The Undomestic Goddess

Sekali merampungkan chicklit, akibatnya jadi keterusan. Inilah bacaan ringan karya Sophie Kinsella yang saya selesaikan setelah I’ve Got Your Number. Judulnya; The Undomestic Goddess.

Chicklit ini sudah lama saya incar karena resensi di halaman belakang lumayan menarik perhatian. Saya membeli buku ini hampir setahun lalu, namun, teronggok begitu saja dalam tumpukan chicklit-chicklit lain. Sampai beberapa hari lalu saya baca.

The Undomestic Goddess menceritakan kisah Samantha Sweeting, pengacara muda nan energik yang bekerja di biro hukum ternama Carter Spink. Samantha, berusia 29 tahun dan punya IQ 158, sama sekali tak punya waktu luang untuk kehidupan pribadinya. Yang ada di otaknya hanyalah bekerja dan bekerja. Ia workhaholic, sama seperti ibu dan kakak laki-lakinya. Samantha punya ambisi menjadi rekanan senior termuda Carter Spink.

Ambisi itu nampaknya segera jadi kenyataan. Andai saja, satu kesalahan kecil tak dilakukan Samantha, yang membuat impiannya hancur dalam sekejap.
Samantha, yang selama kariernya di Carter Spink tak pernah membuat satu kesalahan kecil pun, langsung shock. Samantha tak habis pikir mengapa sampai bisa membuat kesalahan fatal.

Saking terkejutnya, Samantha limbung dan kehilangan pikiran jernih. Ia merasa tidak sanggup berhadapan dengan atasan juga rekan sekerjanya, dan tanpa disadari Samantha kabur dari kantor, dari kota London,.. Ketika tersadar Samantha mendapati dirinya di sebuah desa antah-berantah, sekian jam jauhnya dari gemerlapnya London.

Samantha yang depresi berat, mengetuk sebuah pintu rumah untuk meminta pertolongan. Tak disangka, empunya pemilik rumah mengira Samantha adalah wanita yang melamar sebagai asisten rumah tangga alias pembantu. Samantha yang masih belum sepenuhnya menguasai diri karena stres, tak kuasa mengatakan siapa dirinya. Alih-alih mengakui identitas aslinya, Samantha justru mengiyakan kesalahpahaman itu dan terus berpura-pura menjadi seperti apa yang dipikirkan Eddie-Trish Geiger. Eddie dan trish adalah majikan Samantha yang kaya-raya.

Bisa ditebak, Samantha yang sebelumnya sama sekali tak pernah memegang alat-alat dapur dan alat-alat rumah tangga lainnya, panik bukan kepalang saat harus memasak, mencuci pakaian, atau sekadar membersihkan rumah. Jangankan memasak, menghidupan microwave dan menggunakan mesin cuci saja Samantha tak bisa. Petaka untuknya.

Hingga Samantha berkenalan dengan tukang kebun keluarga Geiger, Nathanael. Nathanael yang bersimpati dengan Samantha meminta ibunya mengajari Samantha memasak serta melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Well, bisa ditebak. Samantha-Nathanael saling naksir.

Ketika Samantha merasa kehidupannya sekarang lebih bebas, rileks, dan menyenangkan, ia mendapat informasi bahwa ada kemungkinan ia dijebak oleh rekan kantornya. Artinya, kesalahan yang selama ini dianggap dilakukannya, bukanlah murni kesalahannya. Samantha menjadi begitu bersemangat mencari tahu kejadian sebenarnya untuk membersihkan nama baiknya.

Usaha itu berhasil. Samantha, yang sudah dipecat dari Carter Spink, bisa memperoleh kembali posisinya. Bahkan, ia ditawari jadi rekanan senior, posisi yang pernah diincarnya. Lantas, apakah Samantha bersedia kembali menjadi pengacara top? Ataukah ia membuang profesi yang sebelumnya diimpikannya untuk jadi asisten rumah tangga?

Menurut saya, ending The Undomestic Goddess sudah bisa ditebak dan kurang nendang. Bahkan, saat pertama kali tokoh Nathanael muncul, saya sudah mengira ia akan jadian dengan Samantha. Secara keseluruhan chicklit keluaran 2005 ini tak menawarkan ledakan-ledakan plot cerita alias standar. Masih bagusan I’ve Got Your Number yang saya baca sebelumnya. Oya satu lagi, cover The Undomestic Goddess versi Indonesia yang saya miliki juga kurang menarik.

Judul versi Indonesia: Bukan Cewek Rumahan
Pengarang: Sophie Kinsella
Halaman: 559 lembar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke: Empat, Mei 2009

Advertisements

5 thoughts on “The Undomestic Goddess

Comments are closed.