For One More Day

Pernahkan kau kehilangan seseorang yang kausayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika menganggap mereka akan selalu ada selamanya? Jika pernah, maka kau pasti tahu bahwa seberapa banyak pun kau mengumpulkan hari-hari sepanjang hidupmu, semuanya takkan cukup untuk menggantikan satu hari itu, satu hari yang ingin bisa kaumiliki lagi.

Bagaimana jika kau bisa mendapatkan kembali satu hari itu?

For More One Day adalah kisah Charles ‘Chick’ Bonetto yang mendapat kesempatan itu. Mendapatkan satu hari berjumpa dan bercakap-cakap kembali dengan ibunya, Posey, yang telah meninggal dunia delapan tahun silam. Peristiwa ini dimulai dengan usaha bunuh diri yang dilakukan Chick. “Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.” Begitu kalimat yang diucapkan Chick pada awal buku ini.

Ketika masih kecil, Chick diminta sang ayah untuk memilih, hendak menjadi ‘anak mama atau anak papa, tapi tak bisa dua-duanya’. Maka sejak saat itu Chick memilih ayahnya, memujanya, mengikuti semua yang inginkan sang ayah darinya, menjadi pemain bisbol profesional. Tapi sang ayah kemudian meninggalkannya, meninggalkan keluarganya tanpa memberi penjelasan padanya.

Chick tumbuh besar bersama Roberta, adik perempuannya, dengan diasuh sang ibu. Chick sering kali merasa malu akan keadaan ibunya serta menyalahkannya untuk banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.

Saat kuliah, Chick memutuskan menjadi ‘anak papa’ dengan berhenti dari kuliah dan menjadi pemain bisbol profesional meski ia tahu keputusannya itu membuat ibunya kecewa. Ketika telah berkeluarga, Chick masih berusaha menjadi ‘anak papa’. Ketika sang ayah kembali menghubunginya untuk ikut bermain dalam ‘pertandingan reuni’, Chick menyetujuinya tanpa mengatakan yang sebenarnya pada ibu, istri, serta anaknya. Ketika turun dalam pertandingan tersebut, Posey meninggal dunia karena serangan jantung.

Saat itulah hidup Chick mulai kacau balau. Chick merasa hidupnya berubah setelah pemakaman Posey. Bertahun-tahun kemudian Chick larut dalam penyesalan dan rasa bersalah. Hidupnya hancur. Ia mulai akrab dengan minuman keras seiring kegagalannya dalam menghidupi keluarganya. Ia ditipu rekan bisnisnya, usaha restorannya bangkrut, dan tak ada yang berminat menawarinya sebagai pelatih bisbol.

Chick bangkrut secara finansial padahal ia bekas pemain bisbol pro yang turun di ajang World Series. Chick menjadi pemabuk, depresi, dan berkelakuan buruk. Pernikahannya dengan Catherine, istrinya, pun akhirnya runtuh. Chick hidup sendiri sejak saat itu.

Chick semakin merasa hancur setelah tak diundang dalam pernikahan putrinya, Maria. Itulah yang menjadi penegas bahwa ia harus menyerah. Mengambil tindakan terakhir yang bisa menyelamatkannya; bunuh diri.

Sesaat setelah menjatuhkan diri dari menara air, Chick membuka mata, dan menjumpai ibunya disana, memandanginya seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Saat itu Chick shock, terkejut. Dengan perasaan campur aduk, Chick menuju ke rumah masa kecilnya bertekad mencari jawaban atas kepingan-kepingan hidupnya.

Selama satu hari itu, Chick kembali ke masa lalunya. Mengikuti sang ibu yang menjumpai wanita-wanita tua sahabat ibunya yang akan segera meninggal, dan ia mendapatkan jawabannya.

Usai perjumpaannya dengan sang ibu dalam kondisinya yang sekarat, Chick tak lagi menyerah. Ia berjuang merehabilitasi dirinya dan berjuang memperbaiki banyak hal dengan orang-orang yang dicintainya sampai akhirnya ia meninggal di usia 58 tahun karena penyakit stroke.

Mitch Albom memang piawai kalau bikin buku bertema ‘kesempatan yang diterima seorang yang dying, between life and death’ gitu.. Buku ini seperti halnya karyanya yang lain, The Five People You Meet in Heaven, sangatlah menarik. Sangat sarat makna dan memberi pencerahan pada saya. Padahal katanya best sellernya Mitch Albom adalah Tuesday with Morrie, yang belum saya baca. Hmm jelas saya jadi kepingin baca bukunya yang itu..

For More One Day yang dialihbahasakan menjadi Satu Hari Bersamamu ini benar-benar touching. Gaya penulisan yang diambil Albom terasa unik membuat kita tak bosan saat membacanya bahkan kita akan ikut menyelami perasaan Chick, dan pada akhirnya mengambil pelajaran dari kisahnya.. Jika kita bisa mengubah masa lalu mungkin kita ingin mengulanginya dan tak membuat kesalahan yang sama. Jika tidak, satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah berdamai dengan masa lalu itu, memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan itu, dan terus melanjutkan hidup..

 

Pengarang: Mitch Albom
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 245 lembar
Cetakan pertama, Desember 2007

Advertisements

One thought on “For One More Day

  1. Pingback: Have A Little Faith « aning jati's blog

Comments are closed.