High Society

Yuhuuu..akhirnya dapat juga chicklit yang satu ini. Sudah lama ngincer dan sedang siap-siap mau beli via online (lagi ada duit sekarang), eh tanpa sengaja saya menemukannya di tumpukan bursa buku murah Gramedia Slamet Riyadi. Olaalaa senangnya hati ini 🙂

Saat membaca resensinya saya sama sekali tak membayangkan dan tak tahu bila High Society ini ternyata masih berhubungan dengan Playing James. Setau saya ya hanya pengarangnya saja yang sama; Sarah Mason. Wah semakin menarik saja nih, jadi pingin lekas membacanya.

Dalam tempo beberapa jam 448 lembar halaman High Society selesai saya baca. Komentar saya? jelas puas.. Sama seperti Playing James yang sukses luar biasa menghibur saya. Kedua buku sama-sama kocak abis dan tak lupa, romantis.

Jika pada Playing James menceritakan kisah Holly Colshannon yang membuntuti detektif James Sabine untuk mengisi kolom di surat kabarnya, High Soceity bercerita tentang kakak perempuan Holly, Clemmie Colshannon.

Clemmie yang baru saja putus cinta dari pacarnya, Seth, melakukan perjalanan keliling dunia untuk melupakan patah hatinya itu. Ketika kembali ke rumah, Clemmie menyadari gairah hidupnya seolah padam. Tak punya kekasih juga tak punya pekerjaan mapan. Sampai suatu ketika adiknya, Holly, ‘menjerumuskan’ dan melibatkannya dalam sebuah kasus. Namun siapa sangka kasus tersebut justru membuat hidup Clemmie bergairah lagi.

Pokoknya senyum-senyum terus waktu membaca chicklit ini. Pada Playing James digambarkan bagaimana karakter Holly yang sering banget mengalami kecelakaan kecil nan konyol justru kerap memicu tawa. Nah, di High Society tak hanya karakter Holly yang mengundang senyum. Seluruh anggota keluarga Colshannon unik banget. Mulai dari Patrick sang ayah, Sorrel si ibu, Barney sang kakak cowok, Sam sahabat dekat Barney, hingga Clemmie dan Holly semua memiliki karakter unik.

Bahkan binatang piaraan mereka, seekor anjing dan satu burung camar, seakan tak mau kalah dengan juga memiliki sifat nyleneh. Begitu pula dengan tetangga dan teman mereka yang digambarkan dengan lucu, seperti Trevor misalnya.

Entah disengaja atau tidak, High Society nuansanya terasa mirip dengan Playing James. Mulai dari cerita pembukanya yang sama-sama lucu, endingnya yang cukup romantis, dan dibumbui dengan kisah sok detektif-detektifan alias pengusutan sebuah kasus.

Bedanya jika di Playing James yang terlibat hanya Holly dan James, pada High Society tak hanya Holly dan Clemmie melainkan melibatkan seluruh keluarga Colshannon serta James Sabine. Seru pokoknya.

Sayangnya karakter Holly yang konyol dan sering mengalami insiden-insiden kecil tak begitu terasa di High Society. Sebaliknya disini Holly terkesan sebagai wanita yang serius dan pemberani. Yang “jelek-jelek” sekarang giliran Clemmie :p

Oiya saya agak tidak mudeng kenapa Sarah Mason memberi judul chicklit ini High Society ya? Kayaknya nggak ‘masuk’ aja gitu. Clemmie, Holly, serta keluarga Colshannon lain yang bukan termasuk kalangan ‘high society’. Jadi, judul itu tak mewakili. Jika itu merujuk pada nama kolom yang ditulis Emma McKellan di Bristol Gazette menurut saya juga kurang kuat. He he he suka-suka Sarah kali ya mau memberi judul apa yang penting karyanya apik. Good job Sarah! 🙂

Satu lagi, chicklit ini judulnya kok tak dialisbahasakan ya? Dari sekian chicklit yang sudah saya baca, semua judulnya juga ikut dialihbahasakan lho. Kok yang ini tidak?

 

Pengarang: Sarah Mason
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 448 lembar
Alih Bahasa: Nur Anggraini
Cetakan pertama, April 2007

Advertisements