Tanjungpinang in 24 Hours: Bermula dari RHF Airport

Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Merasa asing dengan nama itu? Saya merasa demikian. Saya baru tahu mengenai bandara ini saat iseng mencari tujuan jalan-jalan singkat pada akhir Maret lalu.

Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, Bandara udara di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, begitu informasi awal yang saya peroleh. Lantas, saya teringat Tanjung Pandan dan Pangkalpinang. Wah ada hubungan apa nih antara Tanjungpinang, Pangkalpinang, dan Tanjung Pandan?

Sebagai orang yang merasa nilai Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)-nya tinggi semasa SMA dulu, saya merasa malu baru mengetahui belakangan bahwa Tanjungpinang itu ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, Pangkalpinang itu ibu kota Provinsi Bangka dan Belitung, serta Tanjung Pandan itu ibu kota Kabupaten Belitung.

Namun, saya tidak perlu semalu itu karena kala browsing, saya mendapati banyak orang yang sama bingungnya, seperti salah saat memesan tiket penerbangan gara-gara kemiripan Tanjungpinang dan Tanjungpandan!

Salah satu ruangan di Bandara Haji Fisabilillah, bersih dan sepi.

Perkenalan awal dengan Bandara Raja Haji Fisabilillah yang berkode RHF itu akhirnya membawa saya ke Tanjungpinang di Pulau Bintan. Saya hanya punya waktu sehari, seperti biasa yakni 24 jam, untuk menjelajah kota yang berdekatan dengan Batam itu. Tidak banyak informasi yang saya peroleh sebelum berangkat ke Tanjungpinang.

Berbekal informasi secukupnya, saya tiba di Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Walau dekat dengan Singapura, jangan dibayangkan bandara ini bak Changi. Pagi itu suasana bandara tampak sangat sepi. Hanya ada penerbangan kami yang mendarat. Ruangan bandara baru, baru saja pindah dari kawasan bandara lama, tampak bersih dan terbebas dari lalu-lalang orang.

Seingat saya, hanya ada beberapa toko kecil yang beroperasi. Kata petugas bandara, pesawat yang datang di masa pagi hari hanya Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air. Praktis, ketika dua maskapai itu menurunkan dan mengangkut penumpang di pagi hari, bandara kembali sepi sembari menunggu jadwal flight berikutnya.

Hal lain soal bandara ini, tidak ada angkutan umum yang datang dari dan ke kota. Untuk akses ke kota dan sebaliknya, pilihan terbatas hanya menggunakan taksi. Sebelum datang saya sudah diberitahu mengenai hal ini, termasuk tarif taksi berkisar Rp100 ribu sekali jalan.

Proyek pembangunan bandara baru terus berjalan.

Dasar pejalan berkantong pas-pasan, saya mencoba menawar tarif itu, tetapi tak kuasa karena para sopir bergeming di angka tawarannya. Saya sempat kesal dan memutuskan menghubungi pengelola hotel yang sudah saya pesan untuk menjemput saya. Dalam pembicaraan singkat, pengelola hotel berujar saya cukup membayar Rp90 ribu. Selisih Rp10 ribu memang kecil, tetapi dalam agenda jalan seperti ini, mampu menekan pengeluaran sekecil apapun terkadang menimbulkan kepuasan personal.

Hanya, kali ini anggapan saya keliru. Berniat menekan pengeluaran, yang terjadi justru sama saja karena sopir penjemput dari hotel memungut tips Rp10 ribu dari janji yang sudah disepakati. So, total Rp100 ribu saya bayarkan untuk ongkos mobil bandara-hotel alias sama saja seperti yang ditawarkan sopir taksi tadi!

He he he ya sudahlah kalau begitu. Saya bertekad perjalanan kali ini tidak akan berakhir pahit meski diawali kejadian kurang menyenangkan. Saya pun menanti mobil jemputan dari pengelola penginapan. Saya duduk di bagian depan bandara sambil mengambil beberapa foto.

Tanpa saya sadari suasana di sekeliling saya sudah sepi. Yang semula memang sepi bertambah sepi. Hanya beberapa orang saja, termasuk sopir taksi yang menanti penumpang, yang terlihat. “Level sepinya bahkan mengalahkan Bandar Udara Internasional Juwata di Tarakan”, pikir saya dalam hati… “Daripada nggak dapat objekan, lebih baik tadi mengantar saya, Pak,” batin saya. Saya memang tidak “berjodoh” dengan sopir-sopir taksi itu.

Asyik melihat sekeliling, mobil jemputan yang akan membawa saya ke kota datang. Saya naik dengan antusiasme tinggi, mengetahui perjalanan di Tanjungpinang selama 24 jam resmi dimulai. Seketika saya lupa dengan “insiden taksi” sebelumnya. Saya pun siap mengukir kenangan baru dan indah bersama Tanjungpinang. BERSAMBUNG

Lokasi tepat untuk berfoto 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Tanjungpinang in 24 Hours: Bermula dari RHF Airport

Comments are closed.