Lucy Talk

Satu lagi chicklit yang perlu usaha ekstra keras untuk merampungkan membacanya.. wkwkw.., Lucy Talk atau Ocehan Lucy. Judulnya ‘ocehan’, dan ya, isinya emang si Lucy ini ngoceeeh terus tak ada habis-habisnya sampai pusing bacanya. Parahnya, tak jelas apa sih sebenarnya yang menjadi inti cerita chickLit ini he he he

Okelah dia punya cowok pilot, terus hubungan mereka tak berjalan lancar, terus Lucy ini menjalin hubungan dengan Alex, tak cocok juga. Terus Lucy juga ngoceh soal kerjaannya, soal rekan-rekan di kantornya, juga bosnya yang nyleneh. Ngoceh terus saja tanpa hentinya; tentang dua sahabat yang tinggal satu rumah dengannya, Bella dan Jane, juga soal keluarganya. Ayahnya, ibunya, neneknya, dan adiknya, Alice.

Kurang? Lucy rutin ngoceh pada kakaknya, Jeremy yang ada di Selandia Baru, dan sahabatnya yang sedang berpetualang keliling dunia. Pokoknya ceritaaaa terus.. 🙂

Ocehan-ocehan ini disampaikan Lucy dalam setiap kesempatan. Seperti yang tertulis di review cover belakang buku; Lucy mengocehkan seluruh kehidupannya itu pada setiap kesempatan-dalam email kepada sahabatnya, surat kepada abangnya, coretan di balik lembar bon atau kertas apapun, catatan yang tertempel pada pintu kulkas..

Fiuuh, bingung kan bagaimana membayangkan hidup Miss Lucy ini? hobi ngoceh dalam bentuk tulisan. He he he untunglah ini hanya tokoh imajiner Fiona Walker, sang pengarang. Jadi dalam chicklit ini penuturan ceritanya menggunakan gaya email dan surat. Kalau cuma itu sih chicklit lain ada juga yang menggunakan model penulisan serupa. Tapi yang ini, menurut saya kurang didukung cerita kuat sehingga terkesan kurang greget gitu.. Beruntunglah Lucy Talk terselamatkan oleh satu bagian di cerita penutup yang mau tak mau membuat saya tersenyum, yang ada persis di halaman terakhir!

Sebenarnya saya memang tak terlalu tertarik untuk membeli dan mengkoleksi chickLit ini. Selain bukunya tak seperti chicklit umumnya yang size-nya ringkas, buku ini ukurannya seperti buku tulis standar. Saat itu saya membayangkan pasti membacanya kurang nikmat karena kebiasaan membaca chickLit dengan ukurannya yang ramping. Tapi, berhubung tergiur harganya yang hanya 10 ribu (biasa, diskonan seru Gramedia), akhirnya saya memutuskan mengambil buku ini dari tumpukan. Mana tinggal dua biji. Sayang kalau tak dibeli wkwkw..

Hal lain yang membedakan Lucy Talk ini dengan chickLit lain selain bentuk bukunya, yakni berupa  judul pada sampul bukunya. Judul versi Indonesianya, ‘Ocehan Lucy’, tertulis besar, sementara versi baratnya, ‘Lucy Talk’, justru ditulis dengan font kecil di bawah terjemahan Indonesianya. Tak seperti chickLit sebelum-sebelumnya yang berkebalikan dengan itu.

Judul Indonesia: Ocehan Lucy
Pengarang: Fiona Walker
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 509 lembar
Cetakan pertama, September 2007

Advertisements