Pulau Penyengat yang Benar-benar Menyengat

Masjid berwarna kuning tampak berpendar keemasan diterpa cahaya mentari yang bersinar terik. Saya dan rombongan lain, ada yang merupakan penduduk lokal, ada pula wisatawan seperti saya, sedang berada di atas perahu bermotor atau yang dalam bahasa lokal disebut pompong. Kami hendak menuju ke Pulau Penyengat.

Panas mentari di sepanjang perjalanan membuat masjid yang terlihat itu bak fatamorgana. Muncul-menghilang dalam pandangan saya. Namun, hal itulah yang membuat kesabaran saya menipis. Saya ingin segera menjejakkan kaki di pulau yang tergolong kecil, berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter ini, yang termasyhur dengan kekayaan sejarah, politik, dan budayanya itu.

Pulau Penyengat pantang dilewatkan bila sedang berada di Tanjung Pinang. Dari pusat kota, hanya butuh sekitar 20 menit untuk menyeberangi lautan menggunakan pompong. Biaya sekali jalan hanya Rp6000 (akhir Maret 2014).

Sepanjang perjalanan saya mencoba membayangkan Pulau Penyengat kala masih jadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor-Riau pada abad ke-18. Betapa penting arti pulau ini dan tentu saja Kesultanan Johor-Riau hingga membuatnya jadi salah satu pusat Kesultanan Melayu Klasik yang termasyhur hingga sekarang. Jejak-jejak dan peninggalan kesultanan itulah yang ingin saya lihat secara langsung.

Lamunan saya terpotong saat beberapa pria berusia 50 tahunan berteriak-teriak menyuruh penumpang turun. Rupanya, kami sudah sampai di dermaga Pulau Penyengat.

Panas sengatan mentari masih terus mengikuti kala saya ngobrol dengan seorang pria, berusia sekitar 35 tahun, yang menawari jasanya mengantar saya berkeliling pulau menggunakan motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Megapro yang digunakan untuk mengantar pengunjung itu sudah diberi tambahan sespan sehingga bisa memuat penumpang lebih dari dua orang, mirip becak motor.

becak motor

Sebenarnya, untuk mengelilingi pulau juga bisa dilakukan dengan bersepeda, lebih santai dan lebih asyik menurut saya. Namun, keterbatasan waktu membuat saya tak bisa berlama-lama di pulau yang nyaris 100 persen penduduknya merupakan muslim dan berprofesi sebagai nelayan itu.

Acara keliling pulau dimulai dari sebuah pertigaan di depan masjid bercat kuning yang saya lihat dalam perjalanan tadi. Saya sisakan masjid itu untuk gong di pengujung, jadi saya memilih memutari pulau terlebih dulu.

Pulau Penyengat di masa kini dihuni rumah-rumah dalam perkampungan yang rapi. Jalanan pun mulus, meski sempit. Sempitnya jalan membuat membuat mobil tak bisa digunakan di Pulau Penyengat. Bahkan, saat becak motor yang saya naiki berpapasan dengan becak motor lain, salah satu harus mengalah terlebih dulu.

Petunjuk gang-gang di Pulau Penyengat ditulis dalam Bahasa Indonesia dan juga menggunakan huruf Arab Gundul makin memperjelas identitas pulau.

Jalan perkampungan di Pulau Penyengat

Pagi jelang siang itu, pengunjung agak banyak mengingat memasuki masa weekend. Pengemudi becak motor saya pun minta izin untuk menjemput penumpang lain begitu menurunkan saya di Balai Adat, yang berhadapan langsung dengan laut lepas. Sebelum tiba di Balai Adat, saya dibawa mengunjungi makam keluarga Kesultanan Melayu juga makam Raja Ali Haji, bapak Bahasa Melayu dan pengubah gurindam 12 yang terkenal itu. Hmmm…. sejujurnya, saya tak terlalu memahami apa itu gurindam 12. Yang jelas, salah satu peninggalan budaya Melayu yang ternama hingga kini itu dihasilkan dari Pulau Penyengat ini.

Makam Raja Ali Haji, Bapak Gurindam yang rupanya berstatus pahlawan nasional.

Kembali ke Balai Adat, sejumlah warga lokal yang berbincang dengan saya mengatakan bila di bagian bawah bangunan Balai Adat yang berbentuk rumah panggung terdapat sebuah sumur air tawar, yang bila dikonsumsi airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Saya tidak tertarik dengan hal sembuh-menyembuhkan itu, melainkan keberadaan sumur air tawar itu mengingatkan saya akan asal-muasal nama “Penyengat”.

Dari informasi yang saya baca sebelum berangkat, konon nama “Penyengat” diambil akibat sejumlah pelaut yang berhenti untuk mengambil air tawar di pulau ini melanggar pantangan dan diserang serangga (lebah) yang menyengat mereka. Pulau ini, karena lokasinya, dikenal sebagai pulau persinggahan kapal-kapal yang melintas untuk mendapatkan air tawar sebagai persediaan perjalanan mereka.

Bisa jadi, sumur air tawar itu salah satu yang tersisa sejak ratusan tahun silam.

Sambil ngobrol di depan Balai Adat yang merupakan replika rumah adat Melayu, saya melihat di depan ada puluhan anak sekolah asyik berfoto bersama di jembatan yang menjorok ke lautan. Mereka bergeming di bawah terik matahari, tetap asyik bersendau-gurau.

Lautan lepas jadi pemandangan di bagian depan Balai Adat.

Pengemudi becak motor yang mengantar saya bercerita bila beberapa tahun terakhir pariwisata di Pulau Penyengat terus diperbaiki dan dikembangkan. Kunjungan wisatawan diharapkan kian meningkat seiring kesadaran penduduk lokal bahwa sejarah, budaya, dan politik masa silam di mana mereka tinggal sekarang memiliki potensi wisata yang bisa mendatangkan pendapatan.

Sambil melestarikan berbagai peninggalan itu, warga juga memiliki tambahan penghasilan. “Makanya kami mengajukan permohonan kredit motor ini Mbak ke pemerintah, sebagai salah satu modal usaha. Ada sekitar 30-an motor yang bisa kami pakai mengantarkan pengunjung,” kata mas yang mengantar saya sambil menunjukkan becak motornya.

Saat saya berkunjung, sejumlah bangunan bergaya arsitektur Jawa-Belanda sedang direnovasi, seperti Istana Kantor (bangunan yang dibangun pada 1844, merupakan kantor sekaligus kediaman Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali).

Saya tentu berharap peninggalan sejarah nan berharga itu tetap terjaga hingga generasi penerus bisa mengagumi dan bangga dengan kehebatan generasi sebelumnya.

Bentuk Istana Kantor

masjid2

Akhirnya, acara berkeliling di Pulau Penyengat ditutup dengan melihat Masjid Raya Sultan Riau. Masjid yang dibangun Sultan Mahmud pada 1803 ini memang “fenomenal” karena konon dibangun menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat. Warna kuning yang menyolok membuat masjid ini terlihat berbeda dengan masjid lain yang pernah saya kunjungi, yang rata-rata bercat putih.

Bangunan masjid ini juga memiliki kekhasan lain, seperti kubah, menara, tiang-tiangnya. Masjid ini juga menyimpan mushaf Al-Quran bertulisan tangan berusia lebih dari 200 tahun, yang diletakkan di dekat pintu masuk dalam peti kaca. Pengunjung maupun mereka yang akan beribadah di masjid, tak boleh mengambil foto di dalam masjid termasuk pula dilarang mengabadikan mushaf Al-Quran itu.

Masjid Raya Sultan Riau ini jelas jadi kebanggaan, tak hanya warga Pulau Penyengat melainkan masyarakat Kepulauan Riau. Terbukti, masjid ini selalu ramai dikunjungi baik umat Islam maupun wisatawan seperti saya.

Tanpa terasa, saya harus mengakhiri perjalanan singkat di Pulau Penyengat. Tak lama, tapi seperti kunjungan saya ke destinasi lain di negeri ini, Pulau Penyengat meninggalkan kenangan menyenangkan. Pulau Penyengat berhasil menyengat saya dalam arti kiasan dan sesungguhnya. Yang pertama, tentu karena sejarah pulau ini dan kedua lantaran saya benar-benar tersengat panasnya matahari yang menemani saya selama berkeliling šŸ™‚

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Pulau Penyengat yang Benar-benar Menyengat

    • Aahh mosok romantis to mas. Lha malah teks book ngono kok.. Sg jelas bukan “aku melihat wajah indonesia” hehehee… Lha emg seko ndog tenan yo…

      Like

Comments are closed.