The Wish List

Secara keseluruhan The Wish List ini mirip dengan Last Chance Saloon. Sama-sama menceritakan tentang kisah sekumpulan wanita yang bersahabat dengan problemantika kehidupan masing-masing. Tentu saja ada karakter pria yang juga ikut ambil bagian. Bedanya pada The Wish List ini tak ada pria gay dan cerita cenderung terfokus pada satu karakter utama, Lucy.

Lucy, Meg, dan Chloe merupakan tiga sahabat dengan karakter berbeda. Lucy, wanita emosional yang sangat menyukai perlakuan romantis dari para pria. Putus sambung selama dua tahun terakhir dengan Tom. Chloe, wanita kalem dan lebih suka memendam perasaan. Serta Meg, wanita mandiri, tak suka diatur, dan cenderung jual mahal pada pria yang mendekatinya. Tiga sahabat ini juga berteman karib dengan Percy dan Tom.

Pada Last Chance Saloon inti cerita berkisar pada bagaimana memanfaatkan waktu yang ada untuk mencapai kebahagiaan sebaik-baiknya, maka di The Wish List sang pengarang sepertinya ingin mengajak pembaca menyadari bahwa dalam memilih pasangan hidup terkadang pria impian datang dalam sosok justru seperti yang tak diimpikan.

Lucy putus dengan Tom karena merasa Tom tak seperti pria impiannya yang romantis, menjalin hubungan dengan beberapa pria. Tapi tetap saja pria-pria tersebut tak cukup bisa mewakili sosok pria impiannya. Lucy terus mencari dan menyakini bahwa pria impian dengan cinta abadi untuknya menunggunya di luar sana. Sayangnya dalam pencariannya itu Lucy tak bisa ‘menghilangkan’ Tom dalam pikirannya. Dia selalu membandingkan pria lain dengan Tom.

Meski sudah resmi putus, Lucy dan Tom masih berhubungan dan justru bersahabat baik. Bahkan Lucy tak segan-segan mengenalkan pria-pria yang diakui sebagai kekasih terbarunya itu pada Tom. Jika hubungan Lucy dan kekasih barunya itu gagal, Lucy akan kembali bersama Tom. TTM alias menjalin hubungan tanpa status gitu.

Well the point is, seperti yang dikatakan Tom pada Lucy: “Kadang-kadang butuh waktu beberapa lama untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan, bahkan saat yang kauinginkan itu ada tepat di hadapanmu”.

Pada awal membaca penggambaran karakter tokoh-tokohnya agak membingungkan dan alurnya lambat. Bikin bosan setengah mati. Tapi tetap saja saya teruskan bacanya, lha pas kurang kerjaan gitu… Setelah 50an lembar baru mulai ada bagian-bagian cerita yang kocak dan menggelitik meski terkesan garing yang cukup membantu saya menuntaskan halaman yang tersisa. Endingnya juga gak terlalu bagus menurut saya.

Yang sedikit menarik adalah karena pengarangnya berasal dari Australia, chicklit ini bersetting di Melbourne. Maklum selama ini chicklit yang saya baca para pengarangnya berasal dari Inggris Raya dan Amerika.

 

Pengarang: Melanie La’Brooy
Judul Indonesia: Daftar Permintaan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 475 Lembar
Alih Bahasa: Utti Setiawati
Cetakan pertama, Desember 2007

Advertisements