Menyusuri Pantai Tetangga (Part 1)

Sebelum menyusuri deretan pantai selatan di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul, saya dan bapak melongok pantai di Kabupaten Kebumen. Sudah agak lama juga sih, bahkan saya sudah kesana beberapa kali. Meski begitu kesan yang saya rasakan di setiap objek selalu berbeda dalam setiap kunjungan.

Di Pantai Karangbolong misalnya. Dulu, waktu kali pertama kesini, saya mengingat Karangbolong sebagai pantai yang asik. Bisa bermain di sisi timur pantai karena airnya dangkal, plus melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang di sejumlah batu karang. Juga melewati ‘karangbolong’nya untuk kemudian disambut deburan ombak di sisi seberang goa.

Ingatan seperti itulah yang membawa saya ke pantai itu untuk kedua kalinya beberapa bulan lalu. Namun tak seperti dulu di mana kunjungan kami murni hanya ke Karangbolong, kedatangan kali ini juga bermaksud melihat pantai-pantai lain di kanan kiri Karangbolong.

Tak sampai memakan waktu dua jam perjalanan, kami sampai di pantai pertama tujuan kami yakni Pantai Suwuk. Oiya, dari rumah kami mengambil rute melalui Jalan Daendles, terus ke arah barat. Sebuah jalur yang sebenarnya sudah lama ada tapi masih sepi peminatnya. Mungkin kondisi jalannya yang relatif sempit dan tak selalu mulus menjadi pertimbangan tersendiri. Padahal jika melalui jalan ini dari arah Yogyakarta menuju Gombong, Cilacap, ataupun Purwokerto, bisa menyingkat waktu tempuh cukup lumayan lho..

Back to Pantai Suwuk, kami tak lama disini soalnya viewnya tak beda jauh dengan pantai-pantai di Purworejo he he.. Kami melanjutkan perjalanan menuju pantai berikutnya. Pantai Karangbolong menjadi pantai terdekat lokasinya dari Pantai Suwuk. Jangan salah, meski saya mengatakan ‘dekat’ tapi
sebenarnya terasa tak dekat. Ini karena untuk mencapai Pantai Karangbolong kita harus mendaki bukit dengan medan jalan menanjak (namanya juga mendaki) dan berkelok-kelok.

Dengan alasan sudah pernah kesana, kami memilih tak berhenti dan terus memacu motor menuju pantai Ayah dan Pantai Logending yang terkenal itu. Namun, dalam hati kenangan saya akan Pantai Karangbolong membuat saya ingin kembali ke sana lagi.

Di jalan menuju Pantai Ayah dan Pantai Logending kami melihat ada beberapa papan penunjuk jalan ke sejumlah pantai yang namanya tak familiar bagi kami. Setelah melewati jalan yang aduhai (baca: naik turun curam belokan tajam ke kanan dan atau ke kiri sampai gas pol rem pol wkwkw) kami menemukan satu tempat yang cukup bagus untuk melihat pemandangan lautan dari ketinggian. “Itu pantai tujuan kita”, kata bapak sambil menunjuk lokasinya. Kami pun segera melanjutkan perjalanan kesana.

Tak lama sampai juga di Pantai Ayah dan Pantai Logending. Kedua pantai ini lokasinya berjejeran sangat. Saya sempat bingung, saya pikir Pantai Ayah itu ya Pantai Logending. Tapi kata bapak bukan. Itu dua pantai berbeda katanya. Yaah whatever deh he he.. Kami hanya berhenti di pinggir jalan (tidak masuk ke lokasi wisata pantainya) sambil mendinginkan mesin motor. Saya dan bapak pun berbincang. Bapak bertanya sebaiknya rute mana yang kami ambil untuk pulang. Sama seperti kami berangkat atau memilih rute ‘jalan raya’ melewati Gombong-Kebumen-dst hingga Purworejo. Wah tentu saja saya pilih opsi yang pertama. Sebelum berputar kembali kami menyempatkan diri meneruskan perjalanan sebentar hingga melewati jembatan yang sekaligus menjadi batas wilayah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Cilacap.

Karena mengambil jalan pulang sama seperti rute berangkat, kami sepakat untuk melihat pantai-pantai yang namanya tertera di papan petunjuk yang kami jumpai sebelumnya.”Pantai Manganti“. Begitu tulisan yang kami baca. Karena tak yakin dengan arah yang ditunjukan di papan, kami pun bertanya pada salah seorang penduduk. Katanya pantai itu masih sekitar tiga kilometer lagi. Ya sudah kami kesana. Ealah ternyata jalannya kembali aduhai nian. Dan sepertinya mas yang tadi kami tanyai salah deh. Bukan tiga kilometer tapi kami yakin lebih dari itu jaraknya. Lha jauh gitu… Tapi semuanya terbayar tatkala kami melihat cakrawala bisa ‘sejajar’ dengan kami. Persis seperti pemandangan di Pantai Ngobaran, Gunung Kidul. *nyesel saya gak bawa kamera coz viewnya bagus banget.

Kami mendapat pemandangan yang tak kalah indah saat semakin mendekati Pantai Manganti. Dari ketinggian di atas bukit kami melihat puluhan perahu nelayan terparkir rapi di pantai dengan pasir putih! Tak sabar rasanya kami untuk segera turun dan melihat dari dekat pantai itu. Ternyata pantainya cukup mungil dan dipenuhi dengan perahu-perahu nelayan. Pantai yang juga terkenal dengan nama Menganti ini menjadi salah satu lokasi penghasil ikan segar di Kabupaten Kebumen. Saat kami di sana, jual beli ikan antara nelayan dengan para pemborong masih berlangsung, dan kami juga sempat melihat nelayan berangkat melaut dan pulang dari melaut membawa hasil tangkapan.

Uniknya, karena lokasi pantai ini seperti tersembunyi, dalam bahasa gaulnya mungkin disebut sebagai teluk, gelombang lautnya sama sekali tak mencerminkan sebagai gelombang laut selatan yang terkenal beringas 🙂 Yang terlihat saat itu gelombangnya begitu ‘halus’.. Pantas saja di sini menjadi salah satu pusat kegiatan nelayan.

Dari sini kita juga bisa melihat bukit-bukit yang berada di sisi kanan kiri dan belakang pantai, menambah semarak pemandangan yang ada, pantainya juga bersih. Setelah puas menikmati Pantai Manganti kami bergegas menuju pantai berikutnya yakni Pantai Pasir. Tak beda dengan Pantai Manganti, Pantai Pasir juga menjadi pusat aktivitas nelayan, bahkan terlihat skalanya lebih besar. Sambil melihat aktivitas nelayan di lautan lepas, saya melihat ada pemandangan menarik di sana. Ada batu karang yang menyerupai pintu berdiri di tengah lautan. Sangat kontras dengan pemandangan di sekelilingnya. (jadi ingat batu karang di James Bond Island:) Terkait dengan batu karang mirip pintu itu, konon, Pantai Pasir ini diyakini sebagai pintu gerbang menuju istana penguasa laut selatan, Nyi Roro Kidul. *Lagi-lagi nyesel gak bisa motret-motret 😦

Dalam perjalanan pulang saya minta pada bapak agar bersedia mampir di Pantai Karangbolong. Sudah aku bilang ‘kan saya punya kesan bagus akan pantai itu? Namun setelah berada di sana, saya tak lagi mendapati Pantai Karangbolong seperti dalam ingatan. Sudah jauh berubah pantai ini. Kondisinya terasa gersang. Tempat di mana dulu saya bisa bermain air sekaligus melihat ikan warna-warni tak terlihat lagi.

Bahkan saya merasa takut berjalan melintasi ‘karangbolong’ yang terkenal sebagai sarang burung walet itu. Tak tahu mengapa tapi rasanya ngeri gitu. Unsur mistisnya tiba-tiba mencuat setelah aku melihat sisa-sisa sesaji tersebar hehe.. Mana sampah dari lautan teronggok begitu saja di bibir pantai. Duh hilang sudah kesan indah akan pantai ini berganti kenangan baru yang kurang menyenangkan. Kalau sudah begini tak perlulah berlama-lama di sana. Kami pun memacu motor pulang kembali ke rumah tercinta.

Sebelum memasuki wilayah Kabupaten Purworejo, kami berhenti di Kecamatan Ambal. Apalagi kalau bukan untuk menikmati sate ayamnya yang terkenal itu. Wah mak nyuss beneran nih sate. Ditambah es teh, perut yang tadinya menjerit-jerit kelaparan berhenti sudah 🙂

Advertisements