Cerita dari Dua Akau di Tanjung Pinang: Sup Ikan dan Kena Usir

Banyak kota di Tanah Air yang berstatus sebagai melting pot alias kuali peleburan yang berisi berbagai ras, budaya, dan etnis. Salah satu bentuk asimiliasi dan akulturasi budaya itu bisa dilihat dari peninggalan fisik berupa arsitektur bangunan.

Namun, jangan kesampingkan pula perihal makanan atau kuliner yang muncul bersamaan dengan meleburnya berbagai ras, budaya, dan etnis itu. Masing-masing hadir dengan kekhasan masing-masing. Tanjung Pinang bisa jadi salah satu lokasi tepat untuk menikmati beragam kekhasan kuliner sebagai dampak keragaman ras, budaya, serta etnis yang hidup berdampingan dengan harmonis. Ada makanan dengan sentuhan cita rasa Melayu, Tiongkok, India, bahkan perpaduan dari rasa itu . Semuanya menggelitik lidah untuk dicicipi.

Kuliner yang sayang dilewatkan bila berada di Tanjung Pinang di antaranya, otak-otak, sup ikan, dan mie lendir. Semakin menarik karena kekhasan itu tidak hanya bersumber dari rasa masakan saja, tetapi juga konsep jualan yang sudah turun-temurun sesuai tradisi.

Sop ikan di akau Potong Lembu yang mantap

Seperti halnya di Banda Aceh, di beberapa titik Kota Tanjung Pinang, seperti misalnya di Jalan Merdeka, banyak dijumpai kedai kopi vintage lengkap dengan menu makanan khas Melayu. Tanjung Pinang juga sangat terkenal dengan akau.

Akau merupakan kata lokal yang mengacu pada tempat makan di area terbuka. Mayoritas akau baru buka setelah sore dan malam hari. Berbagai jenis masakan dijual dalam satu akau oleh sejumlah penjual yang membuka booth ala kaki lima. Bagi masyarakat Tanjung Pinang, akau bukan sekadar tempat makan melainkan juga lokasi berkumpul untuk ngobrol ngalor-ngidul atau bersosialisasi.

Selama waktu singkat di Tanjung Pinang, saya menjajal dua akau yang lumayan ternama, yakni akau Potong Lembu dan Melayu Square. Akau Potong Lembu saya datangi pada sore hari, jadi saat ke sana para pedagang baru saja selesai bersiap bahkan ada yang belum membuka booth-nya. Namun, tak apa, karena saya tetap bisa mencicipi menu andalan: sup ikan.

Saya sempat waswas bila sup ikan-nya amis. Maklum, saya pernah menyantap sup ikan yang nggak banget menurut saya. Ternyata, sesuai yang digembor-gemborkan, sup ikan Tanjung Pinang memang hao shi (lezat)! Kala disantap tanpa nasi, kuah sup terasa segar, dan bebas amis. Potongan ikannya juga lembut. Tinggal tambahkan sambal, mantap deh dinikmati selagi kuah masih panas.

Sembari mengagumi sup ikan yang oke dan dilanjutkan menikmati es buah unik (dengan tambahan jagung manis) yang tak kalah segarnya, saya mengamati sekeliling. Akau Potong Lembu terletak di daerah pecinan Tanjung Pinang sehingga menu di sini kebanyakan bercita rasa Tiongkok. Ada masakan berbahan dasar babi. Jadi, untuk Anda kaum muslim, agar berhati-hati sebelum memilih menu. Sesaat, suasana di akau Potong Lembu akan terasa seperti di mancanegara, bukan di Tanjung Pinang. Meja dan kursi plastik ditata sedemikian rupa di area terbuka yang luasnya cukupan. Lantaran kami ke sana masih terang, akau Potong Lembu belum ramai.

Suasana akau Potong Lembu di sore hari

Pada malam harinya giliran akau Melayu Square yang kami datangi. Di akau ini menu makanan yang dijajakan kebanyakan masakan Melayu dan Jawa. Penataan kursi-meja tak jauh beda dengan di akau Potong Lembu. Bagian tengah tertata rapi meja dan kursi dengan dikelilingi booth-booth. Anda tinggal pilih dan pesan sesuai selera. Makanan dan minuman akan diantar di mana pun Anda duduk sesuai pilihan. Semestinya begitu. Tetapi, khusus di akau Melayu Square, kejadiannya tidak begitu.

Kami baru duduk setelah berkeliling memilih dan akhirnya memesan. Tak lama kemudian kami didatangi mbak yang sangat ramah menawarkan masakan sambil membawa daftar menu. Karena kami sudah memesan di tempat lain, saya jawab dengan ramah pula: “Maaf mbak, kami sudah memesan,” kata saya sambil menunjuk ke arah booth di mana kami pesan tadi. Mendadak muka si mbak berubah jadi judes. “Oh, maaf, ini tempat duduk untuk pelanggan kami,” ujar si mbak, dengan jutek, meminta kami pindah dari “mejanya”.

Dengan sedikit tercengang karena diusir, kami memilih menuruti permintaan tak menyenangkan mbak itu. Kami duduk beberapa meja jauhnya. Tak lama kemudian, saya baru paham dengan spanduk besar yang terpampang di sejumlah titik, yang saya lihat sejak tiba di lokasi itu. “Mohon untuk tidak memindahkan tamu yang sudah duduk.” Begitu tulisan di spanduk. Ooh, jadi pengusiran tamu seperti yang saya alami sudah kerap terjadi sehingga pihak berkaitan sampai merasa perlu menindaklanjuti hal itu.

spanduk mohon maaf

Terus terang, saya jadi ilfil dengan perlakuan semacam itu. Tak lama setelah menyantap pesanan, kami memilih meninggalkan Melayu Square. Kami menyeberangi jalan dan tiba di seberang Melayu Square. Di sana juga banyak penjual dan bahkan ada layar lebar, yang ketika itu memutar pertandingan sepak bola. Suasananya lebih santai.

Sambil menikmati malam di seberang akau Melayu Square, saya memikirkan ulang kejadian diusir itu. Perkara remeh, namun tak menyenangkan. Sangat disayangkan ketika satu pihak bersikap menghambat di saat banyak pihak lain berusaha menjadikan wisata sebagai industri yang ujung dan hasil positifnya, bakal ikut dinikmati si mbak tadi.

Akhirnya saya memaklumi kejadian itu. Anggap saja hal itu sebagai sebuah keunikan akau Melayu Square. Saya menutup malam di Tanjung Pinang dengan memori menyenangkan, seenak sup ikan di akau Potong Lembu. Semoga di lain waktu saya bisa mencicipi lebih banyak lagi menu andalan di akau-akau lain di Pulau Bintan.

Penunjuk akau Melayu Square saat malam hari

Advertisements

One thought on “Cerita dari Dua Akau di Tanjung Pinang: Sup Ikan dan Kena Usir

  1. Salam dari tanjungpinang..:)
    Gak sengaja jumpa artikel ini di google..
    Terimakasih telah mengunjungi kota kami tanjungpinang,
    walaupun saya bukan penjual yg berjualan di kedua akau itu, saya sebagai penduduk lokal, minta maaf atas ketidaknyamanan yg anda alami, semoga kejadian yg kurang berkenan itu tidak menjadi penghalang anda untuk kembali mengunjungi kota kami Tanjungpinang di kemudian hari.. sekali lagi maaf..:)

    Like

Comments are closed.