For Matrimonial Purposes

Hai. Aku melihat email listing-mu dan sepertinya kau menarik. Aku tinggal di New York dan bekerja di media. Hatiku sangat India, tapi banyak temanku berasal dari kebudayaan dan masyarakat yang berbeda. Umurku 29 tahun, dan karena kau sepertinya tidak memedulikan statistik vitalku, aku tidak ingin memberitahumu di sini. Tapi jika kau ingin berkomunikasi lebih lanjut, aku akan senang mendapat balasan darimu.

Itu adalah email yang dikirim Anju untuk menanggapi iklan seorang pria pada sebuah website makcomblang India. Usaha mencari jodoh lewat situs itu awalnya sukses. Anju berhasil berkenalan dengan Kumar, pria India ‘baik-baik’ seperti yang diharapkannya selama ini.

Tapi, ternyata impian untuk segera melepas masa lajang sirna dalam sekejap. Kumar tak bisa menerima kenyataan bahwa selama beberapa tahun terakhir Anju tinggal seorang diri di New York. Anju lantas menyimpulkan: “Setelah bertahun-tahun mencari di dunia nyata, sudah jelas jodohku tidak akan kutemukan di dunia maya juga.”


Saya ikut bersimpati dengan apa yang dialami Anju, tokoh utama dalam chicklit For Matrimonial Purposes. Tak mudah hidup dengan memegang adat tradisi di jaman sekarang ini. Apalagi yang mengalami adalah wanita seperti Anju. Anju berpendidikan, berpikiran maju, mandiri, bahkan meniti karir, dan tinggal menetap di salah satu kota terbesar, termodern di dunia; New York.

Di satu sisi, Anju mencerminkan wanita modern; mapan, mandiri, pintar. Tapi disisi lain, Anju tak bisa memungkiri jati dirinya sebagai seorang wanita India. Seperti yang diungkapkan dalam emailnya di atas, hatinya sangat India meski sekarang dia tinggal dalam lingkungan yang punya kebudayaan berbeda.

Inilah yang coba diangkat oleh Kavita Daswani dalam chicklitnya. Apik juga ceritanya, terlebih chicklit ini masih menyisakan penggunaan kata-kata maupun istilah dalam bahasa India dalam terjemahannya yang justru semakin menghidupkan cerita. Tema yang diangkat Kavita ini menurutku cukup menarik, lantaran di luar sana diantara kita masih ada yang merasa seakan terjebak dalam sebuah tradisi sementara dunia terus bergerak maju..

Anju memutuskan hijrah ke New York, menjalani kehidupan sendiri dengan harapan dapat menjadi manusia yang lebih berarti, yang tidak selalu dilihat sebagai kegagalan di lingkungan asalnya. Neneknya menikah dua hari sebelum ulang tahunnya yang kesepuluh. Ibunya mendapatkan suami ketika berumur dua puluh. Dan Anju? Hingga mendekati usia kepala tiga belum menikah alias masih lajang statusnya. Di masyarakat Bombay, India dimana pernikahan masih diatur oleh orang tua, status lajang Anju itu merupakan prestasi buruk kalau tak ingin dibilang sebagai aib keluarga.

Saya juga salut dengan Anju ini. Alih-alih menjadi wanita modern, dia Anju tunduk pada tradisi dan adatnya dengan hormat. Konsekuensinya, dia merasa gagal sebagai seorang anak dan seorang wanita. “Tapi aku juga tahu menurut pandangan masyarakatku, seorang wanita tidak terlalu berarti sampai tiba hari saat dia menikah.” Begitu kata Anju. Padahal Anju punya karier yang cemerlang di New York, penghasilannya juga lumayan.

Hebatnya Anju tak berusaha memberontak dari tradisinya. Meski selama bertahun-tahun selalu gagal dalam usaha perjodohannya, Anju tetap percaya diri. Wajarlah jika suatu ketika ditolak pria terus down sebentar.. Tapi Anju tetap berusaha memenuhi harapan orang tua dan keluarga besarnya, mematuhi adatnya. Caranya ya sampai dibela-belain ikut perjodohan via dunia maya seperti yang ada di atas tadi. Bagi sebagaian orang, mencari cinta lewat dunia maya menunjukan betapa ‘putus asa’nya yang bersangkutan mencari jodo.. he he he

Di saat semuanya sudah pasrah, menilai Anju tak akan beruntung dalam urusan perjodohannya, Anju menolak menyerah.

“Kata orang, kau akan menemukan cinta yang kaucari bila kau berhenti mencarinya. Kata orang, begitu kau sibuk dengan pekerjaan, teman-teman, atau kegiatan lain selain kisah cinta, pria atau wanita impianmu akan datang memasuki hidupmu. Aku bilang mereka keliru. Kenyataannya, bila kita mencari cinta, kita tidak bisa benar-benar berhenti. Kemungkinan munculnya cinta selalu ada di setiap undangan makan malam, di setiap pesta koktail, di setiap perjalanan naik pesawat, kereta, dan bus. Cinta mengambang di udara setiap kali kita menghadiri pernikahan, mengikuti kursus bahasa, menempati menja dekat jendela di restoran favorit kita. Aromanya memanggil dari setiap sudut. Cinta mungkin akan didapatkan besok. cinta mungkin didapatkan hari ini.

Kata orang, hal seperti itu ditakdirkan. Kata orang, itu sudah tertulis di bintang, bahwa cinta muncul dalam beragam bentuk, dan bahwa dalam pencarian keunikan-keunikannya, kebahagiaan yang sebenarnya akan ditemukan. Aku bilang mereka benar.

Dan kalau Tuhan berkenan, cinta pun akan datang. Akhirnya, Anju menemukan jodohnya, dengan caranya sendiri.. Rohan persis seperti yang diharapkannya dan keluarganya. Anju menikah tak lama setelah ulang tahunnya yang ke 36. Memang, cinta.., jodoh.. Tuhanlah yang mengatur..

Pengarang: Kavita Daswani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 311
Cetakan pertama, Juli 2004

Advertisements

4 thoughts on “For Matrimonial Purposes

    • hehehe lumayan apik emang. tp karya2nya sarah mason bagiku lebih menarik Dee. coba baca playing james atau high society. dijamin seneng.. πŸ™‚

      Like

Comments are closed.