Kisah Sepasang Sandal

“Milikilah sepasang sepatu (sandal) yang indah, suatu saat dia akan membawamu ke tempat terindah yang kamu impikan.”

Aku adalah sepasang sandal berwarna hitam. Pemilikku adalah pemilik blog ini. Aku selalu melekat di kaki pemilikku sejak 2010, terutama jika ia sedang bersantai. Aku dibeli pemilikku tepat ketika ia hendak melakukan perjalanan ke tiga negara; Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Aku dulu dibeli dengan harga tak lebih dari Rp25 ribu di sebuah toko sepatu di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta. Kata pemilikku, aku dihadiahkan kakak laki-lakinya sebagai bekal adik perempuannya menjelajah ke luar negeri untuk pertama kali. Sejak itu, aku sudah ikut melanglang bersama pemilikku. Ia memang lebih suka memakaiku ketika ia bepergian. Jika bisa, dalam semua acara, ia bilang ingin memakaiku dari pada memakai sepatu.

Selama tiga tahun ini aku sudah menyentuh tanah di Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan banyak destinasi wisata di Indonesia lainnya. Aku bahkan jadi pilihan utama ketika pemilikku jalan-jalan ke Kepulauan Derawan. Ia tak membawa sepatu, hanya memakai aku! Ia bilang tak malu meski hanya memakaiku untuk datang ke tempat yang asing baginya.

Aku sudah diajak berlari atau pun berjalan santai di semua medan. Siang dan malam. Panas, hujan, naik, turun, debu, pasir, becek, berbatu, apapun kondisinya, juga telah aku lewati sepanjang tiga tahun ini bersama pemilikku. Bahkan, suatu malam, tubuhku pernah digigit tikus yang membuat bagian kecil tubuhku tak lagi sempurna. Pemilikku bergeming dan tetap memakaiku. Mengajakku ke sana ke mari.

Namun, kebersamaan kami agaknya harus berakhir. Sabtu lalu, tubuhku tak lagi kuat menahan beban saat diajak treking mendaki Situs Megalitikum Gunung Padang serta Curug Cikondang. Aku tak bisa lagi melindungi kaki pemilikku dengan baik. Puncaknya, saat salah satu bagianku menonjol keluar dan membuat pemilikku kesakitan saat memakai aku. Sebenarnya, saat ke Vietnam lalu, salah satu bagianku juga sudah ada yang rusak. Tapi, pemilikku masih bisa memperbaikiku.

Sekarang, pemilikku harus mengucapkan salam perpisahan denganku. Aku menyadari kini tibalah waktunya pensiun dan memberi kesempatan kepada penggantiku untuk melindungi dan menemani kaki pemilikku. Aku tahu pemilikku juga bersedih karena kami harus berpisah. Baginya, aku adalah patner yang setia. Tas ranselnya boleh ganti-ganti, destinasi pilihannya selalu berbeda, teman seperjalanannya juga kerap tak sama. Tapi, hanya aku yang selalu sama.

Ini adalah akhir kisahku.

 

Advertisements

6 thoughts on “Kisah Sepasang Sandal

  1. Hahaha..sebulan penuh blogwalking banyak tulisan2 aneh tapi menarik.dari gitar kesayangan,motor idaman,hewan piaraan,dll.
    Tapi baru kali ini ada yang nulis ttg sandal jepitnya.
    🙂 2 thumbs up.menghargai hal2 terkecil disekitar kita sering kali kita lupakan.

    Like

  2. 🙂 menghargai hal2 terkecil dikehidupan kita adalah wujud syukur atas karunianya.sebulan blogwalking baru kali ini ada tulisan ttg sandal jepit kesayangan.lain dari yg lain.n there’s nothing wrong with it.

    2 thumbs up!

    Like

    • waaah… makasih yak.
      awalnya cuma iseng, saat liat sandalku jebol, sedih juga secara sudah menemani selama 3 tahun lebih. akhirnya, malah jadi tulisan hehehe..
      thanks!

      Like

  3. hehhehe seru juga bacanya, si sendal yang punya banyak cerita dengan pemiliknya, ^_^

    oh y mampir jalan2 ke rescfe.blog.iy.com ya ^_^
    terima kasih

    Like

  4. hehhehe seru juga bacanya, si sendal yang punya banyak cerita dengan pemiliknya, ^_^

    oh y mampir jalan2 ke rescafe.blog.iyaa.com ya ^_^ (diatas salah ketik alamat blog nya,heh) check out
    terima kasih

    Like

    • wohoooho.. tengkiyuu sudah mampir.. hihihi iya, sudah almarhum tuh sendal :p Empunya sudah punya ganti baru. smoga jodoh bisa tahan lama ;p Siapp langsung meluncur ke tkp nih..

      Like

Comments are closed.