Pantai Gesing Pelepas Rindu

Melakukan perjalanan dengan bapak. Itu salah satu hal yang saya rindukan selama setahun terakhir ini. Kadang berpikir, kapan bisa punya waktu mengulang masa-masa 2009-2010 lalu. Saat itu saya dan bapak sering jalan berdua, ke mana saja. Ke Pangandaran, Blitar, Puncak Suroloyo, sampai beberapa kali menyisir pantai-pantai selatan di wilayah DIY dan Jateng dengan boncengan naik motor.

Kerinduan kian memuncak seiring pekerjaan yang kadang bikin pusing. Maka, ketika momen pulang pas natal kemarin tiba, tentu tidak saya sia-siakan. Pas ada waktu luang, bapak langsung saya ajak jalan. He he he untung saja bapak bersedia. Jadilah kami kembali ke jalanan, dengan motor kesayangan, melaju menyisir pantai selatan Gunung Kidul lagi.

Pantai Gesing menjadi tujuan kami satu-satunya. Terus terang saya tertarik ke pantai yang terletak di desa Girikarto, Kecamatan Panggang itu karena nonton foto-foto yang saya liat beberapa hari sebelum pulang. Kalau diurutkan, pantai ini ‘bersebelahan’ dengan Pantai Ngrenehan, Ngobaran, dan Nguyahan yang sudah pernah kami kunjungi pada 2010 lalu. Jadi bisa dibilang pantai yang satu ini keselip he he he.

Karena sudah tau jalannya, perjalanan ke sana terbilang mudah. Ditambah dengan kondisi jalanan di selatan Yogyakarta yang cukup mulussss, langsung saja kami tancap gas ke TKP.

Ternyata kepedean kami membuahkan kejadian lucu. Bapak yang jadi navigator justru salah arah dan sempat membuat kami kesasar sampai harus berputar-putar. Tak apa sih, hanya kejadian ini sempat membukakan saya kalau mungkin daya ingat bapak mulai menurun seiring usianya yang semakin sepuh.. 😦

He he he enough momen melow-nya. Setelah berkendara selama dua jam, sampai juga kami ke lokasi. Di ‘gerbang masuk’, kami dimintai uang sebesar Rp 2000. Entah untuk parkir atau bea masuk pantai. Tapi dari info yang saya dapat, sebenarnya untuk masuk pantai ini tak dipungut biaya. Itu karena Pantai Gesing belum menjadi destinasi bagi wisatawan. Lokasinya yang agak terpencil menjadi salah satu alasan mengapa objek wisata yang satu ini belum terkenal.

Di bawah terik matahari, karena kami tiba sekitar pukul 12.30 WIB, saya langsung menikmati view Pantai Gesing. Hmmm perpaduan dari Pantai Ngrenehan dan Ngobaran menurut saya. Di satu sisi, ada semacam teluk mirip di Ngrenehan sehingga nelayan bisa melaut dari sini. Di sisi lainnya, mirip Ngobaran di mana dari atas kita bisa menikmati view lautan yang dihiasi tebing curam dan batu-batuan. Sudah, hanya itu :p Melihat kondisinya, pantai ini bukanlah lokasi yang ideal untuk main air. Tapi bisalah kalau hanya sekadar basah-basahan..

Pantai Gesing memang baru menggeliat menjadi objek wisata seiring fungsinya menjadi Tempat Pelelangan Ikan (TPI), tepatnya sejak penduduk sekitar berani melaut dari sana pada 2005 lalu. Di dekat pantai ada warung-warung kecil yang menerima pesanan sea food gitu. Tapi, jangan bayangkan seperti di Pantai Depok, Kukup, Krakal, Baron, yang sudah rame. Di Pantai Gesing semua masih sederhana. Kami pun hanya menikmati segelas teh panas dengan gula batu sambil ngobrol santai dengan penduduk yang kebetulan berada di warung yang sama.

Setelah jalan-jalan di pantai sebentar, kami memutuskan pulang. Singkat, namun berkesan karena keinginan jalan dengan bapak bisa kesampaian. Yang sehat ya Pak.. Taun ini jika Tuhan berkenan, kita masih punya agenda perjalanan yang lebih jauh lagi. 🙂

Advertisements