5 Destinasi Wisata Menarik di Kota Bengkulu

Kota Bengkulu mungkin bukan destinasi favorit bagi pejalan di Tanah Air. Namun, sebaiknya  kamu mulai memerhatikan kota yang pernah dikuasai Inggris dan Belanda di masa kolonial ini. Bumi Raflesia, salah satu julukan Bengkulu, memiliki sejumlah destinasi menarik, terlebih bila kamu penggemar wisata sejarah. Wisata sejarah terletak di seputaran kita, jadi tidak perlu susah-payah membuang banyak waktu dan energi untuk mencapai lokasi-lokasi itu.

Objek wisata yang berdekatan memang jadi nilai plus jalan-jalan di kota ini. Menariknya, bila kamu tidak menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, kita bisa mencapai lokasi dengan menyewa angkutan kota yang beroperasi di kota.

Cukup unik karena kita tinggal bilang ke mana tujuan kita, sopir akan mengantar ke lokasi. Tentu, setelah tarif disepakati bersama. Bahkan, untuk jarak yang dekat tetapi tidak sesuai rute angkutan itu, mayoritas sopir bersedia mengantar ke tujuan. Tarif yang diminta sopir juga masuk akal alias tidak mencari kesempatan hanya karena kita berstatus wisatawan dari luar daerah.

Kota Bengkulu kental dengan peninggalan masa lalu, terutama masa kolonialisme dan perjuangan bangsa lepas dari belenggu penjajah, ketimbang potensi wisata alam. Tapi, jangan salah, kota ini juga memiliki pantai dengan garis membujur panjang, yang dekat dan mudah dijangkau dari pusat kota. Biasanya para pejalan berkeliling dulu di sejumlah objek sejarah, baru pada sore hari menyambangi pantai.

Saya melirik Bengkulu karena mencari destinasi yang relatif tidak jauh dari Jakarta serta bisa dieksplor dalam waktu kurang dari 24 jam. Setelah mencari, akhirnya saya menemukan kota ini sebagai tujuan yang pas. Saya bukan penggemar wisata sejarah golongan akut, namun saya penasaran dengan Bengkulu yang turut menyimpan kisah mengenai Presiden pertama negeri ini, Soekarno.

Nah, berikut rangkaian perjalanan saya ke Kota Bengkulu, yang hanya berdurasi beberapa jam saja. Mungkin ada di antara kamu yang berminat, silakan saja menuju lokasi-lokasi berikut ini.

1. Rumah Fatmawati
Lokasi : Jln. Fatmawati No. 10

Kota Bengkulu tidak bisa dilepaskan dari kisah percintaan Soekarno dan Fatmawati. Di kota inilah Soekarno bertemu pertama kali dan jatuh hati pada Fatmawati. Kediaman Fatmawati saat ini terbuka untuk umum dan buka dari jam 08.00-16.00 WIB. Saat ke sana, tidak ada penjaga atau petugas yang berada di rumah. Hanya ada beberapa pengunjung. Kesan lengang langsung menyergap saya. Tidak adanya petugas membuat saya mati kutu karena tak bisa ngobrol terkait peninggalan yang satu ini. Akhirnya, saya hanya ngobrol singkat dengan sesama pengunjung.

Rumah Fatmawati terbilang sederhana dengan bentuk panggung, rumah khas Bengkulu. Ada beberapa kamar di sana. Ada kamar tidur yang masih lengkap dengan tempat tidur dan perabotan lain. Di depan kamar itu, ada kamar lain yang berisi mesin jahit, mesin tik, dan sejumlah surat-surat. Konon, mesin jahit itu yang digunakan untuk menjahit bendera Merah-Putih yang dikibarkan di Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Soal kebenarannya, saya tidak tahu. Di ruangan depan, ada ruang tamu dengan foto-foto Fatmawati dan Soekarno. Ada pula koleksi buku lawas.

Rumah FatmawatiRumah yang pernah ditinggali Fatmawati ini kini berada di antara rumah-rumah warga yang berjejer rapi di sepanjang jalan. Bila tidak jeli, mungkin kita bisa melewatkan rumah ini. Hanya ada papan petunjuk standar yang menunjukkan bila rumah di belakang papan itu merupakan salah satu peninggalan sejarah bangsa ini.

2. Rumah Bung Karno
Lokasi : Jl. Soekarno-Hatta

Bila mengikuti lika-liku kehidupan Soekarno, kita pasti mengetahui bahwa tokoh kharimastik itu beberapa kali diasingkan oleh penjajah. Bengkulu jadi salah satu kota tempat pengasingan Soekarno, tepatnya pada 1938-1942. Letak rumah pengasingan Soekarno ini tidak jauh dari kediaman Fatmawati. Dari sana kami berjalan kaki dan disambut halaman luas begitu memasuki kawasan rumah Soekarno.

Berbeda dari rumah Fatmawati, rumah pengasingan Bung Karno ini terlihat mencolok dari tepi jalan. Lingkungan rumah pengasingan Soekarno juga terlihat asri dan jauh lebih “hidup” ketimbang kediaman Fatmawati. Bisa jadi karena pengunjung di pagi itu terbilang ramai. Kondisi rumah pengasingan ini juga lebih terawat. Untuk masuk, pengunjung dikenai tiket Rp 2.500 per orang.

Peninggalan di rumah Bung Karno di Kota Bengkulu ini, seperti mebel, sepeda onthel, koleksi buku hingga surat cinta untuk Fatmawati. Masih menurut kabar, di bagian belakang rumah Soekarno ini terdapat sumur yang airnya dipercaya berkhasiat. Perihal ini, saya baru mengetahuinya setelah tiba kembali di Jakarta. Ketika itu saya sempat hingga bagian ke belakang, tetapi tidak ngeh mengenai hal itu.

3. Benteng Marlborough
Lokasi : Jl. Ahmad Yani (dekat Pantai Tapak Paderi)

Sisa-sisa kemegahan langsung terasa begitu saya memasuki Benteng Marlborough. Tidak salah karena benteng yang dibangun East India Company (EIC) pada 1713-1719 ini disebut jadi benteng terkuat kedua yang dibangun Inggris di Asia setelah Benteng St. George di Madras, India.

Dari bagian atas benteng kita bisa melihat lautan lepas dan segera menyadari arti penting benteng ini, yakni sebagai garis terdepan pertahanan Inggris di masa kolonial. Dalam perjalanannya, Benteng Marlborough berpindah-pindah pemilik dan fungsi. Dikuasai Inggris, Belanda, Jepang, jadi markas TNI AD hingga resmi jadi cagar budaya dan objek wisata.

Dalam benteng terdapat banyak ruangan, seperti ruangan penjara dan amunisi. Juga ada beberapa buah meriam yang terletak di tengah benteng. Untuk masuk ke benteng ini, dipungut biaya tiket sebesar Rp 3.000.

Benteng Marlborough paling asyik dinikmati jelang sore saat cuaca sudah mulai meredup. Duduk di bagian atas benteng sambil menikmati lautan dari kejauhan, lumayan mengesankan. Sayang, saya ke sana sewaktu siang nan terik. Jadilah saya seperti dipanggang mentari he he he…

Dari Benteng Marlborough kita bisa menyambangi pecinan (kampung cina) tempoe doloe yang letaknya di samping bangunan. Gapura dengan corak naga seolah memberi ucapan selamat datang bagi tamu. Sekilas, lokasi ini cocok buat pencinta fotografi karena kawasan ini cukup oke dijadikan objek bidikan lensa.

Tidak jauh dari Benteng Marlborough ada pula Tugu Pers. Tugu yang diresmikan Presiden SBY pada Hari Pers Nasional 2014 ini diklaim jadi satu-satunya tugu pers di Tanah Air. Sekarang Tugu Pers itu jadi ikon baru Bengkulu dan cukup layak disambangi bila pas berada di seputaran Benteng Marlborough. Apalagi bagi kuli tinta seperti saya…

Tugu Pers4. Monumen Thomas Parr, Rumah dinas Raffles, Kerkhoff
Lokasi : Jalan Ahmad Yani dan Jalan Indra Caya

Monumen ini masuk daftar objek yang saya kunjungi. Sebelum sampai ke sana, saya membayangkan lokasi serta bangunannya berdiri megah. Ternyata, saya keliru karena monumen ini tidak mencolok. Apalagi di sekitar lokasinya saat ini terdapat pasar serta deretan pertokoan.

Saya, yang naik angkutan umum untuk mencapai monumen ini, akhirnya melewati begitu saja monumen itu dan malah berhenti di Kerkhoff (pemakaman lama) yang berjarak sekitar 1 kilometer dari situ. Ya sudah, sekalian saja saya berkeliling di makam yang jadi peristirahatan terakhir para pejabat maupun warga asing di era kolonial itu.

Kerkhoff di Kota Bengkulu sudah dipepet rumah-rumah warga. Saat asyik melihat sekeliling, saya didatangi seorang ibu yang mengaku penjaga makam dan meminta sumbangan serelanya. Tidak berbeda jauh dengan Kerkhoff di beberapa kota yang pernah saya datangi, terdapat nisan-nisan besar dengan beragam model. Mayoritas makam di sana nyaris berusia 100 tahun. Hanya, saya tak tahu apakah jasad empunya nisan memang berada di sana hingga saat ini ataukah sudah dipindahkan seperti halnya di Museum Prasasti di Jakarta.

Seusai mengunjungi Kerkhoff saya memutuskan balik ke tujuan semula, Monumen Thomas Parr, dengan berjalan kaki. Hari yang sudah beranjak sore membuat langkah kaki terasa ringan. Saya sempat berhenti dan menyesap jus yang dijajakan di samping rumah Gubernur Inggris, Thomas Stamford Raffles. Oh ya, jadi Benteng Marlborough, Monumen Thomas Parr, Rumah Gubernur, dan Kerkhoff lokasinya berdekatan sehingga bisa dikunjungi sekaligus.

Saya tidak masuk ke bagian dalam rumah dinas Raflles, hanya melihat dari samping dan depan saja. Banyak rusa berkeliaran bebas di halaman rumah yang sekarang jadi kediaman Gubernur Bengkulu itu. Di depan rumah gubernur itu terdapat alun-alun yang di sekelilingnya banyak penjual makanan. Nah, di dekat situlah Monumen Thomas Parr berada.

Dari sejarah yang saya baca via hasil gugling, saya menemukan fakta yang cukup bikin merinding di balik alasan Inggris membangun monumen yang oleh warga lokal akrab dinamai makam Bulek ini. Fakta yang seperti apa, saya sarankan kamu mencari tahu sendiri…

Sore itu, Monumen Thomas Parr diramaikan dengan sejumlah anak-anak sekitar yang bermain di halaman monumen. Halaman yang lumayan agak lapang itu dimanfaatkan mereka dengan bersepeda dan bermain sepatu roda.

5. Masjid Jamik
Lokasi: Jalan Soeprapto

Masjid yang sekarang berada di Jalan Soeprapto ini sangat lekat dengan Soekarno. Hal itu karena dalam masa pembuangannya di Bengkulu, presiden pertama RI itu mendesain ulang masjid yang semula hanya surau. Jadi, Masjid Jamik yang kita lihat saat ini tersebut merupakan buah pikiran Soekarno.

Masjid ini memiliki gaya atap unik, berbentuk kerucut (limasan), dan dibangun tanpa tiang penyangga. Selain mendesain, pembangunan masjid ini juga atas pengawasan Soekarno.

Letak Masjid Jamik sangat strategis, memudahkan setiap jemaat atau pengunjung yang ingin mengunjungi bisa dengan mudah sampai ke lokasi ini. Lantaran nilai historinya, Masjid Jamik termasuk salah satu cagar budaya di Kota Bengkulu dan jadi salah satu objek wisata religi. Kebetulan, lokasi masjid ini dekat dengan hotel tempat saya menginap dan mencari makan, sehingga bisa saya lihat setiap saat. Atapnya yang berwarna jingga dan bentuknya yang unik cukup menarik perhatian.

Selain lokasi-lokasi itu, Bengkulu masih memiliki sejumlah objek lain yang menarik untuk dikunjungi seperti Pantai Panjang. Bila punya waktu lebih panjang, bisa juga berburu bunga kebanggaan Indonesia: Rafflesia Arnoldi di Cagar Alam Taba Penanjung, yang terletak di kabupaten Bengkulu Tengah, sekira satu jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor dari Kota Bengkulu.

Sayang saya tidak sempat menyambangi Pantai Panjang. Semula saya berencana nongkrong di pantai pada sore hari agar tidak terpanggang matahari. Tetapi, rencana itu gagal karena cuaca tiba-tiba mendung dan hujan turunsangat deras sesorean itu. Alhasil, saya memutuskan untuk mencoba kuliner Bengkulu. Namun, saya sempat kebingungan karena tidak mendapatkan referensi warung makan yang menjajakan kuliner atau penganan khas Bengkulu di seputaran Jalan Soeprapto, yang merupakan salah satu jalan utama di kota ini.

Singkat cerita, setelah seharian berkeliling di Kota Bengkulu dan menginap pada Sabtu malam, keesokkan harinya saya kembali terbang pulang ke Jakarta. Perjalanan dari kota ke bandara Fatmawati memakan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota. Lagi-lagi saya memanfaatkan angkutan kota yang lewat di depan hotel tempat saya menginap untuk  saya sewa dan mengantar saya airport. Cukup praktis. Bagaimana, kamu tertarik berkeliling Kota Bengkulu seharian?

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s