What a Night in KL!

Saya melangkah dengan terseok-seok menjauhi Menara Kembar Petronas. Mata saya menatap nanar ke depan, sambil sesekali membetulkan tas Bapak yang semakin terasa membuat tangan pegal. Meski saya dan Bapak menenteng tas itu bersama, rasanya kian bertambah berat saja. Di depan, Akbar, Yus Mei, dan Krisna berjalan ringan. Saya mengutuki diri sendiri mengapa stamina saya begitu jelek.

Malam itu saya benar-benar sudah lemas tak karuan. Lesu dan gontai. Bisa jadi karena ini hari terakhir perjalanan kami. Petronas Tower yang baru saja kami kunjungi memang semakin jauh di belakang. Tapi, berapa lama lagi kami sampai ke tujuan di Bukit Bintang? Kaki ini sudah semakin sulit digerakkan. Di tengah keletihan itu, pikiran saya langsung melayang mengingat lagi kejadian demi kejadian seharian ini. Mulai dari hendak ketinggalan pesawat di bandara Da Nang sampai tiba di Petronas.

Kami berlima beruntung tak ketinggalan pesawat yang membawa ke Kuala Lumpur. Ceritanya sepele. Kami mengira panggilan yang kami dengar, ditujukan kepada penumpang tujuan Singapore, dan bukan Kuala Lumpur. Bunyi ‘ur’ yang diucapkan dalam Bahasa Inggris dengan aksen Vietnam, gagal kami pahami. Sampai, awak pesawat mendatangi dan menyuruh kami bergegas ke pesawat. Ternyata panggilan yang tadi kami dengar adalah untuk pesawat kami. Kami juga baru sadar setelah ruang tunggu bandara tiba-tiba jadi sepi. He he he.

Sampai di LCCT, jam sudah menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat. Kami diburu waktu demi bisa sampai Petronas dan menikmati icon KL tersebut sebelum lampu dimatikan dan bertemu petugas keamanan yang bengis terhadap pelancong dari Indonesia yang berkeliaran hingga larut. *INI KUALA LUMPUR! Sambil menggendong ransel yang lumayan berat kami langsung ngacir menuju pul bus yang membawa penumpang ke KL Sentral. Perjalanan kami sempat tersendat akibat macet sebelum memasuki kota.

Dari KL Sentral kami langsung menuju Stasiun Monorail. Nah, di sinilah kesalahan berawal. Kami tidak ngeh, bahwa untuk menuju Petronas akan lebih baik kalau turun di Stasiun Bukit Nanas ketimbang Bukit Bintang karena jaraknya lebih dekat. Tujuan kami satu-satunya malam itu memang hanya ke Petronas. Jika bukan demi mengantar Bapak, Akbar, dan Krisna melihat spot wisata di kawasan Mal Suria KLCC itu, saya enggan ke sana lagi.

Sampai di kawasan depan Petronas kami disambut hujan rintik-rintik. Badan yang sudah basah keringat semakin lengket bercampur air hujan. Serunya lagi, setelah mengambil beberapa foto berlatar belakang Petronas, kami kembali berjalan kaki lagi ke Bukit Bintang. Kali ini, bisa jadi rutenya memutar dan justru tambah jauh dari saat kami berangkat.

Saat berjalan di bawah monorail, kami baru ngeh, mengapa tak naik dari Stasiun Bukit Nanas untuk kembali ke kawasan KL Sentral dari pada dari Bukit Bintang? Kami hanya bisa tertawa kecut menyadari hal itu. Kami memaklumi diri sendiri mengingat kami memang tidak membuat itinerary khusus untuk perjalanan hari terakhir di KL. Semuanya serba spontan dan go show.

So, kami berjalan, berjalan, dan terus berjalan… Sampai kaki ini terasa kaku, ditambah perut lapar dan badan terasa sangat lengket. Akhirnya kami tiba di McD Bukit Bintang dan memesan makanan. Perut saya yang semula kelaparan, mendadak menolak diisi. Sambil memandangi Bapak dan rekan-rekan yang sedang bersantap, saya bersyukur Bapak tidak mengeluh sama sekali. Fisiknya yang menua masih oke diajak jalan-jalan malam dengan bawaan lumayan berat. Justru saya yang kepayahan 😉

Seusai makan kami mencari taksi untuk kembali ke kawasan KL Sentral karena jam operasional monorail sudah habis. Saat itu sudah lewat tengah malam. Lantaran kami berlima, ada taksi yang enggan membawa kami. Untung saja ada yang bersedia. Kebayang, kami berempat berdesak-desakan di kursi belakang sementara Bapak duduk di depan. Bagasi taksi juga penuh barang-barang kami. Seru! ha ha ha.

Keseruan itu terus berlanjut di penginapan. Karena hanya digunakan kurang dari lima jam, kami mencoba bernegosiasi dengan pemilik penginapan untuk mengizinkan kami berlima menggunakan satu kamar saja. Kami belum beruntung di penginapan pertama yang kami datangi. Resepsionis memberi harga yang kami rasa kelewat mahal untuk durasi pemakaian kurang dari lima jam.

Maka, Yus Mei, Akbar, dan Krisna mencoba berkeliling mencari penginapan lain. Saya dan Bapak menunggu sambil terkantuk-kantuk di depan penginapan pertama. Mereka bertiga datang dan membawa kabar baik jika sudah deal dengan penginapan yang letaknya di daerah belakang penginapan pertama. Kami mendapat kamar di lantai atas Joy Inn Hotel. Semua kamar memang terletak di lantai atas karena lantai dasar digunakan sebagai mini market. Kondisi kamar basic. Ya, cukuplah untuk beristirahat 2-3 jam sebelum ke LCCT untuk flight kembali ke Tanah Air.

Seperti di taksi, kami pun berdesak-desakan dalam satu kamar. Selimut kami gelar di lantai sebagai alas tidur. Kalau ingat kejadian-kejadian sepanjang malam itu, saya suka geli sendiri.  What a night in Kuala Lumpur!

Sesudah sarapan, pagi itu kami pun berpisah di LCCT. Bapak, Akbar, Krisna, dan Yus Mei terbang lebih dulu ke Yogyakarta sedangkan flight saya ke Jakarta masih 1,5jam sesudah mereka. Saya hanya bisa bersyukur seluruh agenda perjalanan kami selama lima hari di Malaysia-Vietnam berjalan lancar. Saya senang bisa membuat Bapak senang. Well done, Bapak dan Sahabats. Someday, kita pasti jalan bareng lagi. Bukan begitu Pak? 😀 <TAMAT>

Advertisements

2 thoughts on “What a Night in KL!

  1. Bukit Nanas? Baru denger. Kalo aku sih dari KL Sentral naik LRT turun di KLCC. Stasiun KLCC tepat berada dibawah Petronas Tower.

    Like

    • Hahahaa next time kalo ke sana lagi, sarannya pasti ditiru :p
      Kalo Bukit Nanas itu setauku stasiun monorail sehabis Bukit Bintang. Kan rutenya monorail KL Sentral-Titiwangsa…

      Like

Comments are closed.