Romantisme Kota Seribu Lentera

Malam hari itu juga, saya sudah dibuat jatuh hati dengan Hoi An. Saya begitu menikmati makan malam di sebuah warung makan yang terletak di tepi sungai. Bukan hanya karena saya lapar, tetapi karena saya begitu tertarik dengan suasana di warung makan yang terbilang sederhana namun dihiasi banyak lampion itu. Letak warung makan ini berada di tepian sungai di pusat Kota Tua Hoi An. Pada malam hari, tepian sungai jadi tujuan utama wisatawan. Di situ banyak berjejer restoran yang menyajikan berbagai menu dengan konsep serta kisaran harga berbeda. Silakan pilih sesuai selera.

Resto, cafe, warung makan, apa pun sebutannya itu, juga buka pada siang hari. Tetapi suasana malam hari Hoi An tak sama seperti yang terlihat saat siang hari. Hoi An di malam hari penuh dengan cahaya lentera. Hampir di setiap sudut Kota Tua; warung makan, toko, penginapan, dihiasi dengan lampion.

Tak heran, Hoi An punya julukan sebagai Kota Seribu Lentera. Cahaya yang berpendar dari lampion dengan berbagai ukuran, bentuk, serta warna itu terasa menyemarakan Hoi An yang tenang. Cobalah duduk santai sambil mengamati aktivitas di sekeliling di mana Anda berada. Hoi An di waktu malam akan menawarkan kita sebuah rilaksasi yang pantang dilewatkan.

Atau, Anda juga bisa menelusuri lagi jalan-jalan sempit yang bisa jadi sudah kita lewati saat siang hari. Sekali lagi, suasana malam Hoi An tidak akan mengecewakan. Ibarat gadis cantik yang bersiap menanti sang kekasih hati, setelah matahari tenggelam, Hoi An juga mandi dan bersolek untuk menyambut tamu yang mungkin sudah letih setelah seharian menjelajah kota.

Toko-toko yang menjajakan cenderamata khas tampak berbeda dari siang hari. Jangan lupa kunjungi pula Pasar Malam. Di sana kita bisa mendapatkan pernik-pernik untuk suvenir dengan harga lebih miring. Ada pula deretan toko yang menjual lentera beraneka ragam. Bagi pecinta fotografi, deretan toko lampion ini pasti akan jadi objek menarik.  Anda bisa pula menyaksikan kesenian tradisional yang dimainkan di beberapa lokasi. Saya sempat ikut melihat. Meski tak mudeng, oke-oke saja larut dalam kerumunan penonton:)

pic by akbar gumay

Ada aktivitas berbeda yang bisa dilakukan. Yakni menyusuri Hoi An River dengan menggunakan sampan yang didayung penduduk lokal. Durasinya kira-kira 30 menit. Untuk jasa ini kita tak perlu merogoh kocek terlalu mahal apalagi jika dishare beberapa orang sekaligus.

Dari sampan kita bisa memandangi kerlip lentera yang dipasang di tiap bangunan dari kejauhan. Indah! Terus, agar lebih afdol, kita bisa “melarung” lilin yang dibungkus dalam sebuah kertas warna-warni berbentuk bunga lotus seperti yang menjadi ‘kebiasaan’ pelancong maupun penduduk lokal. Harganya tidak mahal, sekitar 5000 VND. Konon jika melakukan hal itu akan mendatangkan kebahagiaan, keberuntungan serta cinta dalam kehidupan kita. Jadi, jangan heran apabila dari jauh kita melihat kerlip cahaya di atas sungai. Cahaya itu datang dari lilin yang masih menyala…

Malam itu, pak tua yang mendayung sampan kami bernyanyi sepanjang perjalanan. Tak jelas juga apa yang dinyanyikannya. Tapi, pikiran saya melayang, kok jadi berasa seolah di venesia dengan gondola-nya ya he he he…

Ada yang memasukan Hoi An dalam daftar kota teromantis di dunia seperti yang saya baca dalam sebuah artikel di majalah sepulang saya ke Tanah Air. Keromantisan Hoi An di malam hari memang begitu kuat. Bahkan ketika Anda datang tanpa pasangan sekalipun, Anda bisa merasakannya. Saya merasakan sendiri bersama Bapak dan sahabat-sahabat terkasih.

Itulah mengapa pada malam berikutnya kami memutuskan melakukan aktivitas yang sama, minus menaiki sampan. Kami juga memilih bersantap malam di warung makan yang sama seperti malam sebelumnya. Dan, di antara bangunan tua peninggalan berbagai kebudayaan serta menyantap makanan-minuman lokal yang menggoda indra pengecap, saya kembali merasakan daya tarik Hoi An setelah sang mentari tenggelam di balik peraduan; Sebuah ketenangan dibalut romantisme yang begitu memberikan rilaksasi. Sederhana namun mengesankan. That’s what i miss from Hoi An. <BERSAMBUNG>

Advertisements

4 thoughts on “Romantisme Kota Seribu Lentera

  1. Di venice 80 euro muter semuanya.bisa joinan 4 org.kalo muter cuma separo 40 euro.lama,bisa 2 jam.kadang macet saking banyaknya gondola.kalo malam bisa lebih mahal lg.
    pengen nyoba hoi an weh.apa ntar tak nggetek dewe ng bengawan.

    Like

    • mahalnyooo 80euro.. lha di hoi an itu cuma Rp2500-an hehehe…
      ayoo dicoba ke hoi an. sungaine persis bengawan solo, hanya jauh lebih bersih :p

      Like

Comments are closed.