Wah, Ada Layang-Layang Daun Di MLLI

Semua orang pasti tahu dengan yang namanya layang-layang. Sebuah mainan yang biasa kita mainkan saat kecil, bahkan orang dewasa pun masih kerap memainkannya. Sebuah mainan dari kertas dengan bentuk segi lima, yang dulu sewaktu saya kecil harganya sekitar Rp 50-Rp 100. Sekarang sih katanya berkisar Rp 500-Rp 1000.

Hmmm… kebanyakan dari kita taunya cuma begitu yah. Saya juga he he he.. Makanya saat datang ke Museum Layang-Layang Indonesia (MLLI) dan mendapat informasi soal seluk-beluk layang-layang dari guide yang menemani selama berkeliling, saya seperti baru saja kuliah empat SKS ha ha ha. Ternyata banyak banget soal layang-layang yang belum saya ketahui. Mulai dari sejarah asal mula layang-layang, bentuk dan bahan, hingga tradisi di setiap wilayah di berbagai negara.

Dari penuturan mas Supriyadi, pemandu yang menemani waktu itu, layang-layang pertama kali berasal dari Cina. Namun, penemuan sebuah lukisan di gua di Pulau Muna, Sulteng, yang berumur lebih tua ketimbang di Cina membuat informasi itu sedikit diragukan. Bisa jadi layang-layang merupakan permainan yang berasal dari Indonesia. Sayang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Sejak dulu layang-layang memang dikenal sebagai permainan rakyat. Murah meriah. Dan kenyataannya memang demikian. Namun lebih dari itu, layang-layang sudah menjadi bagian tradisi, tak terkecuali bagi masyarakat Indonesia. Di Bali misalnya, musim bermain layang-layang atau dalam bahasa lokal disebut melayangan, terjadi usai masa panen raya. Bagi masyarakat Bali, layang-layang bukanlah sekadar barang mati ataupun mainan belaka, melainkan memiliki nilai keyakinan. Layang-layang dipercaya memiliki badan, tulang, dan roh.

Penjelasan mas Supriyadi mengenai layang-layang dan tradisinya di beberapa wilayah di Tanah Air terus mengalir sembari kami berkeliling ruangan di MLLI, yang memang tak terlalu luas. Cukup menarik karena menjadi hal baru bagi saya. Sebelumnya, saya hanya tau apabila layang-layang kebanyakan terbuat dari kertas. Ternyata, ada pula yang terbuat dari pelepah pohon pisang (Lombok) dan daun dadap (Sulawesi). Mas Supriyadi tak segan-segan menunjukkan pada saya layang-layang yang dimaksud itu.

Soal bentuk, jangan harap hanya ada model konvensional segi lima. Saat menginjakkan kaki di pendopo joglo Museum Layang-Layang, kita sudah disambut dengan berbagai bentuk layang-layang yang tak lazim untuk orang awam. Seperti dokar lengkap dengan kudanya!  Koleksi unik lainnya yang cukup menarik perhatian adalah layang-layang yang terbuat dari daun dengan ukuran kecil yang dijalin menjadi satu rangkaian. Wah, nggak kebayang deh kalau itu ternyata juga disebut layang-layang karena memang bentuk serta bahannya yang seolah menabrak pengertian  ‘apa itu layang-layang’ yang selama ini saya ketahui 🙂

Satu lagi, koleksi MLLI tidak terbatas hanya layang-layang Indonesia. Beberapa koleksi dari manca negara pun ikut dipajang. Ada dari Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara di kawasan Eropa. Setelah puas mendengarkan penjelasan dan ngobrol dengan mas Supriyadi, kunjungan ke MLLI siang itu diakhiri dengan praktek membuat layang-layang. Mas Supriyadi dengan sabar mengajari saya membuat beberapa ornamen untuk ditempel di layang-layang yang saya bikin dengan susah payah. Maklum, nilai kerajinan tangan saya nol besar 😛

Nah, bagi yang tertarik dengan wisata edukasi ini, silakan berkunjung ke MLLI yang terletak di Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta, pada hari Senin-Sabtu pukul 09.00-17.00 WIB. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10 ribu, kita sudah bisa menikmati pemutaran video, berkeliling museum, serta membuat layang-layang sendiri. Disediakan pula pilihan paket wisata lainnya. Untuk info lanjut bisa klik di web MLLI di http://www.museum-layang.com.

Advertisements

2 thoughts on “Wah, Ada Layang-Layang Daun Di MLLI

Comments are closed.