Senja Sempurna di Phromthep Cape

sunset at phromthep cape

Sebelum mengupload postingan ini saya menyadari bahwa tulisan ini bisa dibilang basi. Gara-garanya kelamaan dipendam, baru dishare sekarang. Sebenarnya sudah lama saya ingin berbagi cerita mengenai kunjungan kami ke Phromthep Cape. Tapi tak tahu mengapa selalu saja tertunda. Sampai akhirnya saya tadi nonton By Any Means di channel Nat Geo.

Setelah satu hari melakukan perjalanan yang melelahkan namun menyenangkan, pada penghujung acara tersebut Charley Boorman sang host mengatakan sesuatu yang cukup indah. Saat itu hari beranjak senja, dan kru By Any Means tengah menaiki sampan tradisional di sebuah sungai di daerah terpencil di Nepal. Charley terlihat sangat menikmati senja itu. Tiba-tiba saya teringat kalau saya juga pernah menikmati suatu senja yang mempesona.. Dan mendadak saya jadi ingin menulis ceritanya…

Kembali ke empat bulan silam, saat saya dan seorang kawan berada di Phromthep Cape (sudah lama kan? makanya saya bilang tulisan ini sudah basi he he he) sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Tak terhitung sudah seberapa sering saya menyaksikan matahari terbenam di pantai (secara rumahku tak jauh dari laut), namun sunset di Prompthep Cape terasa sangat berbeda. Jelas saja, ini sunset pertamaku di negara orang… Eh tapi beneran, sunsetnya terlihat sangat ‘jernih’. Sempurna. Saya beruntung berada di sana ketika cuaca cukup cerah sehingga bisa mengamati dengan jelas semua proses itu hingga matahari hilang di balik cakrawala menyisakan semburat warna-warna indah.

Phromthep Cape adalah sebuah lokasi wisata berupa bukit. Dari titik tertinggi disini, kita bisa menyaksikan view lautan lepas dan pulau-pulau di sebelah timur dan selatan Phuket. Dari Patong tempat saya dan teman menginap jaraknya sekitar 15 KM dengan akses jalan mulus. Saat berkendara menuju dan dari sana, lalu lintas tak terlalu ramai. Jadi meski medannya naik turun berkelok-kelok, bisa ditempuh dengan lancar dan aman.Phromthep Cape

Selain menyajikan view sunset yang indah sebagai andalan, Phromthep Cape juga menawarkan hal lain. Di sini terdapat Elephant Shrine, semacam kuil untuk bersembahyang bagi umat budha. Bentuknya bukan berupa ‘bangunan’ melainkan berupa patung-patung gajah dalam berbagai ukuran yang membentuk sebuah lingkaran. Pada tengah lingkaran terdapat patung yang paling besar. Ada banyak wisatawan lokal yang berdoa disini. Diantara lalu lalang wisatawan mereka terlihat serius memanjatkan doa-doa mereka.

Saya lebih memilih menyingkir cepat-cepat dari depan Elephant Shrine. Bukan karena aku tak mau mengganggu mereka yang tengah berdoa, tapi lebih karena saya tak tahan pada aroma dupa yang sangat menusuk hidung. Baunya kuat sekali, (maaf) bikin pusing he he he..

Di samping Elephant Shrine ada the Kanchanaphisek Lighthouse. Mercusuar yang didirikan tahun 1996 ini dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya masuk. Kita hanya diminta melepas alas kaki saat memasukinya. Kita bisa melihat view sekeliling dari sudut yang berbeda ketika berada di atas mercusuar. Di dalam mercusuar ini juga terdapat sebuah museum kecil.

Di tengah-tengah Elephant Shrine dan mercusuar terdapat monumen untuk mengenang Pangeran Jumborn, yaitu anak laki-laki ke 28 dari Rama ke 5 (Gubrak, siapa itu? maafin kalau info tentang monumen ini salah 🙂 Dan tentu saja di sisi bawah Phromthep Cape ini bertebaran toko-toko souvenir serta rumah makan dengan masakan seafood.

papan petunjuk waktu sunrise dan sunset di depan mercusuarYang menyenangkan dari tempat ini adalah tak ada tiket masuk untuk bisa mendapat semua keindahan itu. Saat kami datang, kami sempat tengak-tengok mencari gardu penjaga tiket, ternyata tak ada, lha wong gratis he he (kebiasaan kalau masuk objek wisata di negeri ini mesti bayar). Parkirnya juga gratis lho. Hanya saja berhubung penuh banget kami sempat kesulitan mencari lokasi parkir untuk motor sewaan kami. Kurang tahu apa karena saat itu hari Minggu jadi pengunjungnya buanyak, atau memang tiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Kunjungan ke Phromthep Cape adalah puncak acara jalan-jalan kami hari itu. Kami keluar dari hostel di daerah Nanai Road pada tengah hari. Dengan motor sewaan 150 bath dari pengelola hostel, kami menuju Mall Jungceylon untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kemudian kami menyusuri pantai-pantai di kawasan Patong seperti Karon Beach dan Kata Beach.

Di sepanjang perjalanan di sebelah kiri kami banyak berdiri hotel dan resort mewah yang tarif per malamnya bisa ratusan bahkan ribuan dolar, serta restoran kelas atas. Sewaktu melintas saya hanya tersenyum kecut sambil membayangkan andaikan bisa menginap, menikmati santapan, serta mendapat pelayanan prima dari salah satunya…

Dengan hanya mengandalkan petunjuk-petunjuk jalan yang ada kami meneruskan perjalanan, dan pemberhentian kami selanjutnya adalah di Karon view Point. Di sini kami bisa melihat view pantai-pantai di kawasan Patong dari ketinggian sembari beristirahat sebentar.scene from karon view point

Akhirnya setelah menjalani satu hari, kami menutup hari itu dengan pemandangan spektakuler di Phromthep Cape. Rasa capek seakan hilang begitu saya menyaksikan sunset di sana. Duduk di antara ratusan wisatawan dari berbagai negara, di antara suara-suara wisatawan dalam berbagai bahasa mereka, di antara hembusan angin petang, melihat matahari tenggelam, hari mulai menggelap.., momen yang luar biasa. Tak ada rasa lain yang bisa saya ungkapkan selain rasa syukur.

Bersyukur bisa berada disana menikmati karunia Allah yang luar biasa itu, bersyukur atas satu hari yang indah itu, bersyukur bisa melakukan perjalanan ini, bersyukur atas hidup ini.. Saya sudah lupa dengan khayalan menginap di hotel mewah, makan di restoran kelas atas tadi. Menginap di hostel, makan dari pedagang kaki lima sudah lebih dari cukup untukku. I could not ask for more kata Edwin McCain dalam salah satu lagunya… Benar kata Charley: “Ini cara yang sempurna untuk menutup hari yang sempurna”. 🙂

NOTE:

Jika ke Phromthep Cape, jangan lupa bawa bekal makanan kecil dan minuman sendiri. Kalau tidak ya jangan lupa beli dulu di bawah sebelum naik. Kami sempat kehausan gara-gara bekal minuman kami habis sesaat kami sampai TKP. Mana di TKP tak ada pedagang asongan (lagi-lagi, memangnya disini??) he he he
-silakan kunjungi flickr saya untuk melihat jepretan-jepretan ngawur dari kamera poket pinjaman.

Advertisements