Nostalgia di Museum Prangko Indonesia

“Be like a postage stamp. Stick to one thing until you get there.”    
Josh Billings

“Apa kabarmu, Prangko?” Sapaan itu pantas kita ucapkan di tengah canggihnya teknologi masa kini. Perlahan-lahan, prangko tenggelam dalam hiruk-pikuk gadget yang menawarkan kemudahan berkomunikasi. Prangko, yang kata teman saya, merupakan pasangan abadi surat, jadi terlupakan. Di era smartphones saat ini, berapa banyak yang masih menggunakan surat sebagai metode berkomunikasi? Siapa yang masih memiliki hobi berkorespodensi secara ajeg?

Dulu, ketika saya berusia belasan, bahkan masih duduk di bangku SD, saya gemar berkirim surat dengan sahabat-sahabat pena yang ada di seluruh Indonesia. Dan prangko, yang tertempel di surat itu ikut jadi perhatian saya. Saya mengoleksi prangko-prangko tersebut.

Hobi filateli ini mencapai puncaknya ketika saya SMP. Saya rajin menyambangi kantor pos untuk mengecek prangko yang baru diluncurkan PT POS Indonesia. Saya juga giat mendatangi berbagai pameran filateli, yang ketika itu kerap digelar, serta terlibat di sejumlah acara filateli. Selain hasil perburuan, koleksi prangko saya banyak juga yang berasal dari pemberian kerabat serta hasil barter dengan sesama filatelis lain.

Namun rupanya, hobi filateli saya tidak bertahan lama. Menginjak kelas 2 SMA, saya sudah total melepas hobi ini. Passion saya terhadap benda yang mayoritas berbentuk segiempat ini lenyap begitu saja. Tapi, kenangan akan kegairahan saat berstatus sebagai filatelis, tak akan pernah hilang.

Bagian tengah Museum Prangko Indonesia

Karena itu, ketika seorang sahabat berkunjung ke Jakarta, kami sepakat menyambangi Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tujuan kami, Museum Prangko Indonesia. Kami berdua sama-sama hobi mengoleksi prangko. *saya sudah eks, teman masih berlanjut 🙂

Tiba di Museum Prangko, yang merupakan satu dari 15 museum yang ada di TMII, kami disambut suasana sepi. Pengunjung siang itu hanya kami berdua. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp2000 saja, kami memulai eksplorasi di ruangan museum.

Ada enam bagian penyajian di museum ini. Di mulai dari sejarah asal mula prangko, termasuk foto-foto prangko pertama di dunia. Selanjutnya ada penyajian proses pembuatan prangko. Bagian penyajian lain memuat berbagai koleksi prangko dari masa ke masa dengan berbagai tema, baik dari dalam maupun koleksi mancanegara. Ada tema sosial, pariwisata, flora-fauna, olah raga, dan lain-lain. Sangat menarik melihat satu per satu koleksi yang dipajang. Hmmm ternyata minat saya pada prangko masih belum hilang sepenuhnya.

Sepeda Pak Pos

Sambil menikmati koleksi yang tersaji, kenangan sebagai filatelis kembali terurai. Apalagi, ketika saya melihat sebuah sepeda khas Pak Pos untuk mengantar surat, yang ikut dipajang. “Kriiingg kriiiinggg…” bel sepeda Pak Pos berbunyi di depan rumah. Saya bergegas berlari ke luar menyambutnya. Orang di rumah tahu, surat itu pasti ditujukan untuk saya. Pak Pos pun sudah hapal. Kenangan itu timbul-tenggelam dalam benak saya. Maklum, masa itu sudah berlalu 15 tahun lamanya.

Seluruh koleksi saya sudah lama saya hibahkan ke seorang anak tetangga. Sisa-sisa yang baru-baru ini saya ‘temukan’ di kamar, juga sudah beralih tangan. Saya yakin prangko-prangko itu memperoleh perlakuan yang lebih baik 🙂 Keluar dari museum, saya menarik napas seraya berucap dalam hati. “Terima kasih, untuk benda mungil ini, yang sudah membuat usia belasan saya menjadi hebat, tak melulu diisi kegilaan akan boyband bule he he he..”

CATATAN
Museum Prangko Indonesia dibangun dengan bangunan bergaya Bali di atas lahan seluas 9.590 m2. Diresmikan oleh Presiden Soeharti pada 23 September 1983.
Sayap kanan digunakan sebagai kantor pengelolaan dan tempat pertemuan, sayap kiri sebagai kantor pos. Di halaman depan terdapat bola dunia dengan membawa surat di paruhnya, yang merupakan lambang PT Pos Indonesia.

Jam Kunjungan
Selasa-Sabtu: Pukul 08.00-16.00 WIB
Minggu-Hari Libur Nasional: Pukul 08.00-17.00 WIB
Senin: Libur
Tiket: Rp2000

*All pics by Yus Mei Sawitri. silakan klik di sini.

Advertisements

2 thoughts on “Nostalgia di Museum Prangko Indonesia

Comments are closed.