Honeymoon with My Brother

Buku ini sudah teronggok berbuan-bulan lamanya bersama buku-buku lainnya sejak aku membelinya di Yusuf Agency dengan harga hanya 20 ribu. Aku pernah membacanya tapi dengan metode ‘ouick read’. Jadi sesuai istilah itu, aku hanya membacanya sambil lalu. Kali ini aku kembali membacanya, dengan cara  ‘benar’..

Begini resensi buku ini seperti yang tertera di cover belakang:

Apa yang akan Anda lakukan jika tunangan Anda mencampakkan Anda menjelang pesta pernikahan saat semua undangan telah disebar dan sebagaian tamu tengah berada dalam perjalanan ke kota Anda?

Kehidupan Franz Wisner seolah-olah hancur berantakan ketika tunangannya yang telah dipacarinya selama sepuluh tahun memutuskan hubungan seminggu sebelum hari pernikahan mereka. Dengan pesta pernikahan dan bulan madu yang telah siap menanti, ada dua pilihan yang tersedia baginya: membatalkan semuanya atau menjalankannya tanpa mempelai wanita. Didukung oleh adiknya, Kurt Wisner, dan para sahabatnya, Franz yang nyaris putus asa mengambil pilihan kedua.

Bulan madu yang awalnya dianggap sebagai gurauan untuk meringankan beban hati, ternyata berubah menjadi pengalaman luar biasa. Franz dan Kurt, dua bersaudara yang semula merasa saling terasing menemukan kembali jati diri dan keintiman mereka. Keduanya kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan mereka, menjual rumah mereka, menyumbangkan pakaian dan perabot mereka, membuang ponsel dan penyeranta mereka, lalu pergi bersama mengelilingi dunia.

Setelah berpetualang selama empat tahun dan menyinggahi lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia, hubungan mereka justru semakin erat. Franz yang semula patah hati akhirnya menemukan kembali makna hidup yang baru.

Perjalanan mereka pun berubah menjadi sebuah cara baru menikmati hidup. Dari alam liar Amerika Latin hingga Eropa Timur dan Timur Tengah, dari Afrika hingga Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, setiap petualangan baru membawa mereka ke tempat-tempat yang lebih unik dan menarik, diwarnai aneka kisah seru yang mereka alami.

Lucu, menyentuh, dan sekaligus sangat menghibur, buku ini bakal memancing hasrat bepergian Anda. mengikuti kedua bersaudara itu sedikit demi sedikit menanggalkan setiap rutinitas harian mereka dan hidup bebas merdeka, mau tak mau Anda berharap dapat melakukannya juga…

Ya, ya, dan ya.. Aku berharap dapat melakukan seperti yang dilakukan Franz dan Kurt. Just leave those things behind and explore this planet. Tapi, aku tak yakin bisa punya keberuntungan dan keberanian seperti dua kakak beradik itu. Perjalanan keliling dunia, siapa yang tak mau melakukannya?

Tapi ketika kita memutuskan untuk meninggalkan semua yang sudah kita peroleh; pekerjaan, rumah dan segala isinya, dengan kata lain, hidup kita selama ini demi mendapat makna hidup baru, sanggupkah kita melakukan itu? Bukan keputusan mudah. Hanya jika kita punya alasan yang benar-benar kuatlah yang mungkin bisa membuat kita melakukannya.

Dan lebih sedikit lagi orang yang mau berbagi kisah hidup mereka, petualangan mereka, menuliskannya dalam bentuk buku, dan meledak di pasaran, hingga (akan) difilmkan.. 🙂

Aku jadi ingat pernah bertemu dan mengobrol singkat dengan seorang ‘seperti’ Franz. Aku menyebutnya mirip, karena ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, meninggalkan rumahnya di New York untuk melakukan perjalanan ‘singkat’ ke wilayah Asia Tenggara selama enam bulan. Semua negara di Asia Tenggara sudah disinggahinya.

Well, skalanya masih jauh dari si Franz ini. Apalagi karena ia tak menuangkan kisah perjalanannya dalam bentuk buku dan, perjalanan seperti bule yang satu hostel denganku sewaktu aku menginap di Kuala Lumpur itu, juga banyak dilakukan bule lainnya.

Tapi kisah hidup Franz ini sangat menarik untukku. Karenanya aku begitu terhanyut saat membaca buku ini. Secara sampai detik ini aku tak yakin bisa keliling dunia, bahkan Asia Tenggara sekalipun, maka cerita perjalanan Franz dan Kurt bisa memberiku pencerahan. Mengetahui lokasi-lokasi baru di banyak negara di berbagai benua dari sisi lain-dengan segala informasi yang menyelimutinya-, tentu saja dari sudut pandang sang pengarang. Cukup informatif.

Juga sangat menarik bagaimana pendapat mengenai negara kita dari perspektif mereka. Agak deg-degan juga (lebai) membaca seperti apa kesan mereka terhadap Bali, Lombok, dan Pulau Komodo. He he he mestinya pejabat-pejabat yang mengurusi pariwisata kita membaca bagian ini. Jadinya mereka tahu bagaimana mengelola potensi wisata dengan lebih baik.. 🙂

Kembali ke buku, aku juga mendapat pelajaran berharga dari buku ini dengan menyelami pikiran-pikiran Franz setelah mengalami suatu kejadian dalam perjalanannya. Tak membutuhkan suatu peristiwa ‘besar’ bagi Franz untuk mendapatkan lessons of life-nya. Dan semuanya itu diceritakan dalam tulisan yang ‘ringan’. Kita tak perlu mengernyitkan dahi tanda kebingungan atau pun bosan saat membaca buku ini, hal yang kadang kita jumpai ketika membaca buku bergenre ‘kisah nyata’.

Aku yakin kisah ini kenyataannya jauh lebih ‘spektakuler’ dari apa yang tertulis di buku. Kisah perjalanan selama hampir dua tahun (di resensi empat tahun), puluhan negara di empat benua tentu tak akan muat jika semuanya dimasukan dalam sebuah buku. Tapi paling tidak kita sudah mendapatkan penggambaran yang baik melalui 484 lembar halaman di buku ini. Menurutku buku ini benar-benar sangat inspiratif, menghibur, dan lucu.

Satu hal lagi, ketika membaca buku ini pikiranku mengembara mengikuti alur cerita. Wish i were there, begitu… Buku ini tidak MEMANCING hasrat bepergianku (seperti tertulis di resensinya), karena, aku SEMAKIN ingin bepergian usai merampungkan membaca buku ini 🙂

Pengarang: Franz Wisner
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Halaman: 484 lembar
Cetakan kelima, Juni 2009

Advertisements