For Better For Worse

Berburu chicklit obralan di Gramedia menjadi hobi baru beberapa pekan terakhir ini. Tapi sayangnya, seiring usainya masa ‘pameran’, chicklit-chicklit dengan harga murah itu kian sulit ditemukan. Sepertinya stoknya sudah mulai habis.. Beruntung kemarin saya masih bisa mendapatkan satu judul lagi, For Better For Worse, karya Carole Matthews.

Saat membalik bukunya untuk membaca resensi singkatnya, saya tertarik membaca cerita komplitnya. Kayaknya chicklit yang satu ini bakalan punya story menarik. Dan ya, buku setebal 442 halaman ini tak mengecewakan dan cukup menghibur (baca: bisa membuat saya senyum-senyum geli saat membacanya).

Bahkan saya bisa mendapatkan pencerahan dari buku ini. Sesuatu yang tidak saya dapatkan dari chicklit-chicklit sebelumnya yang murni menghibur aja. Alhasil, saya hepi. Dengan duit cuma sepuluh ribu rupiah, saya memperoleh hiburan plus pelajaran 🙂

Berbeda dengan chicklit sebelumnya yang saya baca, For Better For Worse mempunyai beberapa tokoh yang bisa dibilang masing-masing punya peran sentral dalam membangun cerita dua tokoh utamanya, Josie Flynn dan Matt Jarvis. Biasanya tokoh-tokoh lain muncul sebagai pemanis cerita saja, tapi pada buku yang dialihbahasakan menjadi Dalam Suka dan Duka ini, kehadiran tokoh-tokoh lain tersebut, membuat kuat cerita. Hasilnya, ‘dialog-dialog’ yang terjadi diantara para tokoh ini cukup berbobot. Bisa jadi bahan perenungan gitu maksudnya he he…

Seperti misalnya dialog antara Josie dengan sepupunya, Martha Rossani. Juga sikap Damien Flynn terhadap Josie, yang sama bingung dan ragu-ragunya seperti sikap Martha terhadap Jack Labati dan Glen Donnelly.

Asyiknya cerita yang sebenarnya simple tapi berbobot ini tak melupakan unsur komedi di dalamnya. Seperti cerita Damien dengan bebek-bebeknya, juga  saat Matt Jarvis menginterview boyband Headstrong. Asli bikin ngekek geli wkwk.. Endingnya juga bagus, mengambil setting di Central Park. Romantis euy:)

Dengan harga super murah, buku ini layak banget dibeli. Memang sih di awal cerita sempat membosankan. Kadang terlalu deskriptif hingga justru membuat saya agak kerepotan memahami maksudnya. Apalagi Carole Matthews memakai gaya penulisan orang ketiga, tak seperti chicklit lain yang rata-rata ditulis dari sudut pandang sang pengarang sendiri. Tapi mulai pertengahan hingga akhir, ceritanya asyik kok.

Oiya, kurang afdol jika tak menyertakan resensi chicklit ini menurut versi saya.  So singkatnya, Josie Flynn sebentar lagi resmi menyandang status janda lantaran pernikahannya dengan suaminya, Damien Flynn di ujung tanduk. Damien berselingkuh dengan sekretarisnya. Sudah pasti hati Josie hancur.

Dalam perjalanan ke New York untuk menghadiri pernikahan sepupunya, Martha, di dalam pesawat Josie duduk bersebelahan dengan jurnalis musik, Matt Jarvis. Sama dengan Josie, Matt juga mengalami kegagalan dengan pernikahannya. Siapa menduga pertemuan itu menjadi awal bagi keduanya untuk kembali merasakan benih-benih cinta?

Sementara itu, ‘kekacauan’ terjadi di pesta pernikahan Martha. Tak disangka, yang menjadi aktor pelaku kekacauan tersebut ya Martha sendiri! Bagaimana bisa? He he he silakan membaca untuk lebih lengkapnya..

Fav quotes from this book:
–> “kau jangan menikah dengan orang yang menurutmu kau bisa hidup dengannya, tapi menikahlah dengan orang yang menurutmu kau tak bisa hidup tanpanya.” (Josie to Martha)
–> “senang mengetahui bahwa kekuatan pena ternyata lebih hebat daripada pukulan tinju mana pun.” (Matt to Holly. Hidup jurnalis! hehe)
–> “kau tak boleh menyesali hal-hal yang sudah kau lakukan, tapi sesalilah hal-hal yang belum kau lakukan”. (Josie to Martha, again)

Pengarang: Carole Matthews
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 442 lembar
Cetakan pertama, Agustus 2004

Advertisements