Pulau Pari: Lebih Sepi, Lebih Asyik

Ketika membuka akun facebook pada suatu hari di bulan September lalu, perhatian saya tertuju pada bagian undangan dari salah satu ‘teman’ yang merupakan agen tur. Teman ini menawarkan paket wisata ke Pulau Pari.

Pulau Pari. Itu yang menarik perhatian saya, gara-garanya saya baru pertama kali mendengar nama pulau itu. Apalagi ketika tau pulau itu termasuk dalam gugusan Kepulauan Seribu. Wah penawaran baru dari si agen tur nih pikir saya. Sebelum, agen tur ini memang sudah menyediakan paket ke sejumlah pulau lain di Kepulauan Seribu yang sudah kondang, seperti ke Pulau Tidung, Pramuka, Harapan, Bira dll.

Langsung saja saya gugling mengenai Pulau Pari. Dan hasil gugling membawa saya pada suatu kesimpulan, saya harus ke sana! he he he.. So saya menghubungi teman-teman sewaktu jalan ke Pulau Tidung Maret lalu. Ternyata, mereka juga pas ada rencana ke sana. Gayung bersambut namanya. Dasar tukang jalan sendiri, kami pun memutuskan untuk ke Pulau Pari tanpa melalui agen tur tersebut. Apalagi kami sudah mendapatkan kontak penduduk lokal. Akomodasi dan aktivitas selama di sana dijamin aman kalo sudah begini. Agar biaya lebih murah kami pun memutuskan mengajak teman-teman lainnya. Jadilah pada 17-18 September lalu kami bersepuluh meluncur ke Pulau Pari. Horeeee!

Seperti biasa, perjalanan melalui Muara Angke menjadi opsi termurah. Sebenarnya perjalanan ke Pulau Pari bisa juga ditempuh melalui dermaga di Ancol, dengan waktu tempuh yang lebih singkat. Tentu dengan catatan ongkos yang dikeluarkan sebagai biaya kapal sedikit lebih besar. Tadinya kami ingin mencoba berangkat dari Ancol, tapi kata Pak Mang, pemilik penginapan di Pulau Pari, lebih baik dari Muara Angke saja. Alasannya, jumlah kapal dari Ancol ke Pulau Pari terbatas. Si Bapak khawatir kami tidak mendapatkan kapal pada waktunya… Okelah, meski harus menahan eneg karena bau khas Muara Angke, kami pun sepakat berangkat dari sana.

kering...

Sempat was-was karena Jumat malam hingga dini hari hujan deras mengguyur Jakarta. Untung sekitar satu jam sebelum saya berangkat, hujan reda. Sesampainya di Muara Angke sudah pasti bau itu menyambut kami. Tak hanya itu, genangan air di jalan menuju ke pom bensin tempat kami berkumpul pun digenangi air hingga nyaris mencapai knalpot motor saya. Apa mau dikata, terpaksa genangan itu saya lewati. Setelah memarkir motor di samping pom bensin, semalam kena Rp 25 ribu (saya tawar ditolak mentah-mentah ama tukang parkirnya), saya pun menemui teman-teman yang sudah di sana.

Jam baru menunjukkan pukul 5 lewat. Kapal dijadwalkan berangkat jam 6 pagi.
Fiiiuuuh, jam 6 pagi apa. Kami baru berangkat satu setengah jam kemudian! He he he sembari menunggu, kami nongkrong di warung sambil menyeruput teh panas dulu. Kapal yang membawa kami lumayan penuh meski tak sampai penuh sesak seperti tujuan ke Pulau Tidung dan Pulau Pramuka.

Destinasi ke Pulau Pari memang masih terbilang baru ketimbang kedua pulau tersebut. Jadi pengunjung ke Pulau Pari masih sedikit. Jarak tempuh dari Muara Angke menuju ke Pulau Pari juga lebih singkat ketimbang ke Pulau Tidung dan Pramuka.

Setelah menempuh perjalanan hampir 1,5 jam, tibalah kami di dermaga Pulau Pari. Kesan pertama, kondisinya jauh lebih sepi ketimbang Pulau Tidung. Wah bakal asyik ini kayaknya.. Wkwkw Dan feeling saya tak salah. Hmmm.. jika tak diganggu mabok laut, perjalanan kali ini oke banget deh.

Tak berapa lama setelah menaruh barang bawaan dan berganti pakaian di penginapan, kami memulai aksi jalan-jalan. Sambil menenteng alat snorkeling dan barang bawaan lain, kami pun kembali ke dermaga karena sebuah kapal sudah menanti kami. Yihaaa here we come, hoping island pun dimulai!

Di kapal sudah menunggu bapak nahkoda dan anak buahnya. Keduanya sebagai pemandu kami selama berada di Pulau Pari. Aku sempat tertipu dengan pak nahkodaΒ  yang bernama Pak Iskandar itu. Aku pikir sudah separuh baya, ternyata umurnya belum sampai 40 taun he he he. Dia sendiri bilang wajahnya emang keliatan tua saking sebagai akibat ‘anak pulau’. Pak Iskandar merupakan pendatang di Pulau Pari. Dia datang bersama kedua orangtuanya yang berasal dari Sulawesi di akhir 70-an. “Orangtua saya nelayan, asli Suku Bugis. Sebagai nelayan, beliau menjelajahi lautan sampai Pulau Pari. Hingga beliau memutuskan tinggal di sini,” katanya.

Dari Pak Iskandar inilah kami menerima banyak informasi berkaitan dengan Pulau Pari. Salah satunya mengenai asal usul nama Pulau Pari. Yup, alasan mengapa diberi nama Pari adalah karena dulu banyak sekali ditemukan spesies ikan pari di kawasan pulau itu. “Tapi itu sudah dulu banget. Sekarang populasi ikan Pari tinggal sedikit gara-gara eksplorasi ikan yang berlebihan dengan tidak bertanggungjawab,” ujarnya. Duh!

Sambil mengobrol ini dan itu, akhirnya kami sampai juga di spot snorkeling pertama, Karang Kapal. Wadooh, kenapa tiba-tiba saya berasa mabok laut yak? Hiks padahal hamparan laut dengan airnya yang hijau tosca dan biru jernih itu terbentang di hadapan saya. Aaah whatever deh, buang rasa eneg itu, mari terjuuuuun! wkwkwk

Asik asik asik.. Terumbunya, ikan-ikannya lebih bagus dan lebih banyak ketimbang di Pulau Tidung. Hiks, tapi saya hanya mampu bertahan 15 menit. Arus yang siang itu agak kencang membuat enegku semakin menjadi-jadi. Akhirnya setelah susah payah kembali ke kapal, saya langsung muntah (yang pertama) dengan sukses :p

Kami lantas bergeser ke Pulau Tikus yang terletak tak begitu lama dari spot snorkeling pertama. Sebelum sampai, kami disuguhi gradasi warna laut yang elok plus bening menyegarkan. Kami pun mendarat dengan riang gembira menginjak pasir putih nan lembut. Sesi foto-foto narsis pun dilakukan di sini. Tak lupa kami makan nasi kardus yang sudah disediakan sebelumnya. Meski hanya menu sederhana; ayam goreng, oseng-oseng tempe, dan krupuk, menu siang itu terasa nikmaaaat sekali..

Makan selesai, saatnya jalan-jalan mengelilingi pulau. Jika dibanding Pulau Cemara Besar di Karimunjawa, Pulau Tikus ini lebih kecil. Ada banyak bintang laut di sini. Yang agak bikin deg-degan, banyak burung gagak berkaok-kaok. Perasaan jadi gimanaa gitu he he he Justru, tikus yang menjadi asal mula pemberian nama pulau ini tak nampak satu ekor pun. Sudah berkurang juga kali populasinya seperti nasib ikan pari. Kami menghabiskan waktu lama di sini. Sebenarnya ingin sampai senja sekalian menikmati sunset, tapi masih ada spot lain yang harus dikunjungi. So bye bye Pulau Tikus..

Pulau Burung menjadi destinasi ketiga. Di sini tidak ada aktivitas air yang dilakukan. Hanya melihat-lihat isi pulau yang merupakan private island itu. Permisi Pak/Bu pemilik, kami numpang foto-foto ya… πŸ™‚ Di perjalanan menuju Pulau Burung kami mendapati beberapa orang yang asyik mencari ikan hias di perairan dangkal. Juga puluhan burung bebek berwarna putih (lagi-lagi diberi nama bebek karena memang mirip bebek) yang nangkring di kayu-kayu bekas tambatan budidaya rumput laut.

Hoping island hari itu ditutup dengan snorkeling di spot kedua, yakni Bintang Rama. Sebenarnya masih ada satu lagi titik snorkeling yang bisa didatangi, yaitu Area Perlindungan Laut. Tapi setelah berembug, kami memutuskan untuk tidak ke sana. Kami sudah capek! ha ha ha… Apalagi saya, yang sudah klenger duluan. Lagi-lagi baru nyemplung 15 menit, sudah koit. Muntah-muntah hebat di kapal sampai berasa mau pingsan 😦 *ngaku suka snorkeling tapi kok jagonya mabok laut ha ha ha

Kami gagal mendapatkan sunset di sore harinya lantaran cuaca agak mendung. Tapi tak apalah, masih bisa ditebus sunrise yang katanya juga tak kalah indah. Baiklah, kami akan buktikan itu.. But before we have our sunrise, we have our dinner first. Sea food was our menu that night. Ikan, cumi, dan udang yang diolah dalam beberapa masakan dan dinikmati di pinggir pantai dalam suasana temaram plus sambil ngobrol memang cukup asik.

Pagi-pagi, dengan menggunakan sepeda yang sudah disiapkan kami meluncur untuk melihat sunrise yang dijanjikan. Lokasinya ada di pantai Pasir Perawan. Nah, untuk yang ini, asal namanya kata Pak Iskandar masih simpang siur. Well, soal asal usul nama tak penting. Yang penting adalah bahwa kami benar-benar mendapatkan sunrise yang bagus! Dari penginapan, Pantai Pasir Perawan tidak terlalu jauh. Kami tiba di sana dan suasana masih sepi. He he he selama kami di Pulau Pari, suasana memang jauh dari hiruk pikuk wisatawan lain, tak seperti di Pulau Tidung. Sambil menunggu momen tepat, saya ngeteh dulu. Teh dan pantai, dua hal favoritku. Bisa dinikmati secara bersama, tentu menjadi berkah πŸ™‚

Aha itu dia mataharinya sudah mulai bagus. Siapkan kamera, dan beraksi. Jepret jepret jepret .. pindah posisi ke sana ah. Aku pun menyebrangi pantai menuju semacam pulau kecil. Air di pantai ini tenaaang banget tanpa gelombang. Nyaris seperti danau. Pasirnya putih. Selain aktivitas air kita juga bisa naik kapal tarik, bukan kapal motor tempel ya. Juga becak air. Terus, kita juga bisa bermain voli di tepi pantai.

Selesai semuanya, kami balik ke penginapan. Sudah semuanya? Eeiitss ternyata masih ada satu lagi yang kami lakukan. Kami bertujuh bersepeda menuju ke slah satu ujung pulau seluas 42 hektar ini. Untuk itu kami melewati bangunan milik LIPI. Pulau Pari ini terkenal sebagai lokasi riset LIPI. Setelah melewati gerbang LIPI, kami bersepeda di atas paving blok yang di kanan kirinya lautan. Wuuuih agak grogi juga sih, tapi kalau takut bisa dituntun aja kok… Di kanan kiri itu, saya bisa melihat ikan warna warni yang lucu-lucu… Jadi inilah ujung Pulau Pari. Well done.

Kami pun kembali ke penginapan, mandi, dan packing untuk kembali ke Jakarta. Jika ada waktu, Pulau Pari wajib dikunjungi. Tanpa mengurangi rasa hormat dan dengan kesadaran bahwa tiap daerah punya keindahan dan keunikannya sendiri, saya merasa Pulau Pari jauh lebih mengasyikkan ketimbang Tidung. Lebih sepi, dengan spot-spot yang lebih menarik. Puas pokoknya. Apalagi dengan hanya merogoh kocek Rp 260 ribu saja πŸ™‚

Tengkiyu teman-teman; Kenya, Iin, Adri, Robby, Wita, Wina, Ai, dan Tyo.. Sampai ketemu lagi di trip berikutnya yak! πŸ™‚

Β 

Advertisements

5 thoughts on “Pulau Pari: Lebih Sepi, Lebih Asyik

Comments are closed.