Behaving Badly

Ketika berusia 16 tahun Miranda Sweet (bagus bener namanya) diperalat untuk melakukan suatu perbuatan tercela. Miranda diminta Jimmy a.k.a James Mulholland untuk mengantar sebuah surat yang berisi video kepada Profesor Derek White, seorang dosen sekaligus peneliti. Jimmy mengatakan pada Miranda surat tersebut berisi sebuah video. Saat itu sebagai seorang gadis ABG yang tengah kasmaran dengan Jimmy, Miranda merasa tak bisa menolak permintaan pria itu.

Miranda tak menyangka Jimmy tega memperalatnya. Paket yang diantarkannya itu ternyata berisi bom surat. Miranda baru mengetahui setelah bom itu meledak di tangan David White, putra Derek, dan menjadi berita di mana-mana. Miranda berang pada Jimmy yang melibatkannya dalam rencana jahatnya dan Jimmy yang sama sekali tak merasa bersalah atas kejadian tersebut.

Sejak itulah selama 16 tahun Miranda hidup dalam perasaan bersalah pada sang korban. Kini saat usianya 32 tahun, Miranda bertekad membebaskan dirinya dari ingatan akan perbuatan yang dilakukannya pada usia belia dulu. Mirada ingin hidup tenang dengan mengaku pada sang korban bahwa dialah yang mengantar paket surat itu dan meminta pengampunan darinya.

Di luar perasaan bersalah yang menderanya, sebenarnya kehidupan Miranda sangatlah baik. Dia baru saja membuka klinik konsultasi hewan dan kariernya sebagai ahli perilaku hewan sangat cemerlang. Dia bisa saja terus bungkam perihal peristiwa itu. Pada awalnya Miranda takut setengah mati jika mengaku maka ia akan berhadapan dengan hukum mengingat perbuatannya itu bisa dikategorikan tindakan kriminal. Ditambah lagi sekarang ini Jimmy sudah menjadi pejabat tinggi. Tak gampang baginya menyeret Jimmy untuk ikut bertanggungjawab atas perbuatannya 16 tahun silam.

Tapi hati kecilnya terus menyuruhnya untuk mengaku. Miranda membulatkan tekad dengan langkah pertama mencari keberadaan keluarga Derek White. Usahanya itu berhasil bahkan Miranda bisa bertemu dengan sang korban, David White, yang berprofesi sebagai fotografer. Nah, di sini masalah semakin bertambah ruwet karena Miranda tanpa disangka justru jatuh cinta pada David. David juga terang-terangan mengaku menaruh perhatian pada Miranda.

Behaving Badly

Keraguan mulai menghinggapi Miranda. Akankah ia berani mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang sudah dilakukannya 16 tahun lalu pada David? Dan bagaimana reaksi David kala mengetahui siapa Miranda yang sebenarnya?

Chicklit setebal 434 halaman ini cukup lumayan dibaca. Sempat bosen karena, lagi-lagi, tak terlalu suka gaya penulisannya, namun Isabel Wolff cukup pintar menata cerita dengan tak secara langsung menjelaskan perbuatan apa yang sebenarnya dilakukan Miranda. Begitu pula dengan apa yang menjadi alasan Miranda putus dengan tunangannya, Alexander Darke. Jadi bikin penasaran gitu, so mau tak mau saya jadi meneruskan membacanya.

Lumayanlah, apalagi profesi Miranda ini cukup unik menurut saya. Ahli perilaku hewan atau semacam psikolog hewan gitu. Pekerjaan yang sangat jarang di sini. Membaca ulah hewan-hewan yang dikonsultasikan sang pemilik membuat saya tertawa geli. Anjing yang hobinya memonopoli tivi, anjing yang suka melompat-lompat atau mengejar ekornya sendiri, marmut homo, hamster yang memangsa temannya sendiri, kucing yang sangat terpesona oleh air, dan masih banyak lagi..

Oiya di chicklit ini juga memuat dialog antara David dengan Miranda yang menurutku cukup apik;

(David) “Kamera bisa membuat kita mengambil jarak dan tak berperasaan. Bisa saja ada orang tergeletak dengan luka parah atau bahkan ditembak di depan kita-tapi untuk sementara rasa simpati kita sebagai manusia terhalang. Yang kita pikirkan hanya ‘wah, ini bisa jadi foto yang bagus…yang itu…yang itu…dan yang itu.’ Kita sibuk mencari sudut pandang dan fokus dan menjepret-jepret, karena pada saat itu hanya itulah yang memenuhi kepala kita. Foto-bukan manusia. Tapi kemudian, kita merasa jijik pada diri sendiri.”

(Miranda) “Tapi foto-foto itu kan penting.”

(David) “Tentu. Dan itulah yang berusaha kita dapatkan-foto-foto penting. Foto yang mampu menyampaikan konteks menjadi metafora yang dalam. Tapi para fotografer harus membayar mahal untuk itu. Banyak yang mengalami depresi. Ada juga yang sampai bunuh diri. Aku sudah melakukannya selama sepuluh tahun dan harus berhenti.”

 

Pengarang: Isabel Wolff
Judul Indonesia: Jangan Bandel, Ya!
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 434 lembar
Alih Bahasa: Lina Jusuf
Cetakan pertama, November 2007

Advertisements