Susahnya Cari Makan di Da Nang

Selain kunjungan ke beberapa objek wisata, kunjungan singkat kami ke Da Nang menyisakan cerita seru lain. Kali ini menyangkut soal kuliner alias makanan. Sejak sampai di Da Nang, kami sudah merasa lapar. Maklum kami belum sarapan semenjak meninggalkan Hoi An dan beraktivitas di Marble Mountains. Jadilah kami yang kelaparan berat langsung berkeliling mencari warung makan di sekitar hostel.

Nampaknya, Da Nang bukan kota keberuntungan kami dalam hal kuliner. Sudah berkeliling hampir dua blok, kami tak jua menemukan warung makan yang cocok. Di dekat hostel tempat kami menginap memang ada beberapa warung makan, tetapi kami sangsi apakah menu mereka halal atau tidak. Dari luar, aroma masakan olahan daging babi mengurungkan niat kami untuk bertanya. Saya, Bapak, dan Krisna sih oke-oke saja mengkonsumsi daging B1. Tapi tentu tidak untuk Yus Mei dan Akbar.

Kami memutuskan memperlebar ruang pencarian. Setelah ke sana ke mari, akhirnya kami menjumpai sebuah restoran yang menyajikan menu masakan Italia seperti pizza dan teman-temannya. Usai mempertimbangkan dengan alot karena harus berhemat, kami memasuki restoran itu dan memesan menu dengan porsi orang kelaparan he he he.

Agak was-was juga berapa total yang harus dibayar untuk pesanan tersebut. Tetapi, kami berpikir keputusan ini lebih baik ketimbang menyewa taksi untuk membawa kami ke resto cepat saji semacam KFC yang letaknya jauh dari wilayah hostel. Kurang efisien dari sisi waktu dan bujet. Ternyata, untuk semua pesanan tadi kami hanya membayar sekitar 300.000VND. Terbilang wajar 🙂

Nah, kejadian sulit mencari makan kembali terulang saat malam tiba. Gara-gara memilih nonton pertandingan uji coba Vietnam versus Wahyu Wijiastanto cs., kami tak sadar jika toko-toko sudah mulai tutup. Padahal saat itu baru sekitar pukul 21an kurang. Agak aneh juga karena sebagai kota besar denyut Da Nang melemah menjelang pukul 21.00. Kami bergegas kembali ke hostel karena lagi-lagi gagal menjumpai warung makan yang sesuai. Di hostel, pengelola hostel menyarankan kami menuju sebuah pusat perbelanjaan yang mungkin masih buka.

Dengan motor rental yang kami gunakan sesiang tadi, saya dan Akbar bergegas menuju lokasi yang dimaksud dengan berbekal peta pemberian pengelola hostel. Wah, saya lega begitu melihat mall itu masih buka. Langsung saja saya menuju restoran siap saji sesuai petunjuk pengelola hostel. Rupanya dewi fortuna tak memihak kami. Resto itu baru saja tutup. Harapan untuk menikmati nasi melayang karena di dua resto lain di mall tersebut juga sudah tutup.

Di resto terakhir yang kami datangi, merekomendasikan untuk datang ke KFC yang tak jauh dari sana dan katanya buka 24 jam. Senyum langsung mengembang di wajah saya. Motor kami pacu ke tujuan. Dan benar, KFC itu masih buka! Saat itu kondisi KFC sepi. Hanya ada kami sebagai pembeli. Dengan semangat, saya mulai memesan beberapa menu. Dan jawaban pelayan sungguh menyesakkan dada; “Maaf, menu nasi dan ayam sudah habis. Hanya tersisa ini, ini, dan ini,” kata mbak pelayan sambil menunjuk kentang, sop, serta nugget di daftar menu.

Apa mau dikata. Seharian ini kami memang tak ditakdirkan makan nasi. Dan yang lebih dramatis, sesudah melayani pesanan kami, KFC itu langsung tutup! Nyaris saja! Saya pun bingung, karena katanya KFC itu buka 24 jam…

Btw, dalam perjalanan pulang ke hostel saya menjumpai banyak penjual makanan lokal, entah apa namanya. Ada gerobag dan di dekatnya ditata kursi-kursi sedemikian rupa. Saya juga tak tau menu apa yang mereka masak karena semuanya ditulis dalam bahasa lokal. Hmmm Da Nang memang tak terlalu ramah wisatawan asing seperti kami…

Kejadian susah makan ini berbeda dengan sewaktu kami di Hoi An. Mungkin karena Hoi An sudah sadar wisata, segala sesuatunya mudah bagi wisatawan. Di depan hostel saja sudah ada warung makan yang masakannya lumayan enak. Terutama, ice coffee dan kentang gorengnya. Di pinggir sungai Bach Dang bahkan variasi menu lokalnya lebih banyak dan ramah untuk wisatawan muslim, termasuk menu nasi.

Dua malam di Hoi An, kami cocok makan di sana dan menjajal beberapa menu khas, seperti Cao Lao. Konon salah satu resep kelezatan Cao Lao berasal penggunaan air murni dari sumur-sumur Hoi An yang dikenal selama generasi ke generasi. Ditambah dengan potongan daging babi, Cao Lao Hoi An sungguh mantap!

Menu mie di Vietnam memang juara. Sama seperti saat kami makan di salah satu gerai resto di bandara Da Nang sebelum kami bertolak kembali ke Kuala Lumpur. Kami memesan rice noodle soup. Pesanan datang dalam porsi besar, dan kami sikat dengan sukses! ha ha ha.

pic from wiki

Selain nasi dan mie, kami juga sempat mencicipi banh mi, alias Vietnamese sandwich. Banh mi ini menggunakan roti jenis baguette, khas Prancis yang gede dan keras itu. Seperti yang saya tulis di postingan mengenai Hoi An, banh mi merupakan salah satu wujud akulturasi kuliner. Kami mencicipi banh mi sebelum perjalanan ke My Son. Tapi sayang, saking keras dan besarnya, saya kesulitan menggigit makanan tersebut. Dan di bagian dalam roti, yang diisi bermacam sayuran, terasa asin. Meski begitu, Hoi An jauh lebih memudahkan urusan perut kami ketimbang Da Nang. <BERSAMBUNG>

Advertisements

2 thoughts on “Susahnya Cari Makan di Da Nang

Comments are closed.