Diary of A Mad Bride

cover versi 'barat'He he he asyik juga membaca dan sejenak ikut menyelami ‘kegilaan’ Amy Sarah Thomas, tokoh utama dalam chicklit Diary of A Mad Bride.

Menjelang pernikahannya dengan Stephen Richard Stewart, Amy terserang semacam Penyakit Pengantin Gila (kosa kata dari Amy sendiri). Sebenarnya istilah itu diungkapkan Amy untuk sahabatnya Mandy. Saat Mandy akan menikah, Mandy berubah menjadi orang menyebalkan. Terlalu berlebihan dalam mengurusi detil-detil resepsi pernikahan hingga membuat Mandy menjadi sosok ‘menakutkan’ di mata Amy.

Amy, wakil redaktur bidang feature di majalah Round Up, memang wanita yang antipernikahan. Kata ‘menikah’ dibuang jauh-jauh dari kamus hidupnya. Menurutnya, menikah bukanlah suatu hal yang harus dilakukan. Hidupnya sudah terasa bahagia, untuk apa merusaknya dengan menikah? Begitu pikiran Amy. Perilaku Mandy yang terkena Penyakit Pengantin Gila akut semakin meyakinkan Amy untuk menjauhi yang namanya pernikahan. Paling tidak, jika dirinya ‘terpaksa’ harus menikah, maka dia tak akan menjelma menjadi seperti Mandy.

Well, itu dulu, sebelum sang kekasih melamarnya. Setelah mengangguk setuju saat dilamar Stephen dalam antrian membeli snack di bioskop, Amy memutuskan segera menikah!

Nah, di sini ceritanya mulai seru 🙂 Kehebohan demi kehebohan mengalir seiring usaha Amy mempersiapkan segala detil resepsi pernikahannya. Karena anggaran pernikahan terlalu sedikit Amy harus berjuang mendapatkan lokasi resepsi, katering, juru foto, band pengiring, kartu undangan, kue, gaun hingga sepatu pengantin dengan harga terjangkau hanya dalam waktu beberapa bulan yang membuat Amy stres berat! Lama-lama Amy pun berubah menjadi seperti sosok Mandy sebelum menikah dulu..

Diary of A Mad BrideKondisi itu bukannya tak disadari Amy sendiri. Namun dengan dukungan penuh dari sang tunangan, juga ibu, dan sahabat-sahabatnya, Amy akhirnya mampu melewati badai pra-menikah, selamat dari hari pernikahan..

Btw, memang mungkin begitu ya rasanya sebelum melangsungkan pernikahan? Apalagi untuk calon pengantin wanita. Mengurusi pernikahan sampai detil terkecil agar resepsi berjalan sempurna dan dikenang indah seumur hidup (bagi yang ingin menikah sekali saja dalam hidupnya) tentu mendatangkan tekanan, dan itu sah-sah saja. Asal tahu batasannya sendiri, menurut saya, semua itu pantas dilalui.

Just like Amy said:
“Ada begitu banyak momen emosional sebelum pernikahan. Ada yang sangat menyenangkan, ada yang sangat membuat putus asa. Puncak dan lembah. Sama seperti hidup pada umumnya. Tapi tanpa ragu kukatakan semua itu pantas dilalui.”

Hmmm it sounds right. Ada yang benar lagi nih. Masih menurut Amy; “Yang lucu adalah meskipun kami menghabiskan begitu banyak energi dan kepentingan bagi hari pernikahan kami, hari itu bukanlah hari terbesar dalam hidup kami. Hari terbesar dalam hidupmu adalah setiap hari setelahnya. Karena bukan sumpah setia untuk mencintai seseorang yang penting, tapi tindakan untuk memenuhi sumpah setia itulah yang paling penting.” Setuju! 🙂

Judul Indonesia: Buku Harian Sang Pengantin
Pengarang: Laura Wolf
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 435 lembar
Cetakan keempat, April 2007

Advertisements