti, bisa-bisa saya kembali ke Tanjung Pinang pada malam hari. Jadilah saya memutar balik motor dan menyusuri jalan yang sama. Hanya, kali ini saya mencoba mengamati sekitar dengan lebih detail. Saya menghentikan motor kala melihat hamparan mangrove di sisi kiri. Saya nangkring di pembatas jalan yang dibangun dari semen sambil melepas lelah berkendara, menikmati landscape di depan saya.

Tak lama kemudian saya memacu motor lagi sambil mencari lokasi yang pas. Saya mulai agak tak sabar karena saya bergeming tak ingin masuk kawasan hotel atau resort. Mendadak, keberuntungan seolah menaungi saya. Tiba-tiba mata ini melihat potongan pantai yang sungguh menawan. Lebih asyiknya, pantai itu tak bertuan alias gratis karena tak ada bangunan, resort atau rumah makan. Tetapi, saya sempat bingung bagaimana cara saya ke sana arena dari jalan aspal, tak terlihat ada jalan lain menuju kepingan cantik itu. Dasar adrenalin sudah meninggi, saya cuek menerabas semak-semak khas vegentasi pantai demi mencapai lokasi terdekat.

Setelah kira-kira 100 meter dari jalanan aspal, motor sudah tak bisa lebih jauh lagi. Ya sudah, motor matic itu ditaruh begitu saja di bawah pohon kelapa yang menjulang gagah di dekat semak-semak. Saya pun melangkah dengan langkah tak sabar menghampiri hamparan permadani alami; pasir.

Siang itu sepertinya pantai sedang surut. Garis pantai terlihat lebih luas, meninggalkan pasir putih berkilauan diterpa mentari. Sama seperti kala saya berada di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, jejak ombak di atas pasir putih meninggalkan kontur yang sungguh ciamik.

Saya tak sendirian saat itu karena ada lima bocah yang sedang bermain di “halaman” rumah mereka. Saya bilang begitu karena merekalah sejatinya empunya deretan pantai menawan ini. Merekalah penguasa pantai dan lautan memesona ini. Bocah-bocah itu tinggal tak jauh dari situ. Mereka dibesarkan di situ. Pantai itu sudah jadi halaman bermain yang mahaluas buat mereka. Saya merasa sebagai tamu yang bertandang dan numpang bermain di halaman mereka.

Semula kami hanya saling pandang. Namun, tak lama kemudian kekakuan mulai mencair. Kami bercakap-cakap ringan. “Kenapa Kak, jauh-jauh datang ke sini?” kata bocah bertubuh paling kecil setelah mengetahui saya datang dari Jakarta. Saya hendak menjawab panjang lebar seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini, tetapi saya memilih jawaban singkat. “Hmm.. ya main-main saja Dek, sekalian bertemu kalian,” kata saya.

Mereka tertawa mendengar jawaban saya. Bocah bertubuh kecil itu lantas menimpali jawaban saya, atau lebih tepatnya menggumam. “Besok saya juga ingin bisa ke Jakarta dan Bandung,” ujarnya.

Saya tertarik mengetahui mengapa dia ingin ke sana. Sambil mengaduk-aduk pasir basah terkena sapuan ombak, sembari mencari binatang laut, diselingi adegan kejar-kejaran, perbincangan kami mengalir. Dari keluarga, aktivitas sehari-hari hingga Persija, Arema, dan Sriwijaya FC. Sungguh saya beruntung bisa bertamu dan berinteraksi dengan mereka di tempat indah ini. Mereka menjadikan siang saya yang sudah tak biasa, jadi makin luar biasa.

Meski tergolong singkat, pertemuan tanpa sengaja itu membekas di hati, hingga sekarang. Dalam perjalanan pulang, saya tersenyum gembira. Saya puas, menemukan tempat indah yang jadi halaman bermain bocah-bocah lugu itu. Happiness will find a way. Bukankah begitu?

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Sepenggal Siang bersama Penguasa Trikora Menawan

  1. Rental motor gimana caranya, mba? Mau kesana sendirian, nih. Amankah di jalan? Secara udah emak2, backpacking pula.

    Like

    • Saya waktu itu sewa dari penginapan, Mba. Kalo aman ya aman-aman saja sih, cuma memang jalanannya cenderung sepi. Kalau bisa sih balik ke kotanya jangan kesorean… Selamat jalan-jalan, Mba. Salam kenal 🙂

      Like

Comments are closed.