Malam Mingguan di Melaka

Setelah check in dan menaruh barang-barang di kamar hostel, kami bergegas memulai acara jalan. Kami diburu waktu karena hari sudah beranjak sore. Waktu kami di Melaka sangat terbatas. Kurang dari 15 jam saja. Bisa dibilang destinasi ke Melaka sebagai sebuah target antara karena tujuan kami sebenarnya adalah ke Vietnam. Bisa dibilang juga kami hanya numpang malam mingguan di Melaka. Tetapi, secara personal saya menganggap bahwa kepuasan dari sebuah perjalanan tidak melulu ditentukan durasi kunjungan. Melainkan bagaimana kami menggunakan waktu yang ada dengan baik untuk memperoleh pengalaman baru yang berkualitas.

Dari hostel, tak butuh waktu lama untuk mencapai landmark Melaka. Gereja St Francis Xavier, Christ Church, dan beberapa landmark lain hingga St. Paul Hill di kawasan Stadthuys bisa ditempuh dengan jalan kaki. Suasana petang itu cukup ramai. Rona gembira saya lihat di wajah Bapak. Sampai juga ya Pak kita ke sini ujar saya dalam hati. Kami mencapai di Bukit St. Paul saat sudah rembang-petang. Melaka menggelap. Hanya tinggal beberapa wisatawan saja di sana. Kami nampaknya jadi rombongan terakhir yang menuruni bukit sambil menahan perut yang keroncongan.

prewed di tepi melaka river

suasana kawasan stadthuys dengan dominas warna merah-nya

suasana kawasan stadthuys dengan dominasi warna merah-nya

Sejak tiba di Malaysia beberapa jam sebelumnya, perut kami belum diisi nasi. Atas masukan pemilik hostel yang keturunan India sebelum berangkat jalan, kami mencoba makan di Restoran Pak Putra. Menunya masakan khas, Ayam Tandori dan Roti Nan. Tapi sebelum bisa menikmati makan siang-makan malam yang jadi satu itu, kami terpaksa jalan kaki. Jika kondisi perut tak keroncongan, jaraknya terbilang tak jauh. Tapi ini perkara lain karena kami sudah sangat kelaparan he he he. Saya tau Bapak pasti lebih kelaparan dari saya. Huhuhu karena harus buru-buru jalan, kami jadi tak sempat makan dulu begitu sampai di Melaka.

Nah, perkara baru muncul ketika kami sudah tiba di restoran yang dimaksud. Restoran ini tak menyajikan nasi dan ayam hanya disantap dengan roti. Maklum, perut kami ndeso, maunya diisi nasi wahahaha.. Apa boleh buat selain menikmati makanan yang sudah dipesan dengan lahap. Selain warga lokal banyak pula wisatawan manca seperti kami ngantri makan di tempat ini. Menghabiskan weekend di Melaka memang punya atmosfer berbeda dibanding weekdays.

Kata seorang teman, Melaka agak “sepi” kalau hari-hari kerja. Pukul 21-an toko-toko sudah tutup dan kota terasa lengang. “Kalau kalian hanya punya waktu sebentar di Melaka, datang saat akhir pekan saja. Karena saat itu Melaka lebih menggeliat. Kalian juga bisa mengunjungi Pasar Malam di Jonker Street. Jika tidak, sayang.” Begitu saran teman yang sudah menerbitkan beberapa buku travel itu.

menu makan malam di pak putra restaurant

menu makan malam di pak putra restaurant

menuju ke night market di jonker street

Nah, dengan perut kenyang, kami menuju ke Jonker Street yang sudah kami lewati sewaktu kami mencari hostel. Letaknya cukup dekat dengan lokasi hostel kami. Malam itu jalanan sempit Jonker penuh sesak. Jualan di Jonker Street tak jauh berbeda dengan yang dijual di Pasar Baru, atau Ngarsopuro, Solo. Tapi tetap saja, yang namanya mengunjungi tempat asing untuk pertama kalinya selalu menyenangkan. Semua terlihat menarik.

Sambil melepas lelah dan meresapi suasana malam Minggu di jantung destinasi Melaka itu, kami ngobrol santai di Ringo cafe. Sebelum berangkat ke Malaysia saya mendapat masukan dari mbak Arie, travel writer idola saya, cafe mana saja di Jonker Street yang menurutnya asyik. Dan ia menyarankan dua cafe; Ringo serta Geografer. Ringo, menurutnya sedikit lebih memberikan kesan intim ketimbang Geofrafer. Dari segi kocek, Ringo juga sedikit lebih terjangkau. “Juga, kalau mau suasana yang lebih oldies, ke Ringo saja. Ada banyak poster-poster tua dipasang sebagai interior cafe,” ujar Mbak Arie kepada saya. Okelah, padahal di Ringo kami hanya memesan dua botol bir dan segelas orange juice.

Sayang sekali pesan lain Mbak Arie agar kami mendatangi bengkel seni milik Charles Cham, tak bisa kami lakukan karena sewaktu ke sana sudah tutup. Charles mendirikan The Orangutan House di 59 Lorong Hang Jebat, Melaka. Salah satu karyanya, kaos-kaos unik dengan icon orangutan. Kata Mbak Arie, kaos itu termasuk must buy item-nya kalau kita ke Melaka. Bisa dipakai sendiri atau untuk suvenir.

Waktu memang bergulir dengan cepat lantaran kami tiba di Melaka sudah sore. Kami pun kembali ke hostel karena tubuh ini mulai letih. Tak diduga, kami menjumpai lagi seorang WNI. Kali ini, justru berprofesi sebagai penjaga hostel di mana kami menginap. Namanya Pak No. Kami pun ngobrol banyak dengan bapak yang sudah 22 tahun bermukim di Malaysia itu, sampai rasa ngantuk menyerang.

Kami pun pamit menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Di kamar saya tak banyak bercakap dengan Bapak karena sudah sama-sama letih. Tapi saya tau, hari itu kami gembira bisa mengunjungi tempat asing, bersama. <BERSAMBUNG>

NOTE
-LCCT-Melaka by Transnasional MYR 21,90
-Melaka Sentral (terminal Melaka)-Stadthuys MYR 1,50
Terminal Hostel Bala’s Place 1N (Standard double bed private shared bathroom) 77 Jalan Hang Kasturi, Melaka MYR 25/pax
-Hostel-Melaka Sentral MYR 1.50
-Melaka-LCCT by Transnasional MYR 23 (bisa dibeli di Discovery Cafe dekat Stadthuys)

Advertisements