Asyiknya Berenang Bareng Ubur-Ubur

Oke, waktu di Pulau Maratua sudah habis. Kami segera kembali ke speedboat. Tujuan selanjutnya adalah ke Pulau Kakaban. Yup, pulau yang terkenal dengan ubur-ubur tak menyengatnya itu. Jarak tempuh Maratua-Kakaban tak begitu jauh, sekitar 20 menit. Berbeda dengan pulau lain yang jadi destinasi wisawatan di Kepulauan Derawan, Kakaban merupakan satu-satunya pulau yang tidak dihuni manusia karena sulitnya ditemukan air tawar. Dari sananya, Kakaban sudah cukup unik. Baik dari sejarah terjadinya sampai viewnya.

Untuk mencapai Danau Kakaban yang terletak di tengah pulau, kami harus berjalan dengan medan sedikit naik-turun. View sekitar berupa pepohonan yang cukup rapat dan terkesan tua seperti di kawasan hutan hujan tropis. He he he dasar jarang berolah raga, melahap undakan yang tak seberapa itu cukup membuat saya ngos-ngosan. Sekitar 10 menit kemudian kami sampai di Danau Kakaban.

Kesan pertama: “wohooo, luar biasaaa!” Meski bagi saya, entah mengapa Kakaban terasa agak creepy, tak perlu panjang lebar menjelaskan apa yang bikin luar biasa itu. Bisa datang di tempat yang keunikannya hanya ada dua di dunia, sudah cukup jadi alasan. Senang sekali akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di sini. Nah, apa saja keunikan lain tempat yang nyaris tiada duanya di di dunia ini? Silakan gugling untuk informasi lengkapnya.

Panorama menuju Danau Kakaban

si kiut ubur-ubur

Tanpa membuang waktu saya segera mengenakan alat-alat snorkeling dan menceburkan diri dalam danau ubur-ubur. Dari spot yang paling mudah dijangkau wisatawan saja, ubur-ubur dari beberapa jenis sudah gampang dijumpai. Apalagi di sisi sebelah sana yang tak terjangkau pengunjung… Katanya, ubur-uburnya lebih besar dan lebih banyak!

Puas-puasin deh main air sama makluk lucu ini. Takjub melihat gerakan mereka di dalam air yang mengembang-mengimpis, seperti bunga kuncup dan mekar. Apalagi yang berwarna biru transparan… Ada yang bergerombol dan pula yang terpisah dari kawanannya. Saya agak kesusahan menangkap mereka karena mereka cukup lincah dan licin. Begitu ketangkap satu, langsung diajak foto deh. Maaf ya ubur-ubur, saya-nya memang narsis 😀 Nggak lama kok, cuma beberapa jepretan. Saya nggak mau menyiksa ubur-ubur kiut itu dengan berlama-lama memegangnya…

Sayang, saya tak bisa maksimal mengabadikan mereka. Ya itu tadi, gara-gara problem kamera. Sarung waterproof yang dipinjamkan Om Ivan untuk membungkus bb, jelas tak maksimal. Untung ada Ria yang peralatan underwaternya menakjubkan he he he.

Cukup main air, kami kembali ke gerbang depan Pulau Kakaban dan mendapati sesuatu yang berbeda. Ternyata, laut surut. Speedboat kami jadi teronggok begitu saja di dekat jembatan. Air di bawah jembatan pun menghilang, menyisakan karang dan bebatuan indah dengan ikan-ikan berenang di genangan air. Kata motoris, kami harus menunggu setidaknya dua jam sampai laut kembali pasang.

Kejadian ini sebenarnya bisa dihindari. Tapi, karena sudah kejadian, bisa apa lagi? Untuk membunuh waktu kami menikmati makan siang yang dibagikan pemandu. Ada pula yang kemudian snorkeling di pinggir lautan. Kata motoris dan guide, snorkeling di sana harus berhati-hati karena batas lautan dangkal dan laut dalam seperti tiada ‘pembatasnya’. Jangan sampai ke sana-sana, kata mereka. Wah saya agak jeri, jadi tak ikutan 😛

Ternyata melihat proses ‘kembalinya’ air alias pasang tak membosankan. Tempat yang semula kering kembali dipenuhi air, dan speedboat kami pun kembali mengapung. Dengan bergegas satu persatu kami masuk ke speedboat. Saatnya meluncur menuju destinasi berikutnya; Pulau Sangalaki!

speedboat kami terdampar di kakaban

surut

 

Advertisements