Bakmi (godog) ‘Pak Muslim’

dari luar

Tampak warung bakmi dari luar

Ternyata, kondisi perut lapar cukup membantu ketika saya membuat tulisan tentang makanan. Rasanya semuanya mengalir begitu saja seiring bayangan lezatnya makanan itu di pikiran… Tak enaknya, sesudah menyelesaikan tulisan, saya akan semakin laparrr dan ingin sekali menikmati makanan itu!

Tulisan yang saya buat saat perut lapar kali ini adalah soal Bakmi Pak Muslim. Hu hu hu belum apa-apa sudah terbayang enaknya bakmi itu…

Sama seperti Bakso Muncul, bakmi ini juga punya nilai historis tinggi bagi saya dan keluarga. Sudah sejak bertahun-tahun lalu kami menjadi pelanggan tetap bakmi ini. Sebenarnya, dulu, kami pelanggan setia Bakmi Pak Prapto, yang tak lain tak bukan adalah ayah mertua Pak Muslim.

Jadi sejarahnya, awalnya Pak Prapto inilah yang membuka warung bakmi dan nasi goreng. Letaknya di daerah Kemuning, Purworejo. Saat itu saya masih imut pokoknya. Tiap kali kesana mesti antri. Terus, warungnya pindah di depan Hotel Raya. Disana pengunjungnya semakin banyak. Seingat saya, kami pernah ngantri hingga satu jam lebih sampai pesanan datang. Nunggunya bisa sampai ditinggal tidur gitu deh saking lamanya. Begitu pesanan datang, langsung disikat! Tak sebanding dengan nunggunya… Tapi, jelas sebanding dengan kenikmatan cita rasa yang kami dapatkan.. 🙂

mie godog super enak

Nah semakin kesini, usia Pak Prapto semakin sepuh dan beliau ini mewariskan keahlian memasaknya pada putra-putrinya. Kini di Kota Purworejo terdapat beberapa cabang Bakmi Pak Prapto. Salah satunya ya Bakmi Pak Muslim ini. Letaknya di depan Purworejo Plaza.

Keistimewaan bakmi ini (bakmi godognya) terletak pada penggunaan kecap yang membuat kuah bakminya berwarna coklat menggiurkan. Jarang-jarang ada mie godog berwarna coklat. Kebanyakan yang saya tau, terutama bakmi godog di daerah Solo, Yogya, Klaten, bakminya itu ‘putih’, meski sama-sama berstatus sebagai ‘bakmi jawa’ yang konon salah satu cirinya dimasak di atas anglo berbahan bakar arang.

Saya sudah mencicipi bermacam-macam bakmi dengan rasa mereka masing-masing, tapi, dengan semangat aku mengatakan, Bakmi Pak Muslim inilah bakmi yang terenak. Subjektif? jelas he he he.. Tapi coba sajalah, mesti setuju dengan saya…

menu andalan lainnya..

menu andalan lainnya..

Selain kuah bakminya berwarna coklat, mie-nya juga berbeda dengan mie yang dipakai oleh penjual bakmi lain. Dulu setau saya mie yang digunakan mie cap ‘Kodok’. Mie itu harus direndam dulu sebentar dalam air panas sebelum dimasak. Tambahan potongan daging ayam dan telur di dalam masakan membuat bakmi terasa manis dan gurih. Apalagi, sayurannya (baca: kobis) dimasak tidak terlalu matang, jadi masih terasa kriuk kriuk-nya. Dengan ditaburi merica halus, membuat Bakmi Pak Muslim ini tiada duanya.

Sebulan tak kesana kayaknya sudah terlalu lama bagi saya he he he… Disini ukuran perporsinya relatif banyak. Mungkin bagi cowok-cowok sanggup menghabiskan satu porsinya dengan santai. Tapi untuk yang wanita bisa saja menghabiskan itu tapi jika perut dalam kondisi sangat lapar. Jika tidak, mending dibagi saja. Biasanya saya pesannya, satu porsi dibagi dua atau dua porsi jadi tiga porsi.

Sekarang meski peminat bakmi ini sangat banyak, namun pelayanannya tak lamaaaa seperti dulu. Ya kalaupun lama masih bisa ditolerirlah. Soalnya ada dua orang yang masak. Pak dan Bu Muslim. Yang Pak Muslim spesialis nasi goreng sementara istrinya bagian bakmi goreng dan bakmi godog. Sudah begitu, mereka memasaknya tidak perporsi, melainkan langsung bisa jadi dua atau tiga porsi sekaligus. Tertarik mencicipi? Harga satu porsi per Juli 2010 adalah 12 ribu. Jam buka mulai pukul 17.30an WIB-malam.

tak kalah enaknya..

tak kalah enaknya..

 

Bakmi godog ‘saingan’:
-Bakmi Wates (Perlimaan Karangnongko Wates, KP)
-Bakmi ‘Mbah Hadi’ di terminal Terban, Yk
-Bakmi Mbah Mo, Bantul

Advertisements