Tabloid BOLA: Cerita Saya Berawal dari Sana

Selasa (16/10/2018), saya mendapat informasi dari senior, kalau PT Tunas Bola dibubarkan. Sedih? Pasti. Keputusan itu berarti membuat PT Tunas Bola berhenti berproduksi. Tak ada lagi produk-produk yang biasa kita nikmati. Paling menohok buat saya, tentu tak ada lagi eksistensi Tabloid BOLA.

Buat saya, Tabloid BOLA itu lebih dari sekadar tabloid. Dia adalah cinta pertama saya pada dunia jurnalistik.

Keluarga saya yang didominasi dua kakak laki-laki, saya bungsu dari tiga bersaudara, layaknya cowok-cowok lain, menggilai sepak bola. Keluarga kami langganan BOLA sejak harganya Rp800.

Sejak masih terbit satu minggu sekali, kami harus beli di kota kabupaten karena kami tinggal di desa. Belum ada yang jualan koran apalagi tabloid. Beruntung kami semua sekolah, bapak juga kerja di kota kabupaten, jadi tiap kali BOLA terbit, bisa sekalian beli.

Suatu masa, ketika saya SMP, saya baca tulisan Mbak Dian Savitri. Surat buat Pembaca, rubriknya. Jadi, biasanya wartawan BOLA yang ditugasi meliput suatu event di luar negeri (dinas luar negeri) juga menulis sisi lain dari peliputan itu. Oleh-oleh buat pembaca setia yang dibungkus dalam rubrikasi surat buat pembaca itu.

Itu adalah artikel kesekian yang saya baca dari tulisan Mbak Dian, wartawan cewek di dunia olahraga. Kembali ke medio 1990-an, wanita yang bergelut di dunia tulis-menulis olahraga masih bisa dihitung dengan jari.

Bersamaan dengan itu, saya mulai jatuh cinta dengan Juventus, dengan duo di cuore Alex-Pippo, dan sang otak, Zidane. Saya mulai nge-fans Nesta, Cannavaro, dan Italia.

Saya ingat selalu antusias menunggu tiap kali BOLA terbit. Kalau edisi terbaru sudah di tangan, nasibnya sungguh kasihan karena dia langsung tercerai berai. Semua ingin membaca dulu, tak ada yang mau mengalah. Akhirnya, kami bagi-bagi. Siapa baca dulu halaman berapa. Kalau sudah selesai bacanya, tukar sama yang lain. Selalu begitu.

Sejak itulah, saya kepingin bisa menulis (mungkin, ingin jadi wartawan). Sebenarnya, waktu itu saya lebih pingin kerja di kedutaan. Makanya, ketika lulus SMA saya mencoba masuk jurusan Hubungan Internasional, tapi gagal.

Sempat patah hati sampai nggak mau kuliah setahun, saya justru diterima di Komunikasi Massa pada tahun berikutnya. Katanya, itu jurusan buat jadi wartawan. Ya sudah, mungkin sudah jalan saya jadi wartawan.

Bisa ditebak, saya mencoba merealisasikan keinginan masa SMP; nulis berita olahraga. Keinginan itu dimulai dengan saya diterima magang kuliah (KKN, jadul yo ben) di Tabloid BOLA yang kantornya ada di Palmerah Barat, Jakarta.

Dua bulan saya di sana bersama sosok-sosok yang selama beberapa tahun karya-karyanya saya baca. Bak ketemu selebritas, saya deg-degan lho ketemu dengan beliau-beliau itu untuk kali pertama.. kedua… Namun, mereka sangat welcome dengan bocah ingah ingih seperti saya.

Pada durasi itu saya mendapat kesempatan liputan (meski ndompleng senior) dan juga menulis artikel pendek-pendek macam di rubrik Galeri. Masa KKN tuntas, saya pamitan pada Bang Ian Situmorang. Beliau bertanya pada saya: “Kamu sudah dapat apa yang kamu cari selama di sini?” Saya gelagapan. Bukan karena tak bisa jawab, justru karena jawabannya bakal panjang.

Saya yang orangnya canggungan, cuma bisa mesem-mesem sambil minta beliau menandatangani buku Bergulir dan Mengalir yang saya dapat dari HUT ke-20 BOLA. Buku itu masih saya simpan di rumah, aman dari amukan banjir beberapa kali yang menyerang rumah di desa.

Buku itu juga berisi beberapa tanda tangan wartawan-wartawan BOLA dan mereka yang bekerja di luar redaksi. Kenang-kenangan batin saya ketika itu. Saya malah tak foto-foto karena zaman dulu belum musim narsis seperti sekarang.

Sepulang dari KKN, saya kembali ke Solo dan melanjutkan kuliah (niatnya). Tapi, singkat cerita, saya ditawari untuk jadi kontributor BOLA wilayah Solo dan sekitarnya. Bisa dibayangkan betapa saya menyambut tawaran itu dengan luapan bahagia.

Juni 2004, saya mulai membantu BOLA. Liputan pertama saya, IBL. Saya begitu menikmati tugas-tugas yang diberikan pada saya. Sampai kuliah saya tercecer (alasan saja sih karena aslinya memang males nggarap skripsi).

Selama lebih dari enam tahun saya membantu BOLA dari Solo. Tentu banyak sekali pengalaman saya peroleh. Saya ingat pernah liputan sampai Kediri, Kudus, dll, lihat suporter digigit-gigit anjing, saya diamankan ke ruang ganti dari amuk suporter, dapat pelecehan dari suporter, naik motor kehujanan di antah berantah, dan masih banyak lagi cerita penuh perjuangan lain.

Cerita suka? Tentu lebih banyak. Termasuk yang tak terlupakan, bimbingan dari senior-senior di markas besar Jakarta dan di lapangan di Solo pada awal awal bantu-bantu BOLA. Dulu, di Solo, seingat saya, cuma saya yang berjenis kelamin cewek yang liputan di lapangan-lapangan olahraga bersama mas-mas senior. Mereka mentor-mentor saya di lapangan sekaligus bodyguard ketika liputan bareng.

Ketika itu, kalangan jurnalis belum seriuh sekarang. Hanya ada beberapa dari media cetak plus radio. Ke mana-mana kami hampir selalu bareng atau setidaknya bertemu.

Hingga akhirnya, saya meninggalkan kehidupan di Solo menuju Jakarta pada Oktober 2010. Ke mana tujuan saya? Ya masih bersama BOLA. Saya lagi-lagi ditawari hijrah, dari membantu BOLA dari Solo, kali ini langsung dari mabes di Palmerah, Jakarta.

Tawaran itu bak jawaban doa saya. Tak banyak yang tahu, kalau setelah Ibuk berpulang selamanya pada Juni 2009, saya merasa butuh tantangan baru, suasana baru karena sudah hampir 10 tahun saya di Solo.

Selain itu, tugas saya menjaga Ibuk juga sudah “tuntas”. Keluarga juga mendukung saya untuk mencari petualangan baru. Hanya, saya masih belum berpikir meninggalkan dunia tulis menulis. Di saat merasa di persimpangan, saya ditawari membantu BOLA di Jakarta itu tadi. Tentu tawaran yang tak bisa saya tolak. Ilmu baru menunggu, pengalaman baru menanti.

Jadilah, per akhir Oktober 2010 saya jadi the Jakartans. Saya ke ibu kota saat Gunung Merapi njeblug, memakan banyak korban. Saya ingat, naik bus Safari Dharma Raya lewat daerah terdampak yang mirip zona perang di sepanjang jalan saat keluar Kota Yogyakarta, cuma bawa satu tas berisi pakaian serta satu set speaker kesayangan. Tiba di kantor Palmerah, ada senior yang bilang: “lhaa ada ini ada pengungsi Merapi di sini…”

Tugas pertama saya di kantor Palmerah adalah membantu untuk Piala AFF 2010. Oya, selama saya membantu BOLA, meski saya harus siap ditugaskan ke cabang olahraga apa pun, saya lebih sering menulis sepak bola nasional. Begitu juga ketika gabung di kantor Palmerah.

Hampir lima tahun membantu Tabloid BOLA, Harian BOLA, dan produk lain seperi BOLA Sports, BOLA Vaganza, di kantor BOLA Palmerah termasuk mencicipi Bolanews, pada akhir Maret 2015 saya memutuskan undur diri. Bukan karena saya tak cinta lagi, tapi itu pilihan hidup. Sama seperti cinta pertama yang tak selalu memiliki. Seperti cinta pertama yang tak berakhir sempurna. Itulah hidup.

Saya ingat, sewaktu memberikan surat mundur, saya nangis tersedu-sedu (terlalu emosional pas PMS) karena itu bukan keputusan mudah. Bahkan, satu di antara keputusan sulit yang harus diambil dalam hidup saya. Tapi, hidup harus terus berjalan. Mungkin ada yang berpendapat saya termasuk yang berkontribusi membuat BOLA berujung seperti sekarang. “Kalau kamu cinta, sayang, kenapa kamu pergi?” mungkin begitu ibaratnya…

Tapi, apalah, siapalah saya ini… Saya punya alasan, yang pasti cinta saya buat BOLA tak usai sampai di situ. Buat saya, Tabloid BOLA bukan sekadar tabloid, bukan sekadar kenikmatan membaca… It means part of my life. Saat saya menulis ini, saya kontak-kontakan dengan rekan-rekan yang dulu juga sama-sama membantu BOLA dari daerah. Mengutip ucapannya, dia bilang: “ya sedih, story kita dari sana…”

Ya bener… Buat saya, cerita kehidupan saya hingga bisa ada Aning Jati seperti sekarang, ya berawal dari Tabloid BOLA. Jadi, ucapan terima kasih buat BOLA dan semua yang ada di dalamnya, tak akan pernah cukup.

Mengenang semua yang pernah saya alami dan rasakan semasa membantu BOLA, menyerap semua ilmu yang didapat, mungkin jadi penghargaan terbesar yang bisa saya berikan buat BOLA. Selamat jalan Tabloid BOLA. Sebuah kehormatan, keistimewaan, dan kebanggaan besar pernah jadi bagianmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s