Phi Phi Island yang Menawan

numpang duduk aja musti bayar

Phi Phi Island. Salah satu tempat di bumi ini yang saya angankan bisa saya datangi secara saya, seperti kata teman yang sehobi, ‘beach hunter’ 🙂 Berawal dari sekedar browsing melihat-lihat gambarnya di internet, saya setengah mati pingin kesana. Masa itu saya pun tak tahu kapan bisa benar-benar mengunjunginya.

Tapi, namanya rejeki tak akan kemana. Semua sudah diatur olehNya. Atas kemurahanNyalah saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Phuket-Patong, dan menjelajahi Phi Phi Island. Semua penantian saya seakan terbayar lunas saat melihat dengan mata kepala sendiri dan merasakan indahnya Phi Phi Island.

Seperti yang sudah saya tulis dalam postingan sebelum ini, saya dan seorang teman maen ke Sin-KL-Phuket. Singapura dan Kuala Lumpur, seperti yang dibilang teman saya itu, bisa dibilang bonus lantaran tujuan utama kami adalah ke Phuket dengan Phi Phi Island-nya. Karena itu, tulisan ini akan saya fokuskan pada tur Phi Phi Island yang saya ikuti agar tak melebar kemana-mana:)

Dengan membayar 1200 bath/orang atau sekitar 360 ribu, saya menjelajah Phi Phi Island full day dengan sebuah speedboat. Saya dan teman dijemput di depan hostel kami di Patong untuk selanjutnya bergabung bersama wisatawan lain yang satu rombongan dengan kami menuju Rassada port.

khai nokDi sana ternyata sudah banyak wisatawan yang menantikan giliran keberangkatan. Sebelum berangkat kita bisa menikmati jus atau kopi yang disediakan pihak penyedia jasa tur. Sambil ngopi, peserta rombongan dibagikan semacam pita dengan warna sama untuk dipakai selama tur. Tujuannya kata sang guide, biar kita tahu siapa teman kita dalam satu rombongan. Jadi ndak salah masuk speedboat lain wkwkw..

Akhirnya speedboat yang akan membawa kami berwisata ke Phi Phi Island datang juga. Nama yang tertera pada dindingnya, Angel Sea. Jadilah kami satu rombongan sekitar 20 orang dari berbagai negara melaju menuju objek pertama dengan Angel Sea. Khai Nok Island menjadi tujuan pertama kami.

Dari kejauhan saya sudah bisa melihat betapa pulau ini sangat menggiurkan. Terlalu girang, tanpa membuang waktu begitu turun dari speedboat saya langsung berenang. Lautan yang biru dengan gradasi warnanya yang indah, bening, pasir putihnya yang lembut dan bersih memikat saya dengan sempurna. Setelah berenang lebih dari 15 menit, saya baru nyadar ada sesuatu yang mengganjal di saku celana. Eeh? Ternyata handphone saya ikut berenang bersama dan mati dengan suksesnya he he he hiks.

Berlagak snorkling, tapi alatnya kegedean semua, saya akhirnya memilih berenang dan bermain air di pinggiran saja. Siapa pula yang butuh snorkling sampai agak ke tengah jika dipinggir-pinggir saja sudah begitu banyak ikan warna warni mendatangi kami? Jadinya berasa seperti di tempat terapi ikan. Banyak ikan mengerubuti kami. Bedanya, ini di lautan lepas gitu. Asyik! Saya sukaa dengan pulau ini.. Bagus banget.

Di Khai Nok ini penyedia jasa tur menyediakan buah-buah segar khas daerah tropis seperti pepaya, semangka, juga air mineral pada kami peserta rombongan. Lumayanlah.. Wisatawan bule banyak yang memanfaatkan waktu dengan berjemur juga snorkling. Keadaannya yang relatif tenang karena tak terlalu ramai wisatawan membuatku betah berlama-lama disini. Sayangnya kami harus meneruskan perjalanan ke objek berikutnya.

bisa kesini jg akhirnya..

bisa kesini jg akhirnya..

Selama sekitar satu jam kami berada di pulau ini, perjalanan dilanjutkan menuju Maya Bay. Yup, lokasi yang terkenal sejagat berkat film The Beach itu. Memasuki ‘celah’ Maya Bay, sungguh menjadi pengalaman indah. Hati terasa berdebar-debar entah kenapa, mungkin saking senangnya? *lebai. Saya membuktikan ucapan guide kami bahwa mustahil bisa mengambil foto dengan latar belakang Maya Bay yang sepi. Objek wisata yang satu ini tak pernah sepi dikunjungi wisatawan. Seperti saat saya disana, ramenyaa… Terpaksa deh foto dengan latar belakang celah Maya Bay-nya mesti berbagi dengan wisatawan lain..

kesana ato kesini sama asyiknya ;0

kesana ato kesini sama asyiknya ;0

Disini juga terdapat semacam hutan kecil. Dengan gagah berani saya dan teman menembus ‘hutan’ kecil ini hingga sampailah kami pada semacam ‘danau’ kecil yang memiliki akses langsung ke lautan lepas. Ada semacam gardu pandang disini. Untuk sampai ke sana kami perlu melewati karang-karang yang lumayan tajam dan deburan ombak yang sewaktu-waktu bisa menghempas kami.

Pantang menyerah, kami sampai juga di atas. Viewnya? lautan hijau transparan dengan di atasnya kapal yang membawa para wisatawan dan terlihat sejumlah bule snorkling di beberapa spot. W.o.w.

Angel Sea membawa kami ke spot berikutnya. Ternyata, lokasinya dekat dengan Maya Bay. Mungkin hanya di sebaliknya Maya Bay? ya kira-kira seperti itulah. Namanya Loh Sama Bay. Kami hanya berputar disini, melihat dari atas speedboat kejernihan air laut, juga barisan bukit karangnya.

Lalu sampailah kami di Pi-Leh Lagoon. Saya seakan ‘meledak’ disini. Disambut laut dengan airnya yang begitu tenang, hijau bening dan transparan, saya sekuat tenaga berusaha tidak mencemplungkan diriku di sana. Hanya satu yang menahan saya tidak terjun bebas. Hmmm..,lautnya dalam, jadi agak keder gitu. Dengan modal kemampuan renang pas-pasan, say tak mau mempermalukan diri seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Itu pikiran saya saat itu. Akhirnya, saya cukup menonton para wisatawan lain yang terjun bebas, snorkling sekitar 15 menit di tempat ini. Keputusan yang saya sesali sampai detik ini! (Bagaimana saya bisa melewatkan kesempatan berenang di tempat terindah yang pernah saya datangi?)

Wisatawan bule yang satu rombongan dengan kami memang lihai kemampuan renang dan snorklingnya. Saat diberikan kesempatan terakhir untuk snorkling sebelum sampai di Phi Phi Don, mereka tak menyia-nyiakannya. Saya? Lagi-lagi cukup puas dengan melihat ikan-ikan dengan corak warna unik yang berada di sekitar speedboat. Laut yang jernih membuat kami bisa melihat mereka dengan jelas.

Dalam tur ini kami juga mengunjungi Viking Cave, semacam gua dimana terdapat sarang burung walet. Kami juga berhenti sejenak di Monkey Beach. Disebut Monkey Beach karena banyak kera bergelantungan di atas pohon-pohon yang berada persis di bibir pantai.

makan siang enak

makan siang enak

Tur Phi Phi Island diakhiri di Phi Phi Don. Pulau terbesar dan teramai di kawasan Phi Phi Island. Ada banyak hotel dengan berbagi kisaran harga disini. Tanda-tanda tempat ini pernah terkena tsunami nyaris tak lagi terlihat. Kami menikmati jamuan makan ala Thai food disini dengan model prasmanan. Tom Yam-nya enak hehe secara aku laper banget. Saya dan teman berniat ke tugu peringatan bencana Tsunami, tapi ternyata tugu itu berada di bukit yang jaraknya lumayan jauh. Karena waktu di Phi Phi Don tak lama, ya sudah kami tak jadi kesana.

Saat perjalanan pulang menuju Rassada port, tak henti-hentinya saya bersyukur akhirnya kesampaian juga bisa menyambangi kawasan wisata ini. Tapi dalam hati kecil, saya merasa seperti ‘mengkhianati’ bangsa ini. Indonesia, sebagai negara kepulauan punya buanyak tempat wisata yang tak kalah indahnya seperti Wakatobi, Kepulauan Derawan, Kepulauan Babel, hingga Rajaampat. Tapi kenapa saya malah kesini dulu? he he alasannya sudah jelas. Biaya untuk ke Phuket-Phi Phi Island dengan estimasi pos-pos pengeluaran yang sama, jauh lebih sedikit dibanding saya terbang ke Wakatobi, Bunaken, bahkan Rajaampat. So semoga lain waktu ada rejeki yang lebih besar yang bisa membawa saya mendatangi laut-laut indah khususnya di wilayah timur Tanah Air tercinta. 🙂

Note: untuk foto-foto (ala kadarnya) bisa diliat flickr-ku yaa 🙂

Advertisements