Dinginnya Dieng Sampai ke Tulang

Dieng berada di 2093 dpl. Sesuai ketinggiannya, suhu udara disini menurut saya cukup dingin. Padahal kami ke sana sekitar akhir Oktober yang katanya bukan bulan dingin untuk Dieng. Bulan dingin Dieng sekitar Juli-Agustus. Niat ke Dieng untuk mencari udara sejuk ternyata dapat bonus kedinginan he he..

Sebenarnya saya tak merencanakan jalan ke Dieng. Rencana awal bersama seorang teman adalah menyambangi Karimunjawa. Tapi karena satu dan lain hal, kami terpaksa mengubah rencana itu, dan sebagai gantinya memilih Dieng sebagai destinasi kami.

Berangkat dari rumah di Purworejo, Dieng terasa tak begitu jauh. Saya, seorang teman, dan bapak (iya bapak ikut dalam perjalanan ini:) naik minibus jurusan Purworejo-Wonosobo, dan berganti minibus di Wonosobo untuk selanjutnya ke Dieng juga dengan moda minibus umum. Total pengeluaran untuk ongkos transportasi berangkat hanya 20 ribu, dengan perincian 12 ribu untuk ongkos Purworejo-Wonosobo, dan delapan ribu ongkos Wonosobo-Dieng.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam kami sampai di Dieng sekitar pukul 11.00 WIB. Begitu turun dari minibus, udara dingin langsung menyambut kami.  Saat itu badan saya masih bisa menerimanya dengan baik. Kami lantas menyewa kamar di penginapan Bu Jono, tak jauh dari tempat kami turun dari minibus. Rate-nya 100 ribu/malam. Fasilitas dua bed double, kamar mandi dalam dengan hot water, tv, tanpa AC (he he ngapain juga butuh AC di sini). Di penginapan ini juga menyediakan makanan. Kalau tak ingin susah mencari makanan sendiri, bisa pesan di sini.

Urusan penginapan beres, kami lalu memutuskan untuk segera memulai mengunjungi spot wisata. Pengelola penginapan yang mencium gelagat kami kemudian menawari untuk menggunakan jasanya sebagai guide. Awalnya kami hanya berniat menyewa sepeda motor sebagai moda kami mengelilingi Dieng.

Tapi entah karena tawaran menggebu-gebu pengelola penginapan, atau karena kami memang butuh orang yang bisa mengantar kami ke lokasi-lokasi wisata yang ada, jadilah kami ‘menyewanya’. Sesuai perjanjian, kami mendapat dua sepeda motor, plus jasa guide-nya untuk dua hari. Total ongkosnya 250 ribu untuk tiga orang. Akhirnya pada hari pertama di Dieng kami melaju menuju;

1. Kawah Sileri.
Saya memboncengkan teman, dan bapak diboncengkan mas guide (aku lupa namanya xixi). Disini kami hanya sebentar, kemudian meneruskan perjalanan ke objek kedua.

2. Objek kedua masih berupa kawah, yakni kawah Candradimuka.
As we know, objek wisata di Dieng secara garis besar terbagi menjadi tiga macam; kawah, candi, dan telaga. Untuk menikmati view Kawah Candradimuka kami harus berlelah-lelah karena jalan menuju lokasi berbatu-batu dengan medan mendaki menyulitkan jika motoran sampai disana. Terpaksalah kami menitipkan motor di bawah dan naik dengan berjalan kaki sejauh hampir 6 km pulang balik. Ooh benar-benar menguji fisik. Perjalanan serasa tak kunjung sampai hehe.. Maklum saja, fisik kami sebelumnya tak dipersiapkan untuk kondisi seperti ini. Perpaduan jalan mendaki, berbatu, dan suhu dingin membuat teman saya sempat mimisan. Untung saja waktu itu kami sudah hampir mendekati lokasi. Setelah menikmati view, motret-motret, dan beristirahat secukupnya, kami pun kembali. Yaah jalan lagi…

3. Objek ketiga yang kami kunjungi bernama Sumur Jalatunda.
Bagiku ni sumur terlihat bukan seperti sumur, melainkan seperti telaga mati. Habis gede gitu, masak dibilang sumur hehe.. Airnya hijau gelap. Menurut mas guide, sumur yang aslinya merupakan kawah mati yang kemudian terisi air ini banyak mitosnya. Yang paling tenar adalah jika seseorang bisa melempar batu hingga ke seberang ‘sumur’ maka apa yang menjadi keinginannya bisa terkabul. Kami pun tertantang untuk melakukan hal itu karena termakan ‘provokasi’ mas guide yang menawari kami untuk mencoba. Hasilnya, tentu saja kami gagal hehe.. Mungkin jika melempar batunya dibantu katapel, lain ceritanya:)

4. Usai Sumur Jalantunda kami kemudian mengunjungi sebuah sumber mata air.
Jaraknya sekitar 6 km dari Sumur Jalatunda. Jalan menuju lokasi naik turun dan berliku. Beruntung kondisi aspal jalan relatif mulus. Setelah memarkir motor di pinggir jalan, kami langsung berjalan kaki sekitar 150 meter menuju sumber mata air tersebut. Lokasinya cocok buat berendam dan bermain air. Ingin rasanya menceburkan diri di salah satu kolam penampungan air panas disana. Tapi mengingat saya tak membawa pakaian ganti, dan juga udara sangat dingin, keinginan itupun saya tepiskan.

5. Telaga Merdada menjadi tujuan kami berikutnya.
Di objek kelima ini selama berada di sana kami ditemani angin besar. Huuaaa asli dingin banget sampe tak betah rasanya hanya diam saja. Inginnya tubuh ini selalu bergerak agar tak terlalu dingin. Mana kostum saya mepet banget untuk mengantisipasi udara dingin Dieng. Telaga Merdada ini merupakan telaga terbesar di kawasan Dieng. Saat itu kami melihat dari gardu pandang dari atas. Dari gardu pandang ini kami bisa juga melihat pemandangan di sekeliling Telaga Merdada. Keren!

Setelah mengunjungi Telaga Merdada ini kami pulang ke penginapan mengingat hari sudah beranjak sore. Perjalanan kurang lebih 10 KM saya tempuh dengan susah payah. Bukan karena terkendala kondisi motor atau jalan, melainkan saya harus berjuang dengan udara dingin yang benar-benar membuat tubuh kaku. Tangan yang memegang stang motor serasa mati, sulit digerakan. Baru kali itu saya merasakan dingin hingga terasa ke tulang-tulang (lebai). Saking tak kuatnya, gigi sampai bergeletukan sendiri. Jaket yang saya kenakan sama sekali tak mampu menghalau rasa dingin.

Setelah melalui perjuangan (hayah) akhirnya sampai juga kami di penginapan. Meski kedinginan, ritual mandi tetap saya jalankan (iyalah masak ndak mandi wkwk). Malamnya, harapan saya tidur nyenyak tak bisa terwujud. Angin besar yang saya rasakan di Telaga Merdada ternyata juga menerpa di sekitar penginapan malam itu. Bunyi seng yang bergoyang diterpa angin keras menganggu tidur saya. Belum lagi ada nako di jendela yang pecah membuat angin masuk ke kamar. Dinginnya jangan ditanya. Selimut tebal dan jaket yang membalut tubuh tak bisa mengobati rasa dingin itu. Huuhuu.. Tak bisa tidur nyenyak ternyata ada untungnya juga. Saya tak kesulitan bangun karena sesuai rencana kami harus bangun pagi-pagi mengejar sunrise. Maka dimulailah wisata kami di hari kedua;

6. Menyaksikan sunrise di Bukit Sikunir.
Pagi buta kami melangkah dari penginapan menuju lokasi pertama hari kedua jalan-jalan kami di Dieng. Di sepanjang jalan kami menjumpai pohon-pohon yang tumbang. Ternyata, angin yang semalaman menemani tidur kami memang cukup besar hingga memakan korban pohon-pohon. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit. Untuk mencapai spot menonton sunrise, kami harus naik ke atas bukit. Jadilah kami menaruh motor di bawah dan mulai berjalan mendaki.

Pada awalnya saya yakin mampu mencapai lokasi. Tapi ternyata saya kehabisan nafas. Sama seperti teman yang kedodoran ketika menuju ke Kawah Candradimuka, saya merasa nafas semakin cepat dan pendek. Saya merasa tak sanggup lagi melangkah. Akhirnya saya memutuskan beristirahat sebentar, dan melanjutkan jalan dengan pelan-pelan. Dengan semangat yang masih tersisa saya berhasil juga sampai di lokasi menyaksikan sunrise. Indah sekali:)

Sebenarnya mas guide mengajak kami menuju satu tempat lagi yang lebih baik untuk menikmati pemandangan matahari terbit. Namun karena lokasinya mengharuskan saya berjalan naik lagi, saya menyerah. Sudah, di sini saja sudah indah, pikir saya. Kami pun turun setelah matahari beranjak meninggi. Oya pemandangan di bawah Bukit Sikunir ini sangat bagus. Dengan perbukitan serta danau di kanan dan kiri membuat perjalanan Bukit Sikunir menjadi tak terlupakan.

7. Tujuan kedua hari kedua adalah kawah Sikidang.
Dinamakan kawah Sikidang konon karena semburan air di dalam kawah senantiasa berpindah-pindah dan melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain seperti Kidang. Bau belerang menyambut kedatangan kami di kawah aktif yang bisa kita saksikan dari jarak dekat ini. Karena masih aktif, uap panas selalu menyembur tanda air kawah mendidih dan bergejolak. Karena masih pagi, situasi disini masih relatif sepi saat kami datang. Asyik, bisa bernarsis sepuasnya hehe

8. Telaga Warna menjadi tujuan berikutnya.
Salah satu objek ternama ketika mengunjungi Dieng adalah Telaga Warna. Namun ketika kami berada disana dan mengambil beberapa foto, ‘warna’ pada telaga itu tak terlalu terlihat. Tapi tak apalah yang penting kami tetap bisa berfotoria dengan background Telaga Warna:) Sisa-sisa angin besar semalam juga kami temukan disini. Beberapa pohon di lingkungan ini bertumbangan.

Beberapa objek lain yang berada di sekitar Telaga Warna seperti Telaga Pengilon dan beberapa gua (seperti gua semar, gua sumur, gua jaran) tak sempat kami jelajahi (lebih tepatnya memang tak ada keinginan kesana). Kami pun mengarahkan motor ke arah objek lain. Kali ini wisata candi menjadi tujuannya.

9. Candi Bima
Lokasi Candi Bima ini tak jauh dari Telaga Warna. Sama seperti ketika kami berada di kawasan kawah Sikidang, saat di Candi Bima ini langitnya juga bagus sekali. Biru bersih gitu. Hmmm cocok sangat untuk foto narsis hehe.. Candi yang relatif masih utuh ini adalah candi terbesar di Dieng yang berdiri sendiri. Berdiri sendiri disini karena bangunan candinya benar-benar sendirian. Tak seperti beberapa candi lain di Dieng yang mempunyai rekan lain dalam satu kompleks.

10. Objek terakhir yang kami kunjungi di Dieng adalah komplek Candi Arjuna.
Karena hari masih pagi, udara disini sangat segar. Bisa menghirup udara sepuasnya wkwk Disebut kompleks candi karena dalam satu lokasi ini sebenarnya terdapat beberapa candi. Namun sayangnya sekarang hanya sekitar empat candi yang masih relatif berdiri. Empat candi itu posisinya berjejer dari utara ke selatan. Di sekeliling candi terdapat hamparan rumput hijau.. Bisa tidur-tiduran di rumputnya soalnya masih sepi ketika kami disana xixi.. (beranggapan itu rumputnya stadion Olimpico di Torino sana wkwk)

Akhirnya setelah menikmati pesona objek-objek wisata tersebut kami kembali ke penginapan. Usai beristirahat sejenak, dan mandi, kami pun check out dari penginapan untuk turun gunung ke Wonosobo. Kami berhenti di toko oleh-oleh untuk membeli jajanan khas Wonosobo seperti carica dan jamur goreng. Udara dingin sudah tak lagi kami rasakan berganti kembali dengan udara panas nan gerah.

Sebelum kami meninggalkan kota Wonosobo, teman saya punya ide untuk menjajal makanan khas lainnya, yakni mie ongklok. Kami lantas menuju warung mie ongklok Pak Muhadi (kalau aku ndak salah ingat) dengan naik delman alias dokar. Kata teman saya mie ongklok Pak Muhadi ini cukup ternama di sini. Kebetulan sekali lokasinya berdekatan dengan jalur minibus yang akan membawa kami pulang ke Purworejo.

Advertisements