Campur Aduk di Kinahrejo

Di sisa liburan saya, saya ditemani dengan keluarga menyempatkan diri mengunjungi Dusun Kinahrejo di Sleman. Yup, dusun yang cukup ternama saat peristiwa meletusnya Gunung Merapi pada Oktober 2010 lalu. Di dusun ini pula pernah tinggal sosok Mbah Maridjan yang fenomenal itu.

Kami sampai di TKP sekitar pukul 15.00 WIB. Untuk mencapai lokasi dusun Alm. Mbah Maridjan, kami masih harus berjalan lebih kurang satu kilometer. Karena medannya naik turun, hanya saya dan bapak yang naik ke lokasi. Yang lain pilih menunggu di bawah sambil menikmati panganan khas seperti tempe dan tahu bacem, jadah, serta pecel yang banyak dijual oleh penduduk.

Dasar jarang olah raga, perjalanan ke atas cukup ‘terasa’ juga buat saya. Ngos-ngosan, tapi kami sepakat melanjutkan jalan kaki dan tak mengindahkan tawaran ojek yang menawarkan mengantarkan kami ke atas dengan membayar Rp 20 ribu sekali jalan. Tanggung, karena sebenarnya rutenya tidak jauh.

Oya, di area parkiran di bawah, pengunjung yang tak mau berjalan kaki selain menumpang ojek juga bisa menyewa motor trail. Ongkosnya bervariasi dari Rp 50 ribu-Rp 250 ribu, tergantung durasi dan panjang pendeknya rute tur.

silakan disewa :)

Sambil menikmati view Gunung Merapi yang berada tepat di depan kami, sampailah kami di lokasi tujuan. Ternyata cukup banyak wisatawan yang datang. Mereka berbondong-bondong mengikis rasa penasaran untuk melihat secara langsung dusun Alm. Mbah Maridjan yang porak-poranda diterjang awan panas Gunung Merapi hingga merebut hampir 40 korban jiwa, hanya di dusun itu saja.

Sambil melihat lokasi, saya berpikir… Wisata ‘napak tilas’ semacam ini terkadang membuat saya salah tingkah. Jika dipikir-pikir, lokasi itu pernah dan mungkin masih menjadi sumber duka dan air mata bagi keluarga korban. Lantas bagaimana bisa sekarang kami datang ke sana, dan foto-foto narsis di lokasi sambil tertawa riang? Seperti tidak menghormati kesedihan keluarga korban.

Tapi, di sisi lain, mungkin inilah salah satu cara apik untuk tetap mengenang korban dan bencana yang terjadi. Setiap pengunjung, pada titik tertentu pasti akan terbawa oleh suasana. Membayangkan seperti apa dahsyatnya kejadian itu, bagaimana seandainya itu terjadi pada kita atau anggota keluarga kita. Dan pada titik lainnya, kita bakal menaruh simpati pada korban dan keluarga yang ditinggalkan.

ramai dikunjungi wisatawan

bekas rumah mbah maridjan

Setidaknya itu yang saya alami tatkala melihat sendiri lokasi bekas dusun Alm. Mbah Maridjan yang kini sudah rata dan beralaskan pasir hasil letusan. Adanya dua motor dan sebuah mobil yang terkena awan panas yang dipajang, serta sebuah baliho besar yang memuat kronologis bencana, semakin membuat saya terhanyut dalam suasana. Sedih dan haru pun sempat menyeruak.

Mungkin perasaan seperti ini akan kita rasakan ketika kita mengunjungi lokasi bekas bencana yang kini beralih menjadi objek wisata, seperti kapal yang terdampar dan kuburan massal korban tsunami di Banda Aceh. Bagi saya, semua kembali pada sudut pandang masing-masing dalam melihat objek yang sama.

Kembali ke Kinahrejo, setelah beberapa saat berada di lokasi dan melihat-lihat view di sekitarnya, kami pun kembali ke bawah. Sebelum itu, ‘perang batin’ terjadi lagi. Foto ndak ya, foto ndak ya? Hmmm… tak ada salahnya berpose di salah satu bagian lokasi ini. Ambil positifnya saja. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung, semoga kian banyak pula pendapatan penduduk lokal yang membuka usaha di sekitar lokasi. Toh kehidupan harus terus berjalan.

Dalam perjalanan kembali ke bawah sambil ditemani kabut yang mulai turun di sore itu, saya punya pikiran. Berkunjung ke objek wisata seperti ini, bisa mengingatkan betapa kita terkadang tak kuasa melawan alam, dan betapa beruntungnya kita diberi keselamatan hingga hari ini…

bekas dusun kinahrejo dari atas

ada yang pingin ke sini? :)

Note:
– Untuk memasuki kawasan Kinahrejo, setiap pengunjung dewasa dikenai tarif Rp 3000. Dan untuk parkir mobil membayar Rp 5000. Murah meriah 🙂
– Ada pula jasa tur dengan ditemani guide. Biaya tergantung durasi dan rute tur yang dipilih.

Advertisements