Dunia Lain ala Madakaripura

Madakaripura, destinasi wisata yang masih asing bagi saya. Bahkan, mungkin baru pertama kali saya dengar hingga kami mendekati lokasinya. Agak sedikit memalukan memang karena tiap kali saya jalan, sebelumnya selalu sudah mengantongi informasi perihal lokasi yang akan didatangi. Nah, kali ini kebiasaan itu tak saya lakukan. Ketika teman saya hanya memberitahu bahwa selain mengunjungi Bromo kami juga akan mengunjungi sebuah air terjun, saya hanya iya-iya saja tanpa berusaha mengulik lebih jauh soal destinasi yang dimaksud.

Sampai akhirnya sesaat sebelum kami tiba di lokasi, saya baru ngeh. Ada satu petunjuk jalan menuliskan kata “Madakaripura”, yang diikuti keterangan jaraknya masih sejauh 3 KM dari posisi kami saat itu. Itulah pertama kalinya saya mengetahui soal Madakaripura. Nama yang selain masih asing, juga cukup sulit saya ingat. Jujur, saya baru terbiasa menyebutkan kata Madakaripura tanpa terpeleset setelah kerap gugling usai kunjungan ke sana 😛

Dalam kendaraan yang membawa kami ke lokasi, saya sama sekali masih belum punya gambaran seperti apa air terjun Madakaripura. Coba kuingat, kapan terakhir kali saya berwisata ke air terjun? Setahun, lima tahun, 10 tahun? Saya bahkan tak bisa mengingat saking lamanya. Maka wajar jika saya bersemangat menyambut air terjun ‘pertama’ setelah sekian lama.

pic by Jimboeng Photography

Ternyata, 3 KM versi papan petunjuk berbeda dengan versi saya. Menurut saya, jarak sejak dari papan petunjuk jalan hingga ke pintu gerbang Makadaripura sekitar 6 KM-an. Dengan kondisi jalan yang naik-turun, berkelok, dan agak sempit, jadilah perjalanan terasa jauh lebih lama. Penantian berakhir begitu kendaraan berhenti di lokasi parkir. Tapi, kami masih harus berjalan kali untuk menuju lokasi air terjun. Setelah berganti pakaian yang lebih nyaman, saya pun siap melakukan perjalanan ke sana.

Seperti biasanya, lokasi air terjun hampir seluruhnya tersembunyi. Khusus Madakaripura, dibutuhkan jalan kaki sejauh sekitar 1,5 KM dari tempat parkir dengan beberapa kali melintasi anak sungai yang berbatu-batu. Kalau medan naik-turun itu sudah pasti. Sepanjang jalan, kiri-kanan merupakan tebing bukit. Tapi jangan khawatir, bagi yang baru pertama kali mengunjungi Madakaripura, kita bisa menyewa jasa pemandu penduduk lokal untuk mengantar kita ke lokasi. Ketika itu sang bapak meminta kami Rp 50 ribu. Tadinya saya pikir terlalu mahal. Hanya setelah melihat kondisi jalan dan service yang diberikannya, sayau buru-buru menyingkirkan anggapan itu!

Beberapa saat sebelum kami tiba di spot utama, guide menyarankan kami untuk menyewa payung jika tak mau basah serta membungkus barang-barang bawaan dengan plastik, karena sebentar lagi kami akan melewati air terjun mini.  Wah semakin penasaran. Saat itu kondisi sekitar sudah mulai berubah dengan vegetasi yang lebih rapat dan suhu terasa lebih dingin.

Dan benar saja, tak lama kemudian kami harus menembus air terjun mini itu. Terasa seperti di bawah guyuran hujan. Untung saja kami sudah menyewa payung jadi tak basah kuyup. Di situ saya sudah mulai girang karena melihat pelangi imut di bawah percikan air terjun. Semacam pembiasan cahaya kali ya. Entahlah, yang jelas view itu sangat menarik. Sayang,  saya tak bisa mengabadikan momen tersebut karena kamera underwater saya tertinggal di mobil 😦

Setelah melewati terpaan air tersebut, akhirnya kami sampai di air terjun utama. Kesan pertama, saya seperti berada di sebuah ruangan setengah lingkaran dengan beberapa air terjun di beberapa bagiannya. Benar-benar tak terduga mengingat kebanyakan air terjun terletak di sebuah area yang terbuka nan terang.

Madakaripura seperti terletak di sebuah ujung jalan. Mentok. Kondisi di ruangan setengah lingkaran itu terasa redup karena cahaya matahari tak terlalu mampu menembus area tersebut. Suasana pun sangat tenang, hingga membuatku berasa meloncat ke dunia lain. Padahal saya baru saja meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Dan entah mengapa, Madakaripura terasa sedikit creepy bagi saya…

Guide kemudian menjelaskan kepada kami bahwa di situ ada sumber mata air yang diyakini masyarakat setempat cukup suci. Uniknya, bukan berasal dari air terjun utama melainkan yang berada di tengah, dengan debit air yang jauh lebih kecil. Dan ia baik hati mengambilkan air tersebut meski harus berenang ke sisi lain untuk mencapainya. Air yang mengalir terasa dingin dan menyejukkan. Rasanya pun menyegarkan! Uups, he he he iya, saya minum beberapa teguk air suci itu. Rasanya tak beda jauh dengan air mineral yang biasa kita konsumsi 😛

Usai menikmati Madakaripura dengan segala keelokannya, kami beranjak untuk kembali. Di perjalanan pulang menuju tempat parkir, kami mampir di warung ibu-ibu penduduk sekitar untuk beristirahat sambil menikmati jajanan ala ndeso. Ada gorengan, juga singkong rebus. Ditambah teh panas, terasa sangat nikmat. Saya meninggalkan Madakaripura dengan perasaan puas, dan siap menerima kesenangan berikutnya; Bromo!
(bersambung)

Sekilas Madakaripura
-Air terjun ini diyakini menjadi lokasi Patih Gajah Mada bersemedi menghabiskan waktunya di bumi. Hal itu diperkuat dengan keberadaan patung Gajah Mada di tempat parkir. Jangan sampai melewatkan arca ini.
-Madakaripura sesuai informasi yang aku baca di wikipedia merupakan nama tanah yang dimiliki Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
-Air terjun Madakaripura terletak pada 620 M DPL, di Desa Sapih, Kec. Lumbung, Kab. Probolinggo.
-Jika ingin membeli oleh-oleh, silakan beli madu yang ditawarkan penduduk lokal. Madu ini berasal dari lebah hutan yang dikumpulkan penduduk. Jadi bukan madu dari lebah yang diternakkan.

Tips:
*Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
*Bagi yang baru pertama kali datang, lebih baik menyewa jasa pemandu. Meski hanya ada satu rute menuju air terjun, tapi guide bisa menunjukkan bagian jalan mana saja yang aman untuk dilewati. Mereka juga sigap membantu kita saat melewati bagian jalan yang sulit.
*Apabila tak ingin terlalu basah namun tak ingin menyewa payung, silakan bawa payung sendiri. Hal yang sama juga berlaku untuk barang bawaan. Silakan bawa kantong plastik atau tas waterproof jika tak mau beli.
*Bawa minum. Tapi kalau pun tidak, jangan khawatir karena di sepanjang perjalanan ada warung-warung yang menjajakan minuman dan makanan kecil.
*Bawa kamera tahan air untuk menghasilkan foto-foto tanpa khawatir ‘kamera biasa’ terkena percikan air atau bahkan jatuh ke air.

Advertisements