Speechless

Fresh from the oven. Maksudnya, chickLit ini baru saya beli kemarin siang di Gramedia, masih dengan harga obral Rp10 ribu saja 🙂 Buku setebal 518 ini langsung saya baca. Cukup menyenangkan.. Ceritanya lumayan menarik meski pada beberapa bagian ada yang terasa membosankan. Seperti biasa juga, dengan harga sangat terjangkau buku ini pantas untuk dibeli. Ya buat tambah-tambah koleksi chickLit.

Judulnya Speechless, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘terdiam’, ‘tak bisa berkata-kata’ (sederet.com). Judul chickLit ini lantas dilihbahasakan menjadi ‘Buket Pengantin Ketiga Belas’. —> jauh banget yak. Tapi, sah-sah saja diberi judul Indonesia seperti itu.

Background chickLit ini berkisah tentang Libby McIssac yang terkenal sebagai penangkap buket pengantin. Sejak usia delapan tahun hingga 33 tahun, Libby sudah ‘menangkap’ buket pengantin sebanyak 13 kali. Sebenarnya Libby tak berminat dalam perebutan buket pengantin itu. Hanya karena postur tubuhnya yang menjulang tinggi; 185 cm, membuat Libby gampang menangkap buket, ketimbang membiarkan buket itu menghantamnya.

Libby boleh saja hampir selalu sukses menangkap buket bunga pengantin pada setiap resepsi pernikahan yang dihadirinya. Tapi mitos bahwa siapa yang bisa menangkap buket akan menjadi pengantin berikutnya ternyata tak terjadi pada Libby. Libby justru seakan dijauhi jodoh. Selalu gagal dalam menjalin hubungan dan belum menemukan pria yang tepat untuknya.

Sampai pada pernikahan sahabatnya, Emma, Libby kembali sukses menangkap buket. Buket pengantinnya yang ke 13. Dan di pesta pernikahan itulah Libby mengenal Tim Kennedy, sahabat Bob suami Emma. Libby langsung menyukai Tim yang saat itu ternyata sudah punya kekasih.

Itu background cerita ‘Buket Pengantin Ketiga Belas’. Saya bilang background karena menurut saya chickLit ini justru menawarkan cerita lain yang lebih kuat ketimbang soal urusan ‘buket-buket pengantin’ itu. Di chickLit ini kita akan mengikuti kisah Libby yang berjuang menunjukkan potensi dirinya di lingkungan kantor barunya di Departemen Kebudayaan.

Karena ingin mendapatkan tantangan baru, Libby mundur dari pekerjaannya di Departemen Pendidikan dan melamar sebagai penulis pidato menteri untuk menteri kebudayaan. Libby diterima, tapi apa yang diperolehnya pada awal-awal ia bekerja disana sungguh di luar dugaannya. Libby tak memperoleh posisinya itu. Ia justru bekerja layaknya asisten pribadi sang menteri. Membawakan tas-tasnya, menunggui sang menteri ketika di WC, dan melakukan hal-hal remeh lainnya yang tidak ada kaitannya sebagai penulis pidato.

Kondisi di kantor barunya semakin buruk karena salah seorang rekan kerjanya, Margo, bersikap luar biasa menyebalkan. Margo selalu mengitimidasi Libby. Seakan itu belum cukup, kehadiran Richard pria asal Inggris yang datang sebagai konsultan menambah parah dunia Libby.

Tapi, Libby tak mau menyerah dengan semua itu. Didukung keluarga dan sahabat-sahabatnya yang setia, Libby terus berjuang mendapatkan pengakuan sekaligus posisinya sebagai penulis pidato.

Endingnya, seperti rata-rata chickLit yang saya baca, kisah Libby berakhir bahagia. Baik dalam urusan asmara dengan Tim maupun dalam hal kariernya… Silakan baca sendiri untuk lebih asyiknya. Di obral Gramedia Slamet Riyadi masih banyak kok bukunya

Pengarang: Yvonne Collins dan Sandy Rideout
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 518 lembar
Cetakan pertama, Maret 2005

Advertisements