Trip Termahal (jangan percaya judulnya)

Dilihat dari destinasi trip kali ini, seharusnya tidak butuh biaya besar. Apalagi, operator trip hanya meminta kami membayar Rp 185 ribu/pax, untuk perjalanan ke empat objek tersebut. Sudah termasuk transport naik mobil pribadi plus tiket masuk ke objek wisata. Jadi ya, pengeluaran hanya benar-benar untuk kepentingan pribadi kayak beli makan, minum, dan oleh-oleh.

Tapi kenapa jadi trip termahal saya? huaaa hiks hiks. Itu hara-gara saya kehilangan handphone pas ikut trip ini. He he he.. dengan harga beli hp yang mencapai Rp 2,6 juta waktu itu, jadilah trip ini menjadi yang termahal. Ya 11-12 lah dengan pas trip ke tiga negara, April 2010.

Sedih? Iya jelas. Apalagi hp yang ilang bisa merupakan hp favorit saya. Yang sudah sudah incar sejak masuk Indonesia pertama kali. Bukan hp keluaran terbaru, tapi tetap bikin sedih kalau ilang. Tambah ngenes lagi, kehilangan hp ini seingat saya sudah yang ke sekian kalinya he he he.

Hanya, waktu itu saya memang tak menunjukkan rasa sedih. Pas menyadari hp jatuh, dan setelah melakukan usaha pencarian tapi tetap tak ketemu, ya sudah. Diiklaskan saja. Biar Tuhan yang membalas si pengambil hp ku. Lagipula sayang banget kalo mood gembira karena pesiar mendadak beralih jadi kesedihan. Mana destinasi kali ini sudah lama saya nantikan. So, tiga destinasi berikutnya saya ‘lahap’ dengan enteng, tanpa berasa baru saja kehilangan hp 🙂

Di luar insiden hp hilang, seperti yang sudah-sudah, piknik di wilayah Bandung Selatan ini mengasyikkan. Kami hanya berlima berangkat dari Jakarta, ditemani dua orang operator trip dan seorang sopir. Salah satu kelebihan piknik dengan ikut tur menurutku adalah kita dijamin bakal punya teman baru. Menyenangkan!

Situ Patenggan menjadi lokasi pertama piknik kami. Setelah beli gorengan dan disantap rame-rame, kami pun menyewa sebuah kapal, per orang kena 26 ribu, menuju ke Batu Cinta. Bagi yang belum familiar dengan Situ Patenggan, objek yang satu ini adalah sebuah danau yang di sekelilingnya merupakan perkebunan teh. Menurut situs wikipedia, danau ini terletak di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. Jadi udaranya sejuk.

Kawah Putih

Sesejuk di Kawah Putih, yang menjadi destinasi berikutnya. Hanya, kita tak akan bisa berlama-lama di kawah yang ditemukan Dr Franz Wilhelm Junghuhn pada 1827 tersebut. Alasannya? bau belerang yang menyengat plus asap yang bikin mata nggak nyaman.  Di luar itu, Kawah Putih cukup indah. Seberapa indahnya, mungkin bisa dilihat  dari cerita-cerita lain sesama pejalan yang pernah ke sana.

Satu hal yang harus ditekankan adalah, masuk Kawah Putih itu tidak (begitu) mahal. Ada yang perlu diluruskan karena sebelum saya ke sana, sempat mendapati kesan piknik ke Kawah Putih itu mahal.

Ya, kalo tetap nekad bawa mobil sendiri sampe parkiran di atas sih mahal. Gara-garanya mobil dikenai tiket masuk sebesar Rp 150 ribu. Kalau tak mau mahal, tinggalkan mobil Anda di parkiran bawah yang sudah disediakan, dan bergantilah dengan menggunakan ontang-anting, sejenis angkot yang sudah dimodifikasi untuk mengantar Anda ke atas, ke lokasi Kawah Putih. Biayanya hanya 10 ribu. Ditambah tiket masuk 15 ribu, total untuk masuk objek ini hanya 25 ribu. Catet, hanya 25 ribu! *per Februari 2012.

Yang menyenangkan lagi, stroberi di sini murah banget! puasss aku beli stroberi beberapa plastik. Mana buahnya besar-besar, manis bercampur agak asam, segaaaarr…

Seakan belum puas beli stroberi dari penjual, operator trip membawa kami ke kebun stroberi. Oooouuw senangnyaaa. Bisa memetik buah langsung dari pohonnya memang sangat menyenangkan. Sayang tidak gratis, karena untuk perkilo stroberi yang dipetik, kami diharuskan membayar Rp 40 ribu. Aaah whatever, petik sana petik sini.

Kebun stroberinya memang tidak begitu luas, tapi pohonnya berjejer rapi dengan buah yang lebat di tiap pohonnya. Meski di situ ada tertulis peringatan; “Dilarang mencicipi sebelum ditimbang”, kami mengabaikan hal itu. Sembunyi-sembunyi metik stroberi dan langsung melahapnya di tempat ha ha ha. *Maaf, cuma beberapa buah saja kok.

Capek berkeliling dari siang sampe sore, kami klenger dalam perjalanan menuju Cihampelas Walk, ato yang lebih terkenal dengan sebutan Ciwalk. Sebelum sampe ke area perbelanjaan di Kota Bandung itu, kami sempat mampir sebentar di depan Gedung Sate, dan makan malam di warung ‘Nasi Bancakan Mang Barna & Bi O’om’ yang menyajikan masakan dan minuman khas sunda.

‘Tempoe doloe’ menjadi tema di warung makan yang terletak di Jalan Trunoyo No 62, Bandung itu. Mulai dari menu makanan dan minuman yang disajikan hingga piring, gelas, teko, dan dekorasi ruangan, semua dibikin jadul.

Setelah kenyang mengisi perut kami meluncur ke Ciwalk. He he he ini objek yang nggak banget menurut saya. Tapi berhubung belum pernah ke sana, ya dinikmati saja.

Over all, sehari piknik di Ciwidey dan Bandung, cukup menyenangkan. Akan jauh lebih menyenangkan, seandainya hp saya tidak jatuh dan hilang di parkiran bawah Kawah Putih… 🙂

Advertisements